Oleh: Lintang Fitriana
Dalam lorong yang kehilangan pagi,
seorang ibu mengayun langkah tanpa gizi,
menenteng pasar yang tak pernah penuh,
menyisakan harapan dalam anyaman bakul rotan.
Anaknya tumbuh bukan dari susu,
tapi, dari tangis dan sisa-sisa lauk semalam.
Ia mengeja dunia lewat debu,
menyerap ilmu dari angin yang mengajarkan menjadi manusia.
Rumah ini hanya batas antara tanah dan langit,
Genteng bocor dan langit yang lapang,
dinding jerami dan cerita yang dirajut luka,
lantai sejarah yang tak sempat dibaca negara.
Tiap malam, ayahnya pulang membawa lelah,
menggenggam hari yang ditukar dengan upah.
Ia bicara pada tembok, soal harga beras, soal harga diri.
Ia diam pada anaknya, pada istrinya.
Dan negeri ini berjalan gagah, makmur katanya.
Sementara perut-perut menunduk pada piring kosong.
Mereka bukan angka dalam laporan pejabat,
mereka hanya tulang yang menopang dusta pembangunan.
Editor: Andika Brilyan






