Tikus, Pohon, dan Aktivitas Pembangunan: Penyebab Listrik Kerap Padam di  Area Grendeng dan Karangwangkal

Penulis: Lintang Fitriana

Wawancara dengan Manajer PLN ULP Purwokerto (7 Mei 2026) (Beritaunsoed.com/Kania Nurma Gupita)

Grendeng dan Karangwangkal, dikenal sebagai pusat aktivitas mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed). Deretan kos-kosan, warung makan, fotokopi, laundry, hingga kafe tumbuh padat di wilayah tersebut. Tingginya aktivitas kawasan mahasiswa itu menimbulkan persoalan pemadaman listrik yang kerap menjadi keluhan. Mahasiswa dan warga sekitar mengaku listrik kerap padam secara tiba-tiba, bahkan tanpa hujan maupun cuaca ekstrem. Tidak jarang pemadaman berlangsung hingga berjam-jam dan mengganggu aktivitas akademik maupun usaha masyarakat sekitar.

Mati Listrik yang Dianggap Lumrah Terjadi

Bagi sebagian mahasiswa yang tinggal di Grendeng dan Karangwangkal, mati listrik bukan lagi kejadian mengejutkan. Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Erdi Aqil Fauzan, mengaku telah merasakan persoalan mati listrik sejak lama. Menurutnya, kondisi tersebut bahkan sudah terjadi sejak dirinya masih duduk di bangku sekolah dasar.

“Kalau perbandingan mungkin katakanlah di waktu aku SD, SMP itu sekitaran dua bulan sekali, tapi kalau melihat akhir-akhir ini bisa sebulan sekali,” ujarnya.

Erdi menilai kondisi pemadaman justru semakin terasa dalam beberapa tahun terakhir. Ia menduga meningkatnya kepadatan permukiman dan aktivitas masyarakat di sekitar kampus membuat kebutuhan listrik semakin besar.

Hal serupa dirasakan Popi Damayanti, mahasiswa Sastra Indonesia yang tinggal di kawasan Gunung Srandil, Karangwangkal. Ia mengaku mulai menyadari persoalan mati listrik sejak pertama kali menjadi mahasiswa baru pada 2024.

Menurut Popi, mahasiswa maupun warga sekitar memang telah menganggap pemadaman listrik sebagai sesuatu yang lumrah terjadi di kawasan tersebut. Terlebih saat musim hujan, listrik hampir selalu padam ketika hujan deras disertai petir.

Namun, pemadaman juga tidak jarang terjadi saat cuaca sedang cerah. Popi mengingat salah satu kejadian ketika listrik padam akibat trafo yang disebut mengalami gangguan karena terkena hewan.

“Iya pernah. Kayak waktu itu enggak ada hujan, ternyata trafonya (transformator) meledak itu, kena gigit kadal,” katanya.

Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Fasantika Tyas Tanaya, juga mengaku mengalami hal serupa sejak menetap di kos kawasan Grendeng. Ia menyebut daerah Cendrawasih menjadi salah satu titik yang menurut mahasiswa cukup sering mengalami pemadaman dibanding kawasan lain.

Dampak bagi Aktivitas Akademik Mahasiswa

Listrik menjadi kebutuhan utama yang hampir tidak bisa dipisahkan dari aktivitas sehari-hari. Ketika listrik padam, jaringan internet, Wi-Fi, hingga aktivitas perkuliahan ikut terganggu.

Erdi mengaku pernah mengalami pemadaman listrik ketika sedang mengerjakan video untuk kebutuhan Pengenalan Kehidupan Mahasiswa Baru (PKKMB) dengan tenggat waktu yang mendesak. Dari pengalamannya, listrik baru menyala kembali sekitar pukul sebelas malam sehingga proses pengerjaan tugas ikut tertunda.

Bagi mahasiswa, pemadaman listrik mendadak membuat aktivitas akademik menjadi tidak menentu. Popi mengatakan dirinya pernah mengalami mati listrik saat tengah mengerjakan tugas pada masa Ujian Tengah Semester (UTS). Saat itu, laptopnya belum terisi penuh sehingga ia terpaksa menghentikan pengerjaan tugas.

