Penulis: Ryu Athallah Raihan
Pernah mendengar nama majalah Rolling Stone? Namanya memang terdengar akrab, mungkin mengingatkan Anda pada band rock legendaris asal Inggris, The Rolling Stones, yang lahir pada awal 1960-an dengan sosok ikonik seperti Mick Jagger. Namun, Rolling Stone yang satu ini bukanlah band, melainkan sebuah majalah. Dulu, Indonesia pernah memiliki majalah bernama Rolling Stone Indonesia, sebuah media yang secara khusus membicarakan musik. Awalnya, Rolling Stone merupakan majalah asal Amerika Serikat yang sejak lama dikenal menulis tentang musik, politik, dan budaya populer.
Yang membuat majalah Rolling Stone menjadi menarik bukan sekadar karena topiknya, melainkan cara majalah ini memperlakukan musik. Lewat halaman-halaman majalah Rolling Stone, musik tidak hanya dibicarakan sekadar “enak” atau “tidak enak”. Album bisa diulas panjang, lirik dibedah, pesan dalam lagu dipertanyakan, bahkan mengulas cerita perjalanan di balik proses penciptaannya. Dengan cara itu, musik tidak berhenti sebagai hiburan semata, melainkan diperlakukan sebagai karya yang layak dipikirkan, bahkan diperdebatkan.
Saat ini mungkin kita hampir tidak pernah mendengar tentang “jurnalisme musik”. Namanya begitu asing, sampai-sampai kita seperti lupa bahwa jurnalisme tidak selalu berbicara tentang politik, konflik, atau peristiwa besar. Majalah Rolling Stone Indonesia yang terbit pada tahun 2005, Majalah Mtv Trax, serta majalah Trolley yang terbit di Bandung pada tahun 2000 seolah menjadi saksi bahwa jurnalisme musik pernah berkembang di Indonesia.
Sejarah musik di Indonesia sendiri mengalami perkembangan menyesuaikan dengan zamannya. Melansir laman kompasiana.com dan Universitas Katolik Parahyangan, bahwa perkembangan musik di Indonesia dapat ditilik melalui alat musik dan media yang tersedia pada zamannya, seperti era piringan hitam, era kaset, dan era digital.
“Lalu, bagaimana dengan genre musik di Indonesia?”
Belakang ini, lagu-lagu di Indonesia acapkali didominasi oleh genre yang bertemakan tentang cinta, patah hati, ataupun perasaan galau. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Annemieke van den Tol (2016) terhadap daya tarik lagu sedih, Ia menjelaskan bahwa setelah kebahagiaan, kesedihan merupakan emosi yang paling sering dikaitkan dengan musik.
Hingga tulisan ini dibuat, salah satu lagu yang menempati posisi teratas dalam Spotify Top Songs Indonesia adalah kota ini tak sama tanpamu oleh Nadhif Basalamah dengan jumlah lebih dari 10 juta stream. Secara data, temuan tersebut memang belum cukup untuk secara mutlak melabeli adanya dominasi suatu genre atau tema pada era sekarang. Namun demikian, kecenderungan genre atau tema dalam musik populer juga dapat kita lihat dari perkembangan zaman, karakter lagu yang diproduksi, serta profil penyanyi yang tengah naik daun pada suatu periode.
Seperti halnya di era 2020-an, penyanyi dan musisi seperti Bernadya, Hindia, Sal Priadi banyak menghadirkan karya dengan nuansa Indie, alternative pop, maupun folk yang menonjolkan lirik reflektif, emosional, serta pengalaman personal. Bahkan, belakangan ini muncul pula invasi genre “hipdut” (hip-hop dangdut) yang berhasil menarik perhatian publik dan turut mewarnai perkembangan industri musik populer di Indonesia.
Perkembangan Industri musik tentu tidak dapat dilepaskan dari perubahan cara masyarakat menilai dan mengonsumsi musik. Di era digital, teknologi dan media sosial memainkan peran besar dalam menentukan lagu mana yang menjadi populer.
Penelitian yang dilakukan oleh Mingyuan Chen dan Kim Hyun Tai dalam artikel The Dissemination of Social Media and Pop Music: Influence and Trends (2025) menunjukkan bahwa lagu-lagu yang mendapatkan engagement tinggi di media sosial, seperti TikTok atau platform streaming, cenderung menjadi semakin populer dan memiliki pengaruh besar terhadap keterlibatan audiens serta tren viral dalam musik.
Begitupun dengan selera musik masyarakat utamanya kaum muda masa kini. Pierre bourdieu, sosiolog asal Jerman, dalam karyanya Distinction: A Social Critique of the Judgement of Taste, menjelaskan bahwa taste atau selera adalah sesuatu yang dibangun dari konstruksi sosial dan tersegmentasi. Dengan kata lain, selera yang ada dalam masyarakat tidak sepenuhnya bersifat individual, melainkan terbentuk melalui perbedaan latar belakang sosial, pendidikan, serta media yang dikonsumsi.
Salah satu contoh yang dapat kita ambil adalah perkembangan musik underground yang beringinan dengan dinamika sosial di Indonesia. Dalam artikel Uncovering Cultural Capital in Indonesia’s Underground Music Scene: A Discourse, dijelaskan bahwa genre seperti punk, metal, dan rock dalam skena underground sering menjadi sarana kritik dan berekspresi terhadap kondisi sosial dan ketidakpuasan terhadap pemerintah, masalah ekonomi, maupun budaya kekuasaan.
Sedikit bercerita, mungkin Anda sebagai pembaca tidak familiar dengan nama Soleh Solihun. Namanya sempat menjadi sorotan warganet ketika ia ditunjuk sebagai juri dalam Indonesian Idol 2026. Di antara deretan juri, seperti Judika, Maia Estianty, Rossa, dan Bunga Citra Lestari, kehadiran Soleh Solihun kerap dipandang sebelah mata karena lebih dikenal sebagai aktor dan komika. Padahal, ia memiliki rekam jejak sebagai jurnalis musik dan pernah menjadi editor di majalah Rolling Stone Indonesia.
Dari sini, rasanya memang tak banyak yang mengetahui atau mempelajari jurnalisme musik di era sekarang. Selain kehilangan ruang di media, pembicaraan tentang musik juga semakin jarang dibahas secara mendalam. Banyak tulisan atau artikel tentang musik akhirnya hanya berhenti pada press release dari musisi, tanpa benar-benar mengulas karya yang ada di baliknya.
Musik selalu punya cerita yang lebih panjang dari sekadar viral. Ada proses kreatif, ada konteks sosial, dan ada perjalanan para musisi yang jarang benar-benar dibicarakan. Di sinilah jurnalisme musik seharusnya mengambil peran.
Jurnalisme musik membantu kita melihat musik dengan lebih dalam, bukan hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai bagian dari budaya. Ia memberi ruang untuk memahami karya, bukan sekadar menilainya secara cepat. Tanpa itu, pembicaraan tentang musik akan terus ramai, tetapi sering kali dangkal.
Editor : Andika Brilyan









