Bumi Manusia: Membongkar Takdir Romansa Manis Berakhir Tragis di Tangan Bangsa Eropa

oleh: Fani Setyowati

Poster Film Bumi Manusia
Poster Film Bumi Manusia

Identitas Film

Judul: Bumi Manusia

Sutradara: Hanung Bramantyo

Penulis Skenario: Salman Aristo

Tahun Rilis: 2019

Produksi: Falcon Pictures

Durasi: 181 menit

Genre: Drama, Sejarah, Romansa

Pemeran: Sha Ine Febriyanti (Nyai Ontosoroh), Iqbal Ramadhan (Minke), Mawar De Jongh (Annelis Mellema)

Film Bumi Manusia (2019) merupakan adaptasi dari novel legendaris karya Pramoedya Ananta Toer yang berjudul sama, “Bumi Manusia” yang digarap oleh Hanung Bramantyo. Hanung Bramantyo dikenal sebagai sosok yang berani mengangkat tema-tema sensitif, mulai dari religi, sejarah hingga sosial. Melalui penggarapan Film Bumi Manusia (2019), ia ingin mempertahankan pentingnya sejarah bagi siapa pun, kompleksitas novel ini juga menjadi salah satu alasan Hanung berani mengadaptasinya menjadi sebuah film, misalnya isu diskriminasi dan ketidakadilan, serta sebagai bentuk pengabdian pada kemanusiaan dan sastra. 

Sinopsis

Cerita bermula dari tokoh Minke yang kagum dengan berbagai kemajuan peradaban Barat. Ia yang merupakan seorang pribumi mendapat kesempatan mengenyam pendidikan di HBS (Hoogere Burgerschool), sebuah sekolah menengah atas Eropa dan elite pribumi, bukanlah hal mudah. Seringkali ia mendapat ejekan juga diskriminasi dari anak-anak Belanda lain. Seiring berjalannya waktu, ia jatuh hati dengan Annelis Mellema, anak dari seorang nyai dan Belanda tulen. Melalui Annelis, Minke juga mengenal ibu Annelis, nyai Ontosoroh atau Sanikem, seorang wanita pribumi yang kisah hidupnya sangat kompleks. Nyai menjadi korban praktik perdagangan wanita pada zaman itu, oleh ayahnya sendiri, kemudian ia menjadi wanita simpanan Herman Mellema tanpa ikatan pernikahan yang sah. Nyai digambarkan sebagai sosok yang mandiri, cerdas, mampu mengelola urusan perusahaan keluarga barunya sepeninggal Herman yang sudah tidak peduli akan kelanjutan hidupnya, namun dibalik itu, Nyai memiliki luka mendalam dan dipandang sebagai perempuan rendahan hanya karena berstatus ‘gundik’ atau Nyai.

Kisah romansa Minke dan Annelis berjalan dengan polos, tulus, lugu, dan apa adanya, Annelis yang terobsesi menjadi pribumi seperti sang Ibu dan Minke yang kagum serta jatuh hati dengan gadis Indo-Belanda menjadi perpaduan sempurna keduanya. Lambat laun perjalanan cinta keduanya tidak berjalan mulus, berbagai konflik muncul silih berganti, mulai dari perbedaan rasial, konflik batin Annelis sendiri akibat trauma pelecehan, asal-usul Annelis yang dipertanyakan, hingga pernikahan yang dianggap tidak sah di depan hukum Kolonial. Minke yang seorang pribumi dianggap tidak pantas menjalin asmara dengan Annelis, seorang gadis Indo-Belanda. Hukum Kolonial turut menentang hubungan keduanya karena Annelis dianggap belum cukup umur untuk menjalin hubungan pernikahan. Bahkan pernikahan keduanya dianggap tidak sah, hal ini memicu respon dari berbagai pihak termasuk pemuka agama. Keduanya menikah sah secara agama Islam, dalam pandangan Islam termuat aturan pernikahan dianggap sah apabila telah mencapai usia balig yaitu sekitar 14-15 tahun diikuti kesiapan mental dan fisik. Apakah hukum islam pada saat itu tidak berarti di hadapan hukum kolonial?

Puncaknya, ketika perdebatan asal-usul Annelis yang tidak ada bukti nyata ia merupakan anak Nyai Ontosoroh dan Herman Mellema, maka pengadilan kolonial memutuskan untuk mengalihkan hak asuh Annelis kepada Maurist Mellema, anak sah keluarga Herman Mellema di Belanda sana. Hal itu menandai pula pernikahan yang telah dilakukan tidak sah di mata hukum Belanda. Minke, pribumi yang merupakan suaminya juga tak dapat melindungi istrinya. Selang beberapa hari, Annelis bersama utusan pengadilan berangkat ke Belanda dengan berat hati. Penderitaan tidak berhenti di situ, setelah kehilangan hak asuh, Nyai Ontosoroh juga kehilangan hak mengantar putrinya selamanya begitupun Minke. Skenario buruk yang tidak pernah terlintas dalam pikiran Nyai dan Minke kini seperti mimpi buruk yang berubah menjadi kenyataan pahit, mereka melawan, namun hasilnya tetap tunduk di hadapan hukum kolonial.