Ia menambahkan bahwa mahasiswa akhirnya terbiasa berjaga-jaga dengan mengisi daya laptop maupun ponsel lebih awal untuk mengantisipasi pemadaman listrik mendadak. Selain menghambat tugas, pemadaman listrik juga menyebabkan internet dan Wi-Fi mati sehingga mahasiswa kesulitan mengakses materi maupun mengirim tugas secara daring.

Gangguan listrik tidak hanya dirasakan di kos-kosan mahasiswa, tetapi juga di lingkungan kampus. Tyas mengungkapkan bahwa beberapa kelas di FISIP sempat terdampak pemadaman listrik ketika hujan deras. “Kalau di FISIP, pernah beberapa kali kena mati listrik. Kayaknya kalau di semester ini dua kali, dan itu juga karena hujan lebat. Jadinya, kelasnya berhenti,” katanya.

Dampak Sosial dan Rasa Tidak Aman

Selain mengganggu aktivitas akademik, pemadaman listrik juga memunculkan kekhawatiran terkait keamanan lingkungan sekitar kampus. Minimnya penerangan saat listrik padam membuat mahasiswa merasa lingkungan menjadi lebih rawan.

Erdi mengatakan pemadaman menyebabkan suasana sekitar menjadi gelap dan jaringan internet mati total. Kondisi tersebut membuat mahasiswa kesulitan mencari tempat yang tetap memiliki akses internet ketika listrik padam meluas.

Ia juga menyinggung adanya kasus pencurian motor yang terjadi saat kawasan sekitar kampus mengalami pemadaman listrik pada 2025 lalu. Menurutnya, kondisi gelap dan matinya CCTV membuat proses pengawasan menjadi lemah.

“Tahun lalu ada kemalingan waktu lagi praktikum di Fakultas Peternakan (FAPET), posisi lagi mati lampu dan beliau jadi asisten praktikum, lagi ngajar. Ketika beliau keluar, masih mati lampu kondisinya. Nah, lagi keluar motornya hilang,” paparnya.

Meski tidak secara langsung menyebut pemadaman listrik sebagai penyebab pencurian, Erdi menilai minimnya penerangan membuat kawasan sekitar menjadi lebih rawan dibanding biasanya.

Dampak pemadaman listrik tidak hanya dirasakan mahasiswa. Sejumlah pengusaha di sekitar kawasan kos mahasiswa juga ikut terdampak, terutama usaha yang bergantung penuh pada mesin dan listrik.

Alwin, pegawai Smart Laundry Purwokerto, mengatakan listrik yang padam membuat proses pencucian dan pengeringan pakaian berhenti di tengah jalan. Kondisi tersebut menyebabkan antrean pelanggan menumpuk, terutama saat jam ramai di sore hari.

“Sebenarnya sempat dan itu cukup sulit karena mesin mati, jadi agak ribet. Dia harus ngulang lagi dari ngeringinnya. Itu jadi ngantri lagi gitu,” jelasnya.

Situasi serupa juga dirasakan Lina, pemilik usaha laundry di Jalan Gunung Muria. Menurutnya, pemadaman listrik yang terjadi tanpa pemberitahuan membuat pelaku usaha kesulitan mengatur jadwal pekerjaan. “Kalau ada pemberitahuan sih, ya bisa dikerjain lebih awal, kalau enggak ada kan ya itu,” ujarnya.

Faktor Padamnya Listrik

Menanggapi keluhan tersebut, Manajer Perusahaan Listrik Negara (PLN) Unit Pelayanan Pelanggan (ULP) Purwokerto Kota, Nur Hendro, menjelaskan bahwa wilayah Grendeng dan Karangwangkal disuplai oleh jaringan penyulang yang bersumber dari Gardu Induk Kalibakal. Menurutnya, jalur penyulang menuju kawasan tersebut cukup panjang dan seluruh aset jaringan berada di luar ruangan sehingga rentan mengalami gangguan.

“Ketika terjadi gangguan, banyak potensi di sana,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa gangguan listrik di wilayah tersebut paling sering disebabkan oleh hewan, cuaca, pohon, maupun aktivitas pihak ketiga. Salah satu penyebab yang paling sering ditemukan ialah tikus yang naik ke jaringan listrik.

“Tikus itu banyak yang naik ke jaringan, jadi memutus jaringan,” katanya.

