Oleh: Dwi Melani Novitasari
Aku pernah merasa tenggelam.
Bukan di laut yang luas atau sungai yang dalam, melainkan di dalam hidupku sendiri. Hari-hariku berjalan tanpa warna, seperti lukisan yang kehilangan catnya. Aku ada, tetapi tidak benar-benar hidup. Aku bernapas, tetapi terasa sesak. Dunia terus bergerak, sementara aku tertinggal di tempat yang sama, sunyi, dan penuh beban yang tak pernah sempat aku pahami sepenuhnya.
Namaku Vita.
Aku lahir di keluarga yang dari luar tampak baik-baik saja. Rumah kami berdiri di perantauan, sederhana, dengan dinding hijau yang mulai kusam dan halaman kecil yang jarang disentuh. Saat sore datang, angin berembus pelan, menggoyangkan daun-daun kering yang berserakan. Dari kejauhan, rumah itu terlihat hangat, seperti tempat pulang yang seharusnya menenangkan.
Namun kenyataannya berbeda.
Di dalam rumah itu, kehangatan terasa asing.
Aku tumbuh di antara keheningan yang panjang. Ayah, ibu, dan kakak laki-lakiku ada, tetapi terasa jauh. Kami hidup dalam satu atap, tetapi tidak benar-benar saling hadir. Tidak ada percakapan ringan di meja makan, tidak ada tawa yang memecah suasana, dan tidak ada pelukan yang membuatku merasa cukup.
Aku terbiasa pulang ke rumah yang kosong.
Setiap hari, aku membuka pintu sendiri, melepas sepatu tanpa suara, lalu berjalan pelan menuju dapur. Kadang aku hanya duduk di kursi kayu ruang tamu, menatap pintu, berharap seseorang akan datang dan bertanya bagaimana hariku.
Namun harapan itu selalu berakhir dalam diam.
Seiring waktu, aku mulai memahami bahwa untuk diperhatikan, aku harus melakukan sesuatu. Aku mulai mengejar nilai, berusaha menjadi yang terbaik, berharap usahaku dilihat. Selama enam tahun di sekolah dasar, aku selalu berada di tiga besar. Setiap angka yang kutulis di kertas ujian adalah bentuk teriakanku yang tidak pernah terdengar.
Aku ingin dilihat.
Aku ingin diakui.
Namun ternyata, itu tidak cukup.
Saat aku masuk SMP, semuanya berubah. Lingkungan baru, teman-teman yang lebih pintar, dan persaingan yang semakin ketat membuatku tidak lagi berada di posisi yang sama. Nilai-nilaiku mulai turun, perlahan tetapi pasti. Bukan karena aku berhenti berusaha, tetapi karena dunia terasa semakin berat untuk kujalani.
Setiap pembagian rapor menjadi hal yang selalu kutakuti.
Aku pulang dengan langkah ragu, membayangkan wajah kecewa orang tuaku. Pertanyaan yang sama selalu terulang, kenapa nilaimu turun, apakah kamu tidak belajar. Aku ingin menjelaskan bahwa aku sudah berusaha, tetapi kata-kata itu selalu tertahan. Tidak ada ruang untuk penjelasan, hanya ada penilaian.
Sejak saat itu, aku mulai merasa gagal.
Di saat yang sama, keadaan ekonomi keluarga kami memburuk. Rumah yang sebelumnya sunyi kini dipenuhi suara pertengkaran. Ayah dan ibu sering beradu kata. Nada suara mereka meninggi, pintu dibanting, dan kata-kata tajam memenuhi udara.
Aku sering bersembunyi di kamar.
Memeluk lututku, menatap langit-langit yang kosong, mencoba menahan air mata yang terus ingin jatuh. Kakakku tidak pernah benar-benar ada untukku. Ia sibuk dengan dunianya sendiri.
Dan aku belajar satu hal.
Aku harus kuat sendiri.
Namun kekuatan itu perlahan mengikis diriku. Aku lelah. Lelah memendam semuanya sendirian. Lelah berpura-pura baik-baik saja. Lelah menjadi seseorang yang tidak pernah benar-benar didengar.
