Oleh: Nurul Irmah Agustina
Di era kontemporer, perempuan masih sering menyebut menstruasi dengan istilah lain, seperti “datang bulan”, “lagi dapet”, atau “halangan”. Penghalusan istilah ini termasuk dalam bentuk eufemisme—ungkapan yang lebih halus untuk menggantikan istilah yang dirasa kasar, merugikan, atau tidak menyenangkan. Dalam konteks ini, menstruasi kerap kali dipandang sebagai sesuatu yang memalukan. Mengapa hal ini bisa terjadi? Setidaknya ada dua penyebab utama. Pertama, topik menstruasi masih dianggap tabu di masyarakat, sehingga memunculkan stigma negatif seperti anggapan “kotor” atau “tidak suci” terhadap perempuan yang sedang menstruasi. Kedua, budaya patriarki yang masih mengakar kuat turut memengaruhi cara pandang laki-laki terhadap tubuh perempuan, termasuk saat menstruasi. Hal inilah yang membentuk rasa malu kolektif dalam diri mereka, yang kemudian tercermin dalam eufemisme sehari-hari.
Tabu Menstruasi di Masyarakat
Di Indonesia, menstruasi dianggap sebagai topik yang tabu. Akibatnya, pembicaraan seputar menstruasi jarang dibahas di area publik. Hal ini membentuk pandangan keliru tentang tubuh perempuan, yang tanpa sadar turut dilanggengkan oleh keluarga, khususnya orang tua. Sebagai contoh, banyak anak perempuan yang sejak dini diajarkan untuk menyembunyikan menstruasinya. Seperti yang diungkapkan akun X @bakpaocoklattt2: “Aku awal datang bulan umur 10 thn kls 4 SD … terus sama ibuku disuruh ‘jangan bilang siapa-siapa’ dan aku selalu bohong ke teman”. Senada dengan itu, akun @menghanyutkan menulis: “Dilarang ngomong ‘menstruasi’ dan disuruh ngomong ‘halangan’, terus disuruh ngumpetin pembalut. Ternyata gak semua perempuan punya keluarga yang menganggap menstruasi itu fenomena normal utk tubuh perempuan.”
Dua pengalaman ini menunjukkan bahwa bahkan di dalam keluarga—ruang yang seharusnya paling aman—menstruasi tetap diperlakukan sebagai sesuatu yang memalukan. Sikap ini secara tidak langsung menolak kodrat biologis perempuan. Minimnya edukasi sejak dini tentang menstruasi di lingkup keluarga maupun sekolah dasar turut menjadi penyebab utama mengapa topik ini masih dianggap tabu di masyarakat. Akibatnya, banyak anak perempuan merasa kaget, takut, atau bahkan malu saat pertama kali mengalaminya.
Survei UNICEF Indonesia mencatat bahwa satu dari tujuh siswi yang sedang menstruasi memilih absen dari sekolah karena merasa cemas, tertekan, dan malu jika diketahui sedang menstruasi. Ketakutan ini diperkuat oleh mitos yang terus diwariskan—bahwa darah haid dianggap kotor dan berbahaya. Padahal, dari sudut pandang medis, anggapan tersebut tidaklah benar. Dikutip dari CNN Indonesia, Achmad Kemal Harzif, dokter spesialis kandungan dan ahli fertilitas endokrinologi reproduksi, menyatakan bahwa “Darah menstruasi itu berasal dari jaringan dinding rahim yang luruh, bukan darah kotor dalam arti sebenarnya”. Ia menduga bahwa istilah darah kotor muncul karena adanya larangan ibadah bagi perempuan yang sedang haid dalam ajaran agama tertentu.
Menstruasi: Persoalan Struktural Global
Budaya tabu tentang menstruasi ternyata tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di negara lain, termasuk India. Dikutip dari Kumparan.com, sejumlah perempuan di India mengalami pengalaman buruk ketika menstruasi. Salah satunya Manju Baluni, mengungkapkan bahwa keluarganya memperlakukannya seperti orang yang tak tersentuh. Ia dilarang ke dapur, tidak bisa masuk kuil, dan tidak diizinkan duduk dengan orang lain. Jurnalis India, Rupa Jha, dalam tulisannya 100 Women 2014: The taboo of menstruating in India, memaparkan bahwa beberapa perempuan di India yang sedang menstruasi dianggap kotor, tidak suci, sakit, bahkan terkutuk. Pengalaman serupa juga dialami Margdarshi, yang pernah berhenti sekolah karena tidak mampu mengelola kebersihan saat menstruasi. “Sampai saat ini, saya kerap merasa malu, marah, dan sangat kotor,” ungkapnya.
Kisah-kisah ini menunjukkan bahwa stigma terhadap menstruasi merupakan masalah struktural global, yang bukan sekadar persoalan kebodohan atau miskonsepsi medis, tetapi bagian dari sistem nilai di masyarakat yang menindas tubuh perempuan secara kolektif.
Konstruksi Budaya Patriarki
Selain anggapan tabu masyarakat, budaya malu menstruasi juga dipengaruhi oleh konstruksi gender dalam budaya patriarki. Hal ini tidak hanya berdampak pada perempuan, tetapi juga laki-laki. Misalnya, ketika seorang laki-laki diminta membelikan pembalut, tak jarang ia merasa malu dan canggung untuk melakukannya. Padahal, membeli pembalut bukanlah tindakan yang haram.
Fenomena ini bisa dikaitkan dengan konstruksi maskulinitas dalam budaya patriarki—yang menanamkan anggapan bahwa laki-laki sejati tidak boleh terlibat dalam hal-hal yang dianggap “feminin”. Pembalut, sebagai simbol kebutuhan biologis perempuan, dapat diasosiasikan sebagai sesuatu yang feminin. Dalam konteks ini, seorang laki-laki yang terlihat membawa pembalut dianggap tidak maskulin, dan karenanya menjadi sasaran olok-olok yang menciptakan rasa malu. Hal ini menunjukkan bahwa budaya patriarki tak hanya mengekang perempuan, tetapi juga mempersempit ruang gerak laki-laki dalam mengekspresikan empati dan mendobrak norma gender yang sempit.
Selain itu, banyak perempuan juga merasa malu dan canggung ketika membeli pembalut di depan laki-laki. Hal ini karena adanya persepsi bahwa laki-