Nur Hendro mengatakan, keberadaan pedagang kaki lima di sepanjang jalur jaringan turut memicu munculnya tikus yang kemudian naik ke instalasi listrik. Selain itu, gangguan juga dapat muncul akibat ranting pohon, petir, hingga aktivitas pembangunan di dekat jaringan listrik.

PLN membantah anggapan bahwa pemadaman disebabkan kapasitas listrik yang tidak mampu menopang aktivitas kawasan mahasiswa. Ia menegaskan kapasitas trafo di wilayah Grendeng dan Karangwangkal masih tergolong aman.

“Kalau di daerah Grendeng itu rata-rata untuk trafo masih mampu. Jadi, di sana mau ada tempat fotokopi yang banyak, ada warung banyak, itu masih mampu,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa kondisi overload biasanya ditandai trafo yang melakukan trip atau memutus aliran listrik secara otomatis. Namun, menurut hasil pengecekan PLN, kapasitas beban di wilayah tersebut masih berada dalam batas aman.

Data Gangguan dan Klaim Perbaikan PLN

Kinerja Recloser KBL06044 Periode 1 Januari – 31 Desember 2025. Sumber: Data PLN ULP Purwokerto 
Kinerja Recloser KBL06044 Periode 1 Januari – 20  Mei 2026. Sumber: Data PLN ULP Purwokerto)

Berdasarkan data kinerja Recloser KBL06044 periode 1 Januari hingga 31 Desember 2025, tercatat terjadi 18 kali gangguan tegangan menengah di wilayah Purwokerto Kota. Penyebab tertinggi berasal dari pihak ketiga atau binatang sebanyak tujuh kali. Selain itu, gangguan akibat faktor alam tercatat lima kali, sedangkan pohon sebanyak tiga kali.

Sementara pada periode 1 Januari hingga 20 Mei 2026, jumlah gangguan tercatat sebanyak enam kali. PLN menilai angka tersebut menunjukkan adanya penurunan gangguan dibanding tahun sebelumnya.

Nur Hendro mengatakan secara global jumlah gangguan pada 2026 mengalami penurunan sekitar 50 persen dibanding periode yang sama pada 2025. “Secara global, jumlah trip dari tahun 2025 ke 2026 turun sekitar 50 persen,” ujarnya.

PLN mengaku telah melakukan berbagai langkah antisipasi seperti inspeksi jaringan rutin, pemasangan penghalang hewan, pemangkasan pohon, hingga pemeliharaan jaringan tanpa pemadaman melalui tim PDKB (Pekerjaan Dalam Keadaan Bertegangan).

Selain itu, PLN juga mengklaim aktif melakukan sosialisasi kepada masyarakat terkait potensi gangguan jaringan listrik. Sosialisasi dilakukan melalui pemerintah desa, inspeksi lapangan, hingga himbauan kepada warga yang melakukan pembangunan di dekat jaringan listrik.

Meski PLN mengklaim jumlah gangguan mengalami penurunan, sebagian mahasiswa mengaku belum merasakan perubahan yang signifikan. Bagi mereka, satu kali pemadaman listrik saat mengerjakan tugas atau menjelang tenggat waktu sudah cukup mengganggu aktivitas sehari-hari.

Popi mengaku selama ini mahasiswa cenderung pasrah ketika listrik padam karena tidak mengetahui harus melapor ke mana. “Ya menerima aja. Bingung juga mau gimana,” ujarnya.

Tyas juga mengaku belum pernah melapor langsung kepada PLN. Menurutnya, informasi mengenai pemadaman justru lebih sering beredar melalui media sosial atau menfess mahasiswa dibanding kanal resmi pengaduan.

Tyas berharap PLN dapat meningkatkan kualitas layanan sekaligus memperjelas akses pengaduan kepada masyarakat. “Mungkin bisa lewat WhatsApp atau layanan pengaduan yang lebih jelas,” ujarnya.

Upaya dan Himbauan PLN

Awak Sketsa berfoto bersama Manajer PLN ULT Purwokerto beserta Jajarannya. (7 Mei 2026) (Beritaunsoed.com/Kania Nurma Gupita)

PLN menyebut telah melakukan berbagai upaya untuk mengurangi gangguan sekaligus meningkatkan komunikasi dengan masyarakat. Manajer PLN ULP Purwokerto Kota, Nur Hendro, menjelaskan bahwa pihaknya rutin melakukan inspeksi jaringan untuk mendeteksi potensi gangguan sebelum menyebabkan pemadaman. Ketika petugas menemukan aktivitas pembangunan, pohon yang berpotensi menyentuh jaringan, maupun komponen yang mulai rusak, PLN akan memberikan himbauan kepada warga dan melakukan tindak lanjut pemeliharaan.