Kelebihan dan Kekurangan

Film ini digarap dengan apik menampilkan sinematografi zaman dahulu membuat penonton merasa ikut hidup pada zaman tersebut. Berbagai set produksi menampilkan suasana kehidupan pada zaman kolonial di Indonesia yang telah memasuki masa modernisasi pada masa Hindia-Belanda akhir abad ke-19. Penggunaan kostum pribumi juga turut menambah kesan membangun lekatnya kondisi pada masa itu. Selain itu, percampuran penggunaan bahasa Jawa-Indonesia-Belanda menjadi keunikan tersendiri, menunjukkan bahwa efek penjajahan juga memengaruhi aspek kehidupan termasuk kegiatan berbahasa. Akting para aktor yang mencoba keluar dari zona nyaman dan keberhasilan pendalaman karakter  menjadikan film ini seolah memiliki nyawa tersendiri. Scoring musik yang disesuaikan dengan adegan tiap adegan berhasil mewakili emosi penonton, seperti dapat mempertegas perbedaan rasial, memperdalam kisah romansa antara Minke dan Annelis, serta tekanan atau ketegangan adanya konflik.

Di balik itu, film ini memuat durasi yang sangat panjang, kurang lebih 3 jam membuat cerita terkesan lambat yang mengakibatkan beberapa penonton merasa bosan. Pemilihan diksi yang puitis memerlukan pemahaman mendalam mengenai pesan yang ingin disampaikan dalam film ini. Tetapi, gaya penyampaian tersebut merupakan ciri khas Pramoedya Ananta Toer dalam menciptakan novelnya yang puitis dan sarat makna sehingga Hanung mencoba menghadirkan beberapa gaya bahasa tersebut ke dalam film tanpa mengubahnya untuk mempertahankan bentuk otentik novel.

Kesimpulan dan Rekomendasi

Bumi Manusia (2019), merupakan film yang menghadirkan konflik penuh emosional, ketidakadilan, perlawanan dan pada akhirnya penerimaan, berhasil membawa penonton menyelami berbagai hiruk pikuk pada masa Hindia Belanda abad ke-19. Dengan durasi yang cukup panjang, memberikan kebebasan pada penonton untuk menginterpretasikan makna yang terdapat dalam film. Selain itu, penggunaan kostum, penciptaan set produksi yang dibuat semirip mungkin berhasil mendeskripsikan suasana pada masa itu. Pendalaman karakter dan keberhasilan penyampaian karakter juga turut berperan aktif dalam penggarapan yang sukses pada film ini. Sinematografi yang epic dibuat semirip mungkin dengan suasana penjajahan mampu menghidupkan suasana pada masa itu.

Film ini direkomendasikan pada siapa saja yang ingin mendapatkan pengalaman menelusuri kembali kehidupan lampau yang menjadi bagian dari sejarah panjang bangsa Indonesia. Kontras kehidupan sekarang dengan masa lampau menjadikan refleksi bahwa penjajahan bentuk apapun tidak dibenarkan dalam kehidupan, termasuk penjajahan perasaan pribadi. Film ini layak ditonton karena mengandung banyak pesan mendalam terkait kebebasan, keberanian melawan ketidakadilan, romansa yang dibalut tanpa batasan rasial, dan penggambaran sosok perempuan yang kuat. Dengan menonton film ini, kita dapat mengambil pelajaran berharga pentingnya mengambil tindakan ketika mendapati perlakuan tidak adil dan bersyukur atas kebebasan yang diperoleh dari kemerdekaan sehingga kini kita dapat merasakannya.

Editor: Lovely Mozza Permata Moty Nurhamidin

Redaksi

beritaunsoed.com adalah sebuah media independen yang dikelola oleh LPM Sketsa Unsoed dan merupakan satu-satunya Lembaga Pers Mahasiswa tingkat Universitas Jenderal Soedirman di Purwokerto.

Postingan Terkait

Anak Lanang (2017) : Senandung di Atas Becak

Oleh: Monica Merlyna Puspitasari Judul Film : Anak Lanang Sutradara : Wahyu Agung Prasetyo Tahun rilis…

Curhat ke ChatGPT: Solusi Emosional atau Pemicu Isolasi?

Oleh: Nurul Irmah Agustina Bukankah aneh ketika anak muda lebih nyaman membuka rahasia ke mesin daripada…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jangan Lewatkan

Dari Papan Catur Menuju Prestasi, SOCT 2026 Menjadi Sarana Menjaring Talenta Muda

Dari Papan Catur Menuju Prestasi, SOCT 2026 Menjadi Sarana Menjaring Talenta Muda

Demokrasi Dipertanyakan, Diskusi Publik Soroti Ketimpangan dan Kebijakan Negara

Demokrasi Dipertanyakan, Diskusi Publik Soroti Ketimpangan dan Kebijakan Negara

Penjajah Berdasi

Penjajah Berdasi

Bumi Manusia: Membongkar Takdir Romansa Manis Berakhir Tragis di Tangan Bangsa Eropa

Bumi Manusia: Membongkar Takdir Romansa Manis Berakhir Tragis di Tangan Bangsa Eropa

Relawan Gelar Duplik Amicus Curiae, Soroti Ketidakadilan Kasus Tahanan Politik di Banyumas

Relawan Gelar Duplik Amicus Curiae, Soroti Ketidakadilan Kasus Tahanan Politik di Banyumas

Dominasi Film Horor: Strategi Aman Mengikuti Selera Pasar?

Dominasi Film Horor: Strategi Aman Mengikuti Selera Pasar?