Curhat ke ChatGPT: Solusi Emosional atau Pemicu Isolasi?

Oleh: Nurul Irmah Agustina

Ilustrasi: M. Robin Mubarok
Ilustrasi: M. Robin Mubarok

Bukankah aneh ketika anak muda lebih nyaman membuka rahasia ke mesin daripada manusia? Fenomena ini nyata adanya—mereka lebih memilih curhat kepada ChatGPT ketimbang teman atau keluarganya sendiri. Data Common Sense Media yang dikutip Kompas.com menyebut 72% remaja berusia 13–17 tahun pernah menggunakan “pendamping AI”, dan sepertiga di antaranya menjadikan chatbot sebagai tempat berbagi masalah hidup yang serius. Bagi sebagian orang, ini mungkin mengejutkan, tetapi sebenarnya masuk akal—ChatGPT bukan sekadar mesin AI (Artificial Intelligence), ia hadir dengan gaya bahasa yang dapat membuat penggunanya merasa didengar dan dipahami.

Dengan kemampuan merespons pertanyaan atau keluhan secara cepat, bernada positif, bahkan memberi kesan emosional layaknya manusia, ChatGPT kini menjadi pelarian bagi banyak orang yang merasa kesepian atau kesulitan bersosialisasi di dunia nyata. Fenomena ini tidak lepas dari pesatnya perkembangan teknologi AI yang sudah merasuk ke hampir semua aspek kehidupan. Dalam artikel berjudul ChatGPT Revenue and Usage Statistics (2025), tercatat bahwa pada awal tahun 2025 jumlah pengguna ChatGPT telah menembus 400 juta orang. Angka ini menunjukkan betapa kuatnya daya tarik AI dalam menggantikan peran manusia dalam relasi emosional.

Meskipun bagi sebagian orang berinteraksi dengan ChatGPT terasa menyenangkan, teknologi ini tetap tidak bisa sepenuhnya menggantikan kedalaman interaksi manusia di dunia nyata. Terlalu nyaman mengandalkannya justru berisiko menimbulkan ketergantungan hingga membuat pengguna tanpa sadar terisolasi dari lingkungannya. Lebih dari itu, ada kemungkinan mereka kehilangan jati diri karena lebih percaya pada respons chatbot daripada suara hati sendiri. Oleh karena itu, menarik untuk ditelaah bagaimana ChatGPT di satu sisi mampu memenuhi kebutuhan emosional, tetapi di sisi lain berpotensi mendorong isolasi sosial.

Dalam memenuhi kebutuhan emosional, ChatGPT merespons dengan gaya bahasa yang hangat layaknya teman curhat dan tidak menghakimi. Hal inilah yang membuat banyak orang merasa diterima. Penelitian Norsely dkk. (2023) dalam “Pengalaman Interaksi Pengguna Remaja Curhat dengan ChatGPT”, menegaskan bahwa rasa aman, anonimitas, serta ketersediaan 24/7 menjadi faktor utama yang membuat teknologi AI ini mudah dijangkau sebagai sumber dukungan emosional. Tidak heran jika banyak pengguna merasa lebih nyaman dan bebas ketika menumpahkan segala keluh kesah mereka pada ChatGPT dibandingkan orang-orang sekitarnya.

Nyatanya, banyak orang memilih memendam perasaan daripada membagikannya kepada orang lain, karena khawatir privasi mereka tersebar dari mulut ke mulut. Di sinilah ChatGPT menawarkan anonimitas yang membuat pengguna merasa lebih aman. Curhat kepada ChatGPT juga dapat berdampak positif bagi kesehatan mental, sebab terlalu sering menahan emosi justru memicu gangguan psikologis seperti stres. RRI.co.id bahkan mencatat bahwa penumpukan emosi yang tidak tersalurkan bisa berujung pada ketegangan fisik dan ketidakseimbangan hormon. Dengan demikian, ChatGPT dapat menjadi ruang alternatif bagi mereka yang sedang stres atau kesepian untuk menstabilkan kebutuhan emosionalnya.

Selain memberi dukungan emosional dengan kata-kata penyemangat dan afirmasi positif, ChatGPT juga mampu menawarkan solusi yang realistis atas persoalan sehari-hari. Jika jawabannya dirasa terlalu rumit, pengguna bisa meminta penjelasan yang lebih sederhana. Dengan fleksibilitas ini, ChatGPT tidak hanya hadir sebagai teman curhat, tetapi juga sebagai penasihat yang praktis. Penelitian Norsely dkk. (2023) menunjukkan bahwa sebagian informan merasa jawaban ChatGPT membantu mereka melihat persoalan dari sudut pandang yang lebih luas sekaligus memudahkan pemecahan masalah. Dalam konteks ini, ChatGPT hadir bukan sebagai mesin yang menggurui, melainkan teman dekat yang mengayomi.