“Kadang kami ke desa atau ke kelurahan, kita sosialisasi ke kepala desa, tolong ini disampaikan ke warganya,” ujar Nur Hendro.

Dalam jangka panjang, PLN tengah menjalankan program revitalisasi aset kelistrikan yang dinilai sudah berusia tua. Sementara dalam penanganan gangguan sehari-hari, PLN menerapkan dua skema, yakni pemeliharaan kolektif untuk pemeliharaan insidental dan pemeliharaan preventif untuk pemeliharaan berencana.

Terkait layanan pengaduan, PLN mengarahkan masyarakat untuk memanfaatkan aplikasi PLN Mobile maupun layanan 123. Menurut Nur Hendro, laporan pelanggan sangat membantu petugas dalam mempercepat penelusuran lokasi gangguan, terutama ketika warga dapat memberikan informasi detail atau titik lokasi terjadinya gangguan.

PLN juga membangun saluran komunikasi langsung melalui WhatsApp. PLN membentuk grup komunikasi yang terdiri dari kakek-kakek, ketua RT, kepala desa atau lurah, dan aparat kepolisian. Kanal tersebut dibuat untuk mempercepat penyampaian informasi dan penanganan keluhan, terutama bagi kelompok masyarakat yang kesulitan menggunakan layanan digital.

“Pesan kami, ketika ada potensi-potensi yang menyebabkan gangguan, misalkan ada warga yang ingin motong pohon, kemudian ada warga yang mau membangun, atau warga yang ingin menambah lampu jalan, itu sebaiknya lapor ke PLN,” pungkasnya.

Editor: Velen Candra Nadia

Reporter: Lintang Fitriana, Nesya Huwaidaa Kultsum Azmii, Kania Nurma Gupita, ⁠Akhdan Maulana, Dwi Santika Sukmaningrum

 

  • Redaksi

    beritaunsoed.com adalah sebuah media independen yang dikelola oleh LPM Sketsa Unsoed dan merupakan satu-satunya Lembaga Pers Mahasiswa tingkat Universitas Jenderal Soedirman di Purwokerto.

    Postingan Terkait

    Di Balik Perubahan Hasil Lomba Tari Peksimitas: Polemik, Mediasi, dan Evaluasi Transparansi

    Penulis: Lovely Mozza Permata Moty Nurhamidin Perubahan hasil kejuaraan dalam cabang tari pada ajang Pekan Seni…

    Mahasiswa Serukan Evaluasi Kepemimpinan Rektor dalam Agenda Ngopi Bareng

    Penulis: Lovely Mozza Permata Moty Nurhamidin Seruan bertajuk “Ngopi Bareng Rektor” digelar pada Jumat (5/6/2026) di…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Jangan Lewatkan

    Di Balik Perubahan Hasil Lomba Tari Peksimitas: Polemik, Mediasi, dan Evaluasi Transparansi

    Di Balik Perubahan Hasil Lomba Tari Peksimitas: Polemik, Mediasi, dan Evaluasi Transparansi

    Tikus, Pohon, dan Aktivitas Pembangunan: Penyebab Listrik Kerap Padam di  Area Grendeng dan Karangwangkal

    Tikus, Pohon, dan Aktivitas Pembangunan: Penyebab Listrik Kerap Padam di  Area Grendeng dan Karangwangkal

    Gie: Tajam dalam Tulisan, Kritis dalam Pemikiran, Menolak untuk Bungkam

    Gie: Tajam dalam Tulisan, Kritis dalam Pemikiran, Menolak untuk Bungkam

    Misteri di: Balik Timbulnya Alas Roban

    Misteri di: Balik Timbulnya Alas Roban

    Keheningan

    Keheningan

    Mahasiswa Serukan Evaluasi Kepemimpinan Rektor dalam Agenda Ngopi Bareng

    Mahasiswa Serukan Evaluasi Kepemimpinan Rektor dalam Agenda Ngopi Bareng