Puisi di Tengah Arus Teknologi: Bertahan atau Tenggelam?

Penulis: Dwi Santika Sukmaningrum

Di era globalisasi yang semakin mendunia, perkembangan teknologi bergerak secara masif. Pengaksesan informasi dapat dengan mudah dilakukan oleh semua orang. Pengaruh yang sangat jelas terasa adalah saat ingin mendapatkan bahan bacaan tertentu, tak terkecuali eksistensi karya sastra puisi. Dengan perkembangan teknologi yang pesat ini, pertanyaan tentang karya sastra sering kali timbul dalam pikiran, apakah eksistensi puisi saat ini masih digandrungi oleh para Gen Z yang memang lahir di tengah perkembangan teknologi yang masif?

Dikutip dari antaranews.com, karya sastra Indonesia, khususnya puisi, terus berkembang, pada era modern. Berkembangnya teknologi justru membantu masyarakat luas dapat mengakses karya sastra puisi secara mudah melalui perangkat gawai yang ada. Keberadaan puisi hingga saat ini terus terjaga dan mengalami peningkatan, terlebih lagi tren puisi dikalangan gen Z yang tumbuh di tengah gempuran perkembangan teknologi. Hal yang dikhawatirkan adalah penurunan minat berpuisi. Maka dari itu, melalui media sosial yang ada, langkah strategis yang dapat digerakkan adalah dengan menggandeng gen Z untuk memanfaatkan gawai sebagai bentuk dari literasi digital. Mereka dapat memanfaatkan gawai untuk membaca puisi, menulis puisi esai, bahkan mendengarkan musikalisasi puisi.

Denny JA, penggagas puisi esai, berusaha mengenalkan puisi esai kepada gen Z dalam Festival Puisi Esai Jakarta II pada tanggal 13-14 Desember 2024. Menurut Denny, usaha tersebut sudah membuahkan hasil. Pada Festival itu, terbit 18 buku puisi esai yang ditulis oleh gen Z dari Aceh sampai Papua. Setiap buku berisi 20 puisi esai yang ditulis oleh 10 orang dari gen Z, kecuali dari Papua yang pesertanya 11 orang. Masing-masing menulis dua judul puisi esai yang panjangnya hanya 500 kata. Sehingga total puisi esai dari gen Z ini berjumlah 362 judul puisi esai. Melalui puisi esai ini, mereka menyuarakan kesaksian yang menggelisahkan atas apa yang terjadi di lingkungan sekitar dan media massa. Harapannya, langkah pengenalan puisi esai kepada gen Z ini semakin mendukung peningkatan puisi dikalangan anak muda. 

Selain itu, peningkatan puisi juga dapat dilihat dari data yang diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) dalam laporan yang bertajuk Statistik Kebahasaan dan Kesastraan 2024. Jumlah karya sastra cetak yang teregistrasi di kementerian mengalami peningkatan yang signifikan dari tahun 2022 ke 2023. Data tersebut terbagi menjadi beberapa jenis publikasi karya sastra yakni puisi, cerpen, drama, kritik, dan novel. Pada tahun 2022, jumlah puisi yang terdaftar sebanyak 135 buah. Jumlahnya meningkat sebanyak 483 buah hingga mencapai angka 618 di tahun 2023.

Dikutip dari antaranews.com, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi DKI Jakarta melalui Pusat Dokumentasi Sastra (PDS), Piala HB Jassin 2025 kembali digelar dengan disambut penuh antusias. Piala HB Jassin merupakan ajang perlombaan sastra bergengsi di Indonesia yang bertujuan mengapresiasi sastrawan dan mendorong kreativitas generasi muda dalam literasi. Bagian dari lomba HB Jassin ini mencakup lomba baca puisi, musikalisasi puisi, dan penulisan karya sastra. Jumlah peserta tahun ini mengalami peningkatan pesat dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Antusiasme peserta sangat terasa dengan jumlah total para pendaftar mencapai 15.763 pendaftar. Besarnya angka pendaftar ini tentunya menjadi bukti bahwa puisi masih eksis hingga saat ini. 

Walaupun perkembangan teknologi terus meningkat, eksistensi puisi tetap terjaga. Masyarakat luas dapat memanfaatkan teknologi yang ada untuk mengakses sumber-sumber karya sastra lainnya. Karya sastra seperti puisi juga dapat diciptakan melalui perangkat gawai sesuai perkembangannya. Sering kali ditemukan puisi kontemporer di media sosial. Hal ini tentunya akan berdampak positif bagi mereka yang membacanya karena secara tidak langsung akan ikut tertarik dalam karya sastra puisi.

Tantangan selanjutnya adalah bagaimana cara agar eksistensi puisi ini terus meningkat di tengah masifnya perkembangan teknologi yang ada. Maka dari itu kita sebagai generasi penerus bangsa harus dapat meningkatkan minat baca terhadap karya sastra agar kelestariannya tetap terus terjaga. Walaupun teknologi terus berkembang pesat, justru ini dapat dijadikan wadah yang dapat kita manfaatkan untuk berkarya, menjaga, dan melestarikan puisi. Karya sastra merupakan warisan yang harus dikelola dan dilestarikan untuk anak cucu kita. Jika bukan kita, siapa lagi?

Redaksi

beritaunsoed.com adalah sebuah media independen yang dikelola oleh LPM Sketsa Unsoed dan merupakan satu-satunya Lembaga Pers Mahasiswa tingkat Universitas Jenderal Soedirman di Purwokerto.

Postingan Terkait

Dominasi Film Horor: Strategi Aman Mengikuti Selera Pasar?

Penulis: Jeni Rindi Afriska Film kerap kali dibahas dalam perbincangan ringan antarteman, keluarga, maupun dijadikan sebagai…

Mengenal Hari Trikora: 19 Desember

Penulis: Monica Merlyna Hari Trikora merupakan peringatan bersejarah bagi bangsa Indonesia yang berkaitan erat dengan perjuangan…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jangan Lewatkan

Puisi di Tengah Arus Teknologi: Bertahan atau Tenggelam?

Puisi di Tengah Arus Teknologi: Bertahan atau Tenggelam?

Ketika Ilusi Menjadi Kebenaran: Resensi Film Now You See Me

Ketika Ilusi Menjadi Kebenaran: Resensi Film Now You See Me

Suara Bumi Martabat Jiwa: Spiritualitas dan Kreativitas dalam Banyumas Gamelan Festival

Suara Bumi Martabat Jiwa: Spiritualitas dan Kreativitas dalam Banyumas Gamelan Festival

Audiensi Digelar, Mahasiswa Soroti Pasal Karet dalam Perjanjian Kerja Sama dengan Polda Jateng

Audiensi Digelar, Mahasiswa Soroti Pasal Karet dalam Perjanjian Kerja Sama dengan Polda Jateng

Kunamakan: Kisahnya

Kunamakan: Kisahnya

Antusiasme Meningkat, Banyumas Ngibing 24 Jam Menari Kembali Digelar

Antusiasme Meningkat, Banyumas Ngibing 24 Jam Menari Kembali Digelar