Meskipun demikian, teknologi ini tetap tidak bisa menggantikan kompleksitas dan makna emosi manusia. Lebih dari itu, terlalu nyaman bergantung padanya justru berisiko memicu ketidakpercayaan terhadap orang lain. Padahal, manusia sejatinya adalah makhluk sosial yang membutuhkan interaksi nyata dengan keluarga maupun teman. Jika ChatGPT terus-menerus dijadikan sandaran utama tanpa keseimbangan di dunia nyata, pengguna bisa merasa terasing dan kehilangan keterampilan berkomunikasi. Riset MIT Media Lab bersama OpenAI, sebagaimana dilaporkan Kompas.com, juga menemukan bahwa pengguna yang intens berinteraksi dengan ChatGPT cenderung lebih rentan mengalami ketergantungan emosional dan perasaan isolasi ketika percakapan menjadi personal.

Menurut Omri Gillath, profesor psikologi dari University of Kansas, interaksi manusia dengan chatbot terasa “palsu” dan “kosong” karena tidak mampu menghadirkan kenyamanan fisik seperti pelukan. Senada dengan itu, Sam Altman, CEO OpenAI, yang dikutip Indonesia Artificial Intelligence Hub, mengungkapkan bahwa Gen Z kini memperlakukan ChatGPT layaknya penasihat hidup—bahkan kerap menunda keputusan sebelum menanyakannya terlebih dahulu. Fenomena ini mengisyaratkan bahaya—ketika ketergantungan semakin dalam, pengguna bisa kehilangan jati diri dan melemahkan prinsip hidupnya sendiri.

Dengan demikian, ChatGPT bisa berfungsi sebagai mesin yang memberi respons emosional positif dan menjadi teman curhat. Namun, jika ketergantungan sudah terbentuk, pengguna berisiko mengalami isolasi sosial dan terkikisnya jati diri. Sebagai pengguna yang bijak, kita perlu membatasi penggunaan ChatGPT sebagai teman curhat ataupun penasihat hidup, sebab ia tetap mesin yang tak sepenuhnya memahami kompleksitas emosi manusia. Interaksi nyata dengan orang lain justru lebih bermakna dan terasa autentik. Hal ini tentu tidak bisa digantikan oleh algoritme. Untuk itu, kita bisa menggunakan AI sebagai sahabat sementara, tetapi bukan sebagai penentu siapa kita.

Editor: Nadia Amalia Wibowo

Redaksi

beritaunsoed.com adalah sebuah media independen yang dikelola oleh LPM Sketsa Unsoed dan merupakan satu-satunya Lembaga Pers Mahasiswa tingkat Universitas Jenderal Soedirman di Purwokerto.

Postingan Terkait

Anak Lanang (2017) : Senandung di Atas Becak

Oleh: Monica Merlyna Puspitasari Judul Film : Anak Lanang Sutradara : Wahyu Agung Prasetyo Tahun rilis…

Budaya Malu Menstruasi, Apakah Warisan Patriarki?

Oleh: Nurul Irmah Agustina Di era kontemporer, perempuan masih sering menyebut menstruasi dengan istilah lain, seperti…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jangan Lewatkan

Mengenal Tokoh Bangsa dan Jejak Pengabdiannya di Museum Soesilo Soedarman

Mengenal Tokoh Bangsa dan Jejak Pengabdiannya di Museum Soesilo Soedarman

Mimbar Bebas Banyumas Problematik: Refleksi Kebijakan untuk Banyumas yang Lebih Baik

Mimbar Bebas Banyumas Problematik: Refleksi Kebijakan untuk Banyumas yang Lebih Baik

Museum Wayang Banyumas: Sunyi yang Menyisakan Jejak

Museum Wayang Banyumas: Sunyi yang Menyisakan Jejak

Banyumas Culture Festival dan Kirab Pusaka Meriahkan Hari Jadi ke-455 Kabupaten Banyumas

Banyumas Culture Festival dan Kirab Pusaka Meriahkan Hari Jadi ke-455 Kabupaten Banyumas

Tambah Spot Nongkrong di Unsoed, Pringsewu Hadirkan Kandang Kopi di Fakultas Peternakan

Tambah Spot Nongkrong di Unsoed, Pringsewu Hadirkan Kandang Kopi di Fakultas Peternakan

Pemira 2025 Usai: Krisis Regenerasi Kepemimpinan dan Demokrasi Mahasiswa Masih Melekat

Pemira 2025 Usai: Krisis Regenerasi Kepemimpinan dan Demokrasi Mahasiswa Masih Melekat