Aku pernah mencoba bercerita kepada ibu.
Namun yang kudapat hanyalah penilaian, bukan pengertian.
Sejak saat itu, aku memilih diam.
Aku pikir diam akan melindungiku, tetapi ternyata diam justru membuat luka semakin dalam. Pikiran-pikiran gelap mulai muncul. Awalnya hanya sekadar keinginan untuk menghilang, lalu berubah menjadi dorongan yang lebih menakutkan.
Aku mulai berpikir tentang mengakhiri semuanya.
Hingga suatu hari, saat aku duduk di kelas dua belas SMA, sesuatu yang tidak pernah aku bayangkan terjadi.
Hari itu adalah hari pembagian rapor.
Aku berjalan keluar dari sekolah dengan perasaan takut. Peringkatku kembali turun. Namun hari itu berbeda karena ayah datang menjemputku.
Kami berjalan berdampingan dalam diam. Aku menunduk, tidak berani menatapnya. Aku sudah siap mendengar kekecewaan.
Namun tiba-tiba, ayah mengelus kepalaku.
“Tidak apa-apa kalau turun, Vita sudah berusaha.”
Aku terdiam.
Air mataku jatuh tanpa bisa kutahan. Untuk pertama kalinya, aku merasa dimengerti. Kalimat itu sederhana, tetapi terasa seperti pelukan yang selama ini aku rindukan.
Sesampainya di rumah, ibu memarahiku seperti biasa. Namun kali ini, ayah berdiri di sisiku.
“Vita sudah berusaha, jadi tidak perlu dibahas lagi,” katanya tegas.
Sejak saat itu, sesuatu berubah.
Ayah mulai lebih hadir. Ia memperhatikan hal-hal kecil, mengingatkanku untuk istirahat, memuji gambar yang kubuat, dan sesekali menanyakan hariku. Kehadirannya yang dulu terasa jauh kini mulai mendekat, pelan tetapi pasti.
Suatu malam, ayah duduk di sampingku.
“Kalau nanti kamu kuliah dan wisuda, ayah takut kamu malu karena ayah sudah tua.”
Aku langsung menoleh.
“Mana mungkin aku malu. Ayah tetap ayahku.”
Ayah tersenyum.
Momen itu sederhana, tetapi terasa hangat. Untuk pertama kalinya, aku merasa memiliki tempat untuk bersandar.
Kebahagiaan itu tidak berlangsung lama.
Hari yang kutakutkan datang tanpa peringatan.
Ayah terbaring lemah di tempat tidur, dan aku berdiri di sampingnya, menggenggam tangannya erat. Tangannya yang dulu kuat kini terasa rapuh.
“Jangan menangis, ya …?” katanya pelan.
Aku mengangguk, tetapi aku tahu aku tidak akan mampu.
Air mataku jatuh tanpa bisa dihentikan.
Aku terus menangis, bahkan saat ia mengembuskan napas terakhirnya.
Duniaku runtuh.
Setelah kepergian ayah, rumah itu kembali menjadi sunyi. Bahkan lebih sunyi dari sebelumnya. Kehangatan yang sempat hadir ikut menghilang. Luka lama yang sempat tertutup kembali terbuka.
Aku kembali tenggelam.
Pikiran-pikiran gelap datang lebih sering, lebih kuat. Hingga suatu saat, aku benar-benar mencoba mengakhiri hidupku.
Namun aku masih di sini.
Dan dari situlah aku mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak baik-baik saja dalam diriku.
Akhirnya, aku memberanikan diri mencari bantuan. Aku pergi ke psikolog. Dengan suara yang bergetar, aku menceritakan semuanya. Tentang keluargaku, tentang kesepian, tentang luka yang selama ini kupendam.
Dan di sanalah aku mengetahui bahwa aku mengalami depresi.
Aku terdiam.
Untuk pertama kalinya, aku merasa lega.
Apa yang kurasakan bukan kelemahan. Itu nyata. Itu valid.
Di saat yang sama, seseorang datang.
Namanya Amadan.
Ia adalah teman sekelasku saat SMA. Ia mulai mendekat, perlahan, tanpa memaksa. Ia mendengarkan ceritaku tanpa menghakimi. Ia tidak banyak bicara, tetapi kehadirannya terasa cukup.
“Aku di sini,” katanya suatu hari.
Kalimat itu sederhana, tetapi bagiku, itu berarti segalanya.
Aku mulai membuka diri. Aku menceritakan semua yang selama ini kupendam. Tidak sekaligus, tetapi sedikit demi sedikit. Untuk pertama kalinya, aku merasa benar-benar didengar.
Amadan tidak mencoba memperbaiki segalanya. Ia hanya tetap ada.
Dan itu sudah lebih dari cukup.
Bersamanya, aku mulai merasakan hidup kembali. Jika sebelumnya dunia terasa gelap, kini ada cahaya kecil yang perlahan tumbuh.
Aku seperti seseorang yang hampir tenggelam di lautan gelap, kehabisan tenaga dan kehilangan arah.
Lalu ia datang.
Ia menggenggam tanganku, menarikku ke permukaan, dan tidak melepaskannya.
Genggamannya hangat.
Hangat yang sederhana, tetapi cukup untuk membuatku bertahan.
Sekarang, ia adalah bagian dari hidupku.
Ia tidak menggantikan ayahku, tetapi ia menguatkanku dengan caranya sendiri. Ia tidak menghapus lukaku, tetapi ia mengajarkanku bagaimana hidup berdampingan dengan luka itu.
Setelah lulus dari SMA, hidup kembali menghadirkan pilihan yang tidak mudah.
Aku dan Amadan memilih universitas yang berbeda.
Bukan tanpa alasan, aku sengaja memilih kampus di luar kota. Bukan karena aku ingin pergi jauh darinya, tetapi karena aku ingin menjauh dari rumah yang selalu terasa menyesakkan. Aku ingin memulai sesuatu yang baru, di tempat yang tidak dipenuhi bayangan luka masa lalu.
Keputusan itu tidak mudah.
Aku sempat ragu, takut jarak akan mengubah segalanya. Namun Amadan tidak pernah menahanku.
“Aku akan tetap di sini, apapun pilihanmu,” katanya.
Kalimat itu menenangkanku.
Akhirnya, kami menjalani hubungan jarak jauh.
Hari-hari terasa berbeda. Tidak ada lagi pertemuan sederhana di sekolah, tidak ada obrolan langsung yang hangat. Semua digantikan oleh pesan singkat, panggilan suara, dan kadang video call yang terputus-putus.
Namun anehnya, ia tetap terasa dekat.
Di tengah kehidupan baruku sebagai mahasiswa di kota lain, ada satu hal yang perlahan berubah.
Ibu mulai sering meneleponku.
Awalnya hanya sesekali, lalu semakin rutin. Ia menanyakan kabarku, apakah aku sudah makan, apakah aku cukup istirahat, apakah kuliahku berjalan lancar.
“Jangan lupa makan, ya.”
“Jangan begadang terus.”
Kalimat-kalimat itu sederhana, tetapi terasa asing bagiku.
Aku menjawab seperlunya.
“Iya, Bu.”
“Sudah makan.”
Namun aku tidak pernah benar-benar bercerita.
Aku tidak menceritakan bagaimana hariku, bagaimana lelahnya kuliah, atau bagaimana pikiranku kadang kembali kacau. Ada jarak yang tidak terlihat, jarak yang kubangun sendiri.
Aku masih takut.
Takut jika aku kembali bercerita, aku akan kembali dihakimi seperti dulu.
Hingga suatu hari, ibu bertanya sesuatu yang tidak pernah ia tanyakan sebelumnya.
“Kenapa kamu tidak pernah menceritakan apa pun ke Ibu?”
Aku terdiam.
Pertanyaan itu terasa sederhana, tetapi menghantam begitu dalam.
Beberapa detik kemudian, ibu kembali berbicara, suaranya lebih pelan.
“Ibu suka iri melihat anak-anak di luar sana yang dekat dengan ibunya.”
Kalimat itu membuat dadaku sesak.
Air mataku jatuh begitu saja.
Semua yang selama ini kupendam seolah mencari jalan keluar.
“Aku tidak pernah cerita ke Ibu …!” suaraku bergetar, “karena sejak dulu Ibu selalu menilai ceritaku. Aku hanya ingin didengarkan, bukan dihakimi.”
Hening.
Untuk sesaat, hanya suara napas kami yang terdengar.
Percakapan itu berubah menjadi perdebatan. Emosi yang selama ini kupendam akhirnya keluar. Aku mengungkapkan semuanya, rasa kecewa, rasa sakit, dan rasa kehilangan yang selama ini tidak pernah sempat kusampaikan.
Namun di balik itu, ada sesuatu yang berbeda.
Ibu tidak memotong ucapanku.
Ia mendengarkan.
Dan untuk pertama kalinya, aku merasakan itu.
Di akhir percakapan, suara ibu terdengar lirih.
“Maaf ya … selama ini Ibu mungkin tidak mengerti.”
Aku terdiam.
Air mataku kembali jatuh.
“Aku juga minta maaf, Bu …” kataku pelan.
Percakapan itu tidak langsung memperbaiki semuanya.
Namun, ada sesuatu yang berubah.
Ada ruang yang mulai terbuka.
Beberapa hari kemudian, ibu menceritakan sesuatu yang membuat hatiku semakin teriris.
Ibu menceritakan bahwa ayah pernah bertanya kepada ibu, “Kenapa ya anak-anak kita tidak ada yang dekat dengan kita?”
Aku terdiam.
Air mataku jatuh tanpa suara.
Dadaku terasa sesak oleh penyesalan.
Kenapa aku tidak pernah mencoba lebih dekat dengan mereka sejak dulu?
Namun, di saat yang sama, pertanyaan lain muncul dalam benakku.
Kenapa mereka tidak menyadari bahwa sikap mereka yang membuat kami menjauh?
Aku tidak menemukan jawaban yang pasti.
Yang ada hanyalah perasaan campur aduk antara rindu, marah, dan menyesal.
Untuk pertama kalinya, aku tidak lari dari perasaan itu.
Aku menghadapinya.
Aku masih merindukan ayah.
Rindu itu tidak pernah benar-benar hilang. Kadang datang tiba-tiba, seperti hujan yang turun tanpa tanda. Dan setiap kali itu terjadi, aku tetap menangis.
Aku tahu, aku tidak bisa menepati permintaan terakhirnya.
Kini, tangisan itu tidak lagi terasa sesakit dulu.
Karena aku tidak lagi sendirian.
Ada seseorang yang tetap menggenggam tanganku, bahkan ketika aku hampir jatuh lagi. Seseorang yang tidak memaksaku untuk kuat, tetapi memilih berjalan bersamaku, meski dari jarak yang jauh.
Dan perlahan, ada satu orang lagi yang mulai kembali mendekat.
Ibuku.
Kami mulai berbicara lebih sering, tidak hanya sekadar menanyakan kabar, tetapi juga perlahan berbagi cerita. Memang tidak langsung lancar, kadang masih ada canggung, kadang masih ada diam yang panjang. Namun, kali ini berbeda karena kami sama-sama berusaha.
Aku mulai berani bercerita, meski sedikit demi sedikit.
Dan ibu mulai belajar mendengarkan, tanpa terburu-buru menilai.
Akhirnya, hubungan aku dan ibu membaik.
Kami menjadi lebih dekat, bukan karena semua luka hilang, tetapi karena kami memilih untuk saling memahami. Kami belajar menerima masa lalu tanpa terus terjebak di dalamnya.
Dan dari semua itu, aku belajar satu hal.
Hidup bukan tentang seberapa dalam kita pernah tenggelam.
Tetapi tentang siapa yang datang, yang tetap tinggal, dan yang dengan tulus membantu kita kembali ke permukaan.
Aku masih berjalan.
Dengan luka yang perlahan sembuh.
Dengan langkah yang mungkin belum sempurna.
Aku tidak lagi takut.
Karena aku tahu, di saat aku hampir tenggelam, akan selalu ada genggaman yang menyelamatkanku.
Editor: Annisa Dwi Rahman







