Sejarah di Balik Sokaraja: Pernah Dijuluki “Galeri Lukisan Terpanjang Se-Asia Tenggara”

Oleh: Manda Damayanti Sokaraja sejak lama dikenal dengan getuk goreng manis dan soto hangatnya. Namun, siapa…

Nasi Darurat Purbalingga: Seporsi Nasi, Seporsi Kepedulian

Oleh: Rizqy Noorawalia Febryanni Di tengah linimasa media sosial yang didominasi hiburan, sebuah akun X @nasidaruratpbg…

Diskursus LGBTQ+ di Kampus: Sebuah Potret Keberagaman dan Kontroversi

Oleh: Ferry Aditya “Susah banget jadi orang kayak gitu (LGBTQ+-red) di Indonesia, karena belum seterbuka itu,”…

Perpustakaan Kampus: Saksi Bisu Tindakan Nir-etis

Oleh: Zaki Zulfian Sebuah unggahan di media sosial X atau Twitter pada akun @unsoedmfs menarik perhatian…

Produksi Tempe di Desa Pliken: Ragam Cerita di Setiap Butiran Kedelai

Oleh: Muhammad Robin Mubarok N. Lezat dan bergizi, tempe menjadi salah satu lauk andalan di meja…

Bawakan Inovasi, Ki Panji: Memayu Hayuning Bawan

Panji menjelaskan korelasi positif antara kegemarannya bermain wayang sejak usia empat tahun sampai akhirnya menjadi kaum totaliter dalam mempromosikan wayang. Sehubungan dengan hal itu, Panji juga menambahkan bahwa usahanya melestarikan wayang didasari oleh nilai-nilai filosofis, moral, dan historis yang ada di dalamnya. “Ilmu dalam dunia pewayangan sangat kompleks. Contohnya, kenapa wayang yang bisa digerakkan hanya tangan? Itu artinya nanti pas kita sudah meninggal, tangan yang berbicara. Anggota tubuh,” kata Panji.