Cakap AI tapi Gagal PISA: Sudahkah Kita Benar-Benar “Bangkit”?

Penulis: Dina Fitria Salsabila

Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) sering kali hanya lewat sebagai seremoni rutin di kalender pendidikan kita, padahal momentum ini adalah monumen kedaulatan pemikiran yang sangat mendalam. Tanggal 20 Mei sejatinya adalah hari lahirnya Boedi Oetomo pada 1908, sebuah titik nol di mana sembilan mahasiswa kedokteran School tot Opleiding van Indische Artsen (STOVIA)—seperti Soetomo, Goenawan, hingga Angka Prodjosoedirdjo—memutuskan untuk memerdekakan nalar mereka dari belenggu rendah diri akibat sistem kolonial. Mereka mendiagnosis bahwa penyakit utama bangsa bukanlah sekadar penjajahan fisik, melainkan ketidaktahuan yang mematikan logika perjuangan. Dengan manajemen organisasi modern dan literasi, para mahasiswa ini membuktikan bahwa perubahan besar tidak dimulai dengan senjata fisik, melainkan dengan disiplin intelektual. 

Namun, sejarah tidak selalu berjalan tanpa motif. Apa yang kita rayakan sebagai Harkitnas hari ini sebenarnya adalah keputusan politik besar yang lahir dari situasi darurat pada tahun 1948. Di tengah Agresi Militer Belanda dan konflik internal yang mengancam eksistensi negara, Presiden Soekarno sangat membutuhkan simbol persatuan yang kuat untuk merajut kembali retakan bangsa. Penetapan Boedi Oetomo sebagai tonggak kebangkitan adalah sebuah strategi komunikasi politik atau branding sejarah yang ampuh untuk mengingatkan bahwa persatuan kaum terpelajar adalah kunci kedaulatan. Langkah ini menegaskan bahwa sejarah bukan sekadar rekaman masa lalu yang pasif, melainkan alat integrasi nasional yang digunakan untuk menjaga integritas bangsa di tengah badai krisis—sebuah taktik yang kemudian diperkuat kembali pada tahun 1959 di tengah pergolakan pemberontakan daerah seperti Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) dan Perjuangan Rakyat Semesta (Permesta). 

Melompat ke tahun 2026, kita justru dihadapkan pada paradoks nalar yang miris. Laporan Global Skills Report 2025 menempatkan Indonesia di peringkat 47 dunia dalam kecakapan talenta, membuktikan kita sebagai bangsa yang sangat adaptif menguasai teknologi terbaru seperti Generative AI. Namun, kebanggaan teknologis itu mendadak runtuh saat kita membenturkannya dengan realita fondasi logika kita. Berdasarkan laporan resmi Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), skor Programme for International Student Assessment (PISA ) Indonesia tahun 2022 berada jauh di bawah rata-rata global dengan kemampuan matematika di angka 366, sains 383, dan membaca di angka 359.

Skor tersebut tertinggal cukup jauh dibandingkan dengan lima negara tetangga di kawasan ASEAN, yang menjadi bukti nyata adanya permasalahan mendasar dalam sistem pendidikan kita secara keseluruhan. Krisis nalar ini bersifat sistemik dan berkelanjutan, yang terekam jelas dalam data Tes Kompetensi Akademik (TKA) terbaru. Skor rata-rata calon mahasiswa kita pada subtes penalaran kritis dan literasi bahasa masih menunjukkan kesulitan dalam mengolah logika kompleks. Lantas, untuk apa kita merayakan “kebangkitan” setiap tahun jika keterampilan dasar untuk memahami informasi saja masih menjadi masalah sistemik yang tak kunjung teratasi dari bangku sekolah dasar hingga ambang perguruan tinggi?

Celah antara “cakap mengoperasikan AI” dan “darurat literasi” inilah yang menjadi lubang hitam keamanan bangsa di tahun 2026. Di saat kita merasa makin canggih dengan gawai di tangan, angka kejahatan siber, penipuan digital, dan manipulasi data di Indonesia justru meledak drastis. Kita mahir menggunakan fitur-fitur masa depan, namun nalar kritis kita sering kali “tertidur” saat harus membedah kebenaran dari manipulasi algoritma. Kita berisiko menjadi bangsa yang mahir memakai aplikasi, tapi gagal memverifikasi kebenaran informasi di baliknya. Tanpa nalar kritis yang kuat sebagaimana warisan mahasiswa STOVIA, kecanggihan digital kita hari ini justru bisa menjadi bumerang yang mematikan logika publik.

Kebangkitan digital yang sejati bukan sekadar soal seberapa pintar kita membuat perintah untuk AI, melainkan seberapa berdaulat nalar kita atas setiap informasi yang kita konsumsi. Jika nalar dasar kita masih rapuh, kemajuan teknologi hanya akan membuat kita berpindah dari penjajahan fisik ke penjajahan nalar yang manipulatif. Tugas kita hari ini adalah bangkit dari krisis literasi demi menjaga kedaulatan berpikir kita sendiri. Sebab pada akhirnya, kebangkitan sejati baru terjadi ketika bangsa ini tidak lagi mudah diadu domba oleh kepalsuan yang dikemas dengan teknologi canggih. Mari kita buktikan bahwa warisan STOVIA masih hidup melalui ketajaman logika yang kita miliki.

Bangkitlah dengan data, merdekalah dengan logika.

Redaksi

beritaunsoed.com adalah sebuah media independen yang dikelola oleh LPM Sketsa Unsoed dan merupakan satu-satunya Lembaga Pers Mahasiswa tingkat Universitas Jenderal Soedirman di Purwokerto.

Postingan Terkait

Puisi di Tengah Arus Teknologi: Bertahan atau Tenggelam?

Penulis: Dwi Santika Sukmaningrum Di era globalisasi yang semakin mendunia, perkembangan teknologi bergerak secara masif. Pengaksesan…

Dominasi Film Horor: Strategi Aman Mengikuti Selera Pasar?

Penulis: Jeni Rindi Afriska Film kerap kali dibahas dalam perbincangan ringan antarteman, keluarga, maupun dijadikan sebagai…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jangan Lewatkan

Polemik di Balik Pemilihan Rektor Unsoed, Antara Regulasi Hingga Tuntutan Transparansi oleh Mahasiswa

Polemik di Balik Pemilihan Rektor Unsoed, Antara Regulasi Hingga Tuntutan Transparansi oleh Mahasiswa

Cakap AI tapi Gagal PISA: Sudahkah Kita Benar-Benar “Bangkit”?

Cakap AI tapi Gagal PISA: Sudahkah Kita Benar-Benar “Bangkit”?

Antara Ambisi dan Eksploitasi Diri: Bahaya Hustle Culture bagi Anak Muda

Antara Ambisi dan Eksploitasi Diri: Bahaya Hustle Culture bagi Anak Muda

Menemukan Tuhan Lewat Mata Seorang Alien

Menemukan Tuhan Lewat Mata Seorang Alien

Sepenggal Kisah Janggal

Sepenggal Kisah Janggal

Usut Kasus Penganiayaan dan Kekerasan Seksual, Aliansi Mahasiswa Unsoed Geruduk Polresta Banyumas

Usut Kasus Penganiayaan dan Kekerasan Seksual, Aliansi Mahasiswa Unsoed Geruduk Polresta Banyumas