Anak Lanang (2017) : Senandung di Atas Becak

Oleh: Monica Merlyna Puspitasari

Judul Film : Anak Lanang

Sutradara : Wahyu Agung Prasetyo

Tahun rilis : 2017

Produksi : Ravacana Films

Durasi : 14.51 menit

Bahasa : Jawa, Indonesia

Sinopsis

Film “Anak lanang” adalah film pendek yang berkisah tentang perjalanan pulang empat anak laki-laki sekolah dasar ditemani tukang becak. Anak-anak tersebut bernama Samsul, Sigit, Yudho dan Danang. Sepanjang perjalanan, mereka saling berbincang layaknya anak seusia mereka, seperti membahas pekerjaan rumah, rencana bermain, menceritakan teman mereka hingga hari ibu. Selama perjalanan, tokoh Yudho dan Danang kerap terlibat dalam pertengkaran kecil layaknya konflik antar teman. Namun perdebatan diantara keduanya berakar dari dinamika keluarga mereka. Di akhir film terjawab bahwa Yudho dan Danang tinggal dalam rumah yang sama. Pengungkapan di akhir film ini adalah kenyataan bahwa mereka memiliki ibu yang berbeda, namun dengan ayah yang sama. Percakapan singkat mengenai hari ibu menjadi salah satu pesan tersirat yang menyoroti peran dan pengaruh pola asuh dalam keluarga.

Ulasan

Film pendek berdurasi 14.51 menit ini membawa penonton pada realitas kehidupan dalam lingkup keluarga. “Buah jatuh tak jauh dari pohonnya” adalah salah satu peribahasa yang dapat merangkum isi dari film ini. Anggapan bahwa anak laki-laki akan membawa sifat dari ibunya begitu jelas diceritakan melalui percakapan tokoh. Hal yang paling disorot dalam film ini, bagaimana sifat seorang anak adalah tercermin dari orang tua, terutama seorang ibu. Orang tua merupakan model utama yang akan ditiru oleh anak,  apa yang ia lihat dan dengar menjadikan hal itu wajar di matanya. Hal ini terkait dengan pola asuh orang tua, dan bagaimana sikap dari ayah dan ibu ketika berkomunikasi satu sama lain. Danang berbicara lantang dan terkesan berteriak, ternyata sang ibu juga demikian. Sigit dengan pembawaan yang terkesan tenang dan penyabar, ternyata ibunya juga demikian. Karakteristik dua anak ini menjadi contoh nyata bahwa bagaimana pola asuh orang tua itu sangat penting bagi tumbuh dan kembang seorang anak.

Perbincangan singkat mengenai hari ibu, adanya perasaan diabaikan dari salah satu tokoh. Ketika ia mencoba untuk mengungkapkan hari ibu tapi ternyata ungkapan itu tidak dibalas oleh sang ibu dan seakan tidak peduli. Hal ini membuatnya mempertanyakan untuk apa ungkapan hari ibu itu ada. Ungkapan sayang kepada ibu dari sang anak, terutama anak lelaki menjadi hal yang tidak wajar dan memalukan. Padahal mengungkapkan rasa sayang juga akan menumbuhkan kasih antara anak dan orang tua.

Proses pengerjaan film pendek ini menggunakan pengambilan gambar dengan teknik one take shot. Teknik ini diambil tanpa jeda dari awal hingga akhir. Karakter dalam film ini sangat baik dan terkesan natural selayaknya anak sekolah dasar. Para aktor cilik dengan perannya yang terasa natural berhasil menyampaikan makna dari cerita ini dengan sangat baik. Film singkat dengan teknik one take shot memberikan banyak makna dari setiap percakapan keempat anak tersebut dan orang tuanya.

Namun, kekurangan dalam film ini terdapat pada bahasa dan subtitle. Film yang mengandalkan kekuatan dialog ini menggunakan bahasa jawa yang natural dan percakapan sehari-hari. Sehingga penonton yang tidak memahami bahasa jawa akan terpaku pada subtitle yang diberikan. Selain itu, percakapan yang natural dan cepat membuat subtitle tidak sinkron dengan dialog dalam bahasa jawa. Sehingga fokus penonton akan terbagi antara makna dialog dengan ekspresi aktor. Hal ini bisa saja membuat makna dalam film tidak dapat tersalurkan dengan maksimal.

Rekomendasi

Film ini sangat direkomendasikan bagi penonton yang menyukai film pendek sederhana berdurasi 15 menit. Pesan yang disampaikan dalam film pendek ini mendalam dan jelas, bahwa pola asuh dan karakter orang tua menjadi hal penting yang perlu diperhatikan dalam tumbuh kembang seorang anak. Film ini disajikan dalam bentuk percakapan empat karakter anak laki laki sekolah dasar dan seorang tukang becak. Selain itu, film ini diambil dengan teknik one take shoot, teknik pengambilan gambar dimana adegan direkam tanpa jeda atau satu kali tanpa potongan. Teknik ini lah yang membuat film ini terasa lebih natural. Bagi penonton yang menyukai film dengan teknik ini, film pendek dengan judul “Anak Lanang” dapat menjadi salah satu pilihan untuk di tonton.

Editor: Ryu Athallah Raihan

 

Redaksi

beritaunsoed.com adalah sebuah media independen yang dikelola oleh LPM Sketsa Unsoed dan merupakan satu-satunya Lembaga Pers Mahasiswa tingkat Universitas Jenderal Soedirman di Purwokerto.

Postingan Terkait

Curhat ke ChatGPT: Solusi Emosional atau Pemicu Isolasi?

Oleh: Nurul Irmah Agustina Bukankah aneh ketika anak muda lebih nyaman membuka rahasia ke mesin daripada…

Budaya Malu Menstruasi, Apakah Warisan Patriarki?

Oleh: Nurul Irmah Agustina Di era kontemporer, perempuan masih sering menyebut menstruasi dengan istilah lain, seperti…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jangan Lewatkan

Mengenal Tokoh Bangsa dan Jejak Pengabdiannya di Museum Soesilo Soedarman

Mengenal Tokoh Bangsa dan Jejak Pengabdiannya di Museum Soesilo Soedarman

Mimbar Bebas Banyumas Problematik: Refleksi Kebijakan untuk Banyumas yang Lebih Baik

Mimbar Bebas Banyumas Problematik: Refleksi Kebijakan untuk Banyumas yang Lebih Baik

Museum Wayang Banyumas: Sunyi yang Menyisakan Jejak

Museum Wayang Banyumas: Sunyi yang Menyisakan Jejak

Banyumas Culture Festival dan Kirab Pusaka Meriahkan Hari Jadi ke-455 Kabupaten Banyumas

Banyumas Culture Festival dan Kirab Pusaka Meriahkan Hari Jadi ke-455 Kabupaten Banyumas

Tambah Spot Nongkrong di Unsoed, Pringsewu Hadirkan Kandang Kopi di Fakultas Peternakan

Tambah Spot Nongkrong di Unsoed, Pringsewu Hadirkan Kandang Kopi di Fakultas Peternakan

Pemira 2025 Usai: Krisis Regenerasi Kepemimpinan dan Demokrasi Mahasiswa Masih Melekat

Pemira 2025 Usai: Krisis Regenerasi Kepemimpinan dan Demokrasi Mahasiswa Masih Melekat