Oleh: Abida Fitratussawa
Ilustrasi: Aulya Desya
Pagi datang dengan wajah pucat.
Langkah kaki tetap berjalan di tengah hati yang lelah.
Jam dinding berdetak lambat,
Sedangkan dunia terus meminta segalanya sekaligus.
Senyum dipasang serapi mungkin.
Namun mata menyimpan malam yang terlalu sunyi.
Napas terdengar berat di ruang sempit,
seperti dada yang penuh kecewa.
Hari-hari terasa seperti hujan panjang.
Dingin merambat hingga ke pikiran.
Lelah menggantung di bahu,
tetapi hidup tetap harus dijalani.
Meski hampir runtuh,
masih ada harapan yang bertahan diam-diam.
Kecil dan rapuh,
namun cukup kuat untuk menjaga seseorang tetap hidup.
Barangkali suatu hari nanti,
langit tidak lagi terasa kelabu.
Sesak di dada perlahan menghilang,
dan semua perjuangan akhirnya menemukan arti.
Editor: Annisa Dwi Rahman