Suara Bumi Martabat Jiwa: Spiritualitas dan Kreativitas dalam Banyumas Gamelan Festival

Oleh: Dwi Santika Sukmaningrum

Niaga Banyumas Gamelan Festival (25/4/2026) (Beritaunsoed.com /Tegar Pri Antony)

Alunan gamelan dan suara sinden mengiringi jalannya Banyumas Gamelan Festival Jilid 2 di Taman Sari, Banyumas, pada Sabtu (25/4/2026). Festival ini digelar untuk melestarikan dan memperkenalkan kebudayaan gamelan di lingkungan masyarakat luas, baik yang berdomisili di Banyumas maupun di luar Banyumas.

Eko Kuntowibowo, selaku penyelenggara kegiatan Banyumas Gamelan Festival yang ke-2 ini menyampaikan makna tema “Suara Bumi Martabat Jiwa” adalah karena dari bumi suara-suara itu tinggi, sehingga menjadi sebuah keharmonisan yang akhirnya tentram di jiwa masing-masing. Acara Banyumas Gamelan Festival ini terdiri dari beberapa kegiatan seperti Gamelan Exhibition, Orkestra Gamelan, Dhaharan Rembug Rasa, dan Workshop Pembuatan Alat Gamelan.  Diharapkan berbagai macam pertunjukan kebudayaan ini dapat melekat pada masyarakat terutama di kalangan anak muda sehingga kebudayaan gamelan dapat terus dilestarikan.

Penampilan Festival Gamelan panggung Puntadewa (25/4/2026) (Beritaunsoed.com /Tegar Pri Antony)

Festival Banyumas Gamelan ini dihadiri oleh 35 peserta dan mendatangkan beberapa juri dan pengamat, di antaranya I Nyoman Sukerna, Anton Rustandi Mulyana, Murah Budiarto dari Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, sedangkan Widodo dari Universitas Negeri Semarang (Unnes). Dengan kehadiran para dewan juri beserta pengamat, acara festival Banyumas Gamelan pun dimulai. Festival ini berjalan dengan meriah dan dipenuhi antusiasme penonton ketika gamelan mulai dimainkan oleh para Niyaga.

Tahun ini, Festival Gamelan dihadiri oleh berbagai elemen, seperti Sanggar Sekar Marabuana Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Rawalo, Sanggar Sekar Handayani dari Desa Kedunggede Banyumas, dan lainnya. Para pemain khususnya kaum muda juga ikut andil dalam menampilkan gamelan. Keterlibatan anak muda dalam festival ini menjadi salah satu sinyal positif bagi kelestarian gamelan.

Festival ini telah dipersiapkan sejak jauh hari. Dengan mengusung suasana outdoor, udara sejuk, dan iringan gamelan beriringan mengisi suasana di pagi hari. Festival Gamelan ini disaksikan oleh berbagai kalangan, mulai dari anak muda hingga sesepuh. Kebanyakan dari mereka menonton Festival Gamelan karena memiliki minat pada kebudayaan Jawa. Festival Gamelan diharapkan dapat meningkatkan spiritualitas dan kreativitas anak muda untuk melestarikan kebudayaan Jawa dan menjadi kebanggaan negeri di era modern ini.

Editor: Artika Putri Kinanti

Reporter: Fara Dewi Hanani,  Fani Setyawati, Dina Fitria Salsabila, Hasna Zulfa Qanitah, Afifah Setyaningtyas, Anisa Septianingsih, Ryu Athallah Raihan, Fadila Nuraini, Tegar Pri Antony, Hilda Lailatus Salma, Kania Nurma Gupita, Velen Candra Nadia, Hasna Nailah Ramadhani, Dwi Santika Sukmaningrum

Redaksi

beritaunsoed.com adalah sebuah media independen yang dikelola oleh LPM Sketsa Unsoed dan merupakan satu-satunya Lembaga Pers Mahasiswa tingkat Universitas Jenderal Soedirman di Purwokerto.

Postingan Terkait

Usut Kasus Penganiayaan dan Kekerasan Seksual, Aliansi Mahasiswa Unsoed Geruduk Polresta Banyumas

Penulis: Andika Brilyan Aliansi Mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) menggelar aksi mimbar bebas di depan Markas…

Semangat Tak Padam, Banyumas Ngibing 24 Jam Hidupkan Budaya Lokal

Penulis: Annisa Dwi Rahman Ratusan seniman dari berbagai daerah berkumpul di Banyumas Ngibing 24 Jam Menari…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jangan Lewatkan

Menemukan Tuhan Lewat Mata Seorang Alien

Menemukan Tuhan Lewat Mata Seorang Alien

Sepenggal Kisah Janggal

Sepenggal Kisah Janggal

Usut Kasus Penganiayaan dan Kekerasan Seksual, Aliansi Mahasiswa Unsoed Geruduk Polresta Banyumas

Usut Kasus Penganiayaan dan Kekerasan Seksual, Aliansi Mahasiswa Unsoed Geruduk Polresta Banyumas

Bukan Sekadar Candaan: Ketika Kekerasan Dinormalisasi pada Lingkaran Pertemanan

Bukan Sekadar Candaan: Ketika Kekerasan Dinormalisasi pada Lingkaran Pertemanan

Kisah di Gang Krembangan pada Tahun 60-an dari Kacamata Bocah 6 Tahun

Kisah di Gang Krembangan pada Tahun 60-an dari Kacamata Bocah 6 Tahun

Lonceng Kematian Rasa Aman: Ketika Ekosistem Pendidikan Menjadi Sarang Kasus Kekerasan

Lonceng Kematian Rasa Aman: Ketika Ekosistem Pendidikan Menjadi Sarang Kasus Kekerasan