Akar Nepotisme dalam Organisasi Kampus

Dari redaksi

Oleh: Rofingatun Hamidah*

Ilustrasi: Afif Fadhilah Iftiar

Beberapa hari yang lalu, saya mendengar cerita teman yang ditawari jabatan strategis untuk suatu organisasi. Tanpa melalui rangkaian rekrutmen yang seharusnya dilakukan, tentunya. Ia memang cukup aktif dan vokal terhadap isu-isu terkini, dan tentu saja memiliki jalinan relasi yang cukup kuat. Namun, ia sadar betul, apa yang sedang ia hadapi ini cukup meresahkan. Pasalnya, bukan hanya sekali itu saja tawaran datang dari organisasi yang sama, namun sudah berkali-kali. Ia kemudian menyebutnya sebagai praktik nepotisme.

Tentu saja, apa yang diceritakan teman saya ini tak hanya bualan belaka. Untuk orang-orang yang sering terlibat, jelas akan mengerti saya sedang membicarakan apa dan siapa. Sudah menjadi rahasia umum praktik semacam ini terjadi dan menggerogoti badan organisasi kampus. Saya sendiri, pernah mendapatkan tawaran dari seorang teman. Yang kemudian saya tolak baik-baik, dan menjelaskan duduk perkaranya secara singkat, padat, dan jelas. Saya tidak tertarik. Baik soal posisi tersebut, maupun praktik yang ditawarkan. Dari pengalaman inilah saya ingin mencoba memandang lebih jauh soal kedekatan relasi yang berujung pada nepotisme.

Jika boleh saya bilang, mereka yang sampai saat ini masih melanggengkan nepotisme dalam perekrutan anggotanya itu termasuk orang-orang munafik. Mereka boleh jadi menyerukan protesnya terhadap pemerintah yang morat-marit, tapi mereka sendiri tak sadar atas apa yang diperbuat. Apa bedanya mereka dengan orang-orang yang mereka kritik?

Jika kemudian kampus diibaratkan sebagai suatu model dari kehidupan di masa mendatang, saya setuju. Istilah “model” memang cukup pas untuk menggambarkan apa yang terjadi di kampus. Dunia kampus yang terdiri dari berbagai macam organisasi di dalamnya, berguna menggambarkan kepada mahasiswa bagaimana kehidupan nanti berjalan.  Terkhusus soal perpolitikan kampus.

Biasanya, terdapat organisasi mahasiswa dalam ranah eksekutif, seperti Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan organisasi ranah legislatif, seperti Dewan Legislatif Mahasiswa (DLM). Kedua organisasi ini biasanya menjadi penentu jalannya perpolitikan kampus, seperti kehidupan pada aslinya. Juga didukung oleh organisasi-organisasi ekstra kampus sebagai penyokong.

Kampus merupakan tempat untuk  membentuk diri, organisasi sedikit-banyak mengambil peran di dalamnya. Sejak awal, para mahasiswa memang sudah dicekoki kiat-kiat terkait organisasi kampus. Biasanya pada masa orientasi akan terdengar himbauan seperti, “Jangan jadi mahasiswa kupu-kupu (kuliah pulang-kuliah pulang) saja! Ikutlah satu-dua organisasi untuk mempersiapkan dunia kerja nanti”. Begitulah kira-kira, hingga kemudian dogma yang mahasiswa terima sejak awal ini diterapkan dalam hidup mereka.

Saya pun sering mendengar jawaban para mahasiswa baru ketika ditanya alasan mengikuti suatu organisasi. Jawabannya, tak jauh-jauh dari keinginan mendapat pengalaman dan juga relasi. Alasan-alasan ini memang tak sepenuhnya keliru. Dalam dunia kerja, pengalaman dan relasi menjadi hal yang masih diutamakan. Untuk urusan pengalaman, saya tak akan mempermasalahkannya lebih jauh. Namun, untuk alasan kedua, saya cukup penasaran dengan hal ini. Apakah relasi memang benar-benar dibutuhkan ketika seseorang sudah cukup mempunyai pengalaman yang mumpuni? Jawabannya masih terlalu normatif, bisa iya bisa tidak. Karena pada kenyataannya demikian, orang yang memiliki relasi dan privilese akan lebih diutamakan. Pengalaman, nomor dua-tiga saja, lah.

Maka tak heran jika kemudian praktik nepotisme masih tumbuh subur di mana-mana. Dalam opininya, Arya Achsan menyampaikan tujuan awal seseorang ketika masuk organisasi juga berpengaruh melanggengkan praktik nepotisme. Adanya pemikiran soal bagaimana relasi dapat menjadi “penolong” ketika masuk ke dunia kerja nanti, berarti secara tidak langsung mereka menyetujui sistem nepotisme tadi. Saya setuju dengan pendapat Arya ini. Jika sejak awal pola pikir mahasiswa sudah mengarah pada hal-hal pragmatis saja, tak menutup kemungkinan praktik nepotisme akan sulit dihilangkan. Karena akan terus mengakar dalam alam bawah sadar mereka. Suatu hal yang praktis, adalah baik dan menyenangkan.

Praktik nepotisme tak akan hilang begitu saja. Apalagi ketika yang menjadi model kehidupan pun tak bisa jadi tumpuan untuk menghentikan praktik nepotisme. Yang tersisa hanyalah kepercayaan moral yang semakin lama semakin menyusut. Akan sulit menemukan suatu kepercayaan pada sistem yang tak lagi adil bagi sesama. Hemat saya, cobalah selaraskan tindakan dengan apa yang selama ini disuarakan. Saya hanya cukup prihatin. Pada mereka yang masih memegang teguh kejujuran, pun mereka yang baru masuk dan tertipu janji manis ketenaran.


Editor: Alil Saputra 

*Penulis merupakan mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jenderal Soedirman tahun 2018

Related Posts

Tinggalkan Komentar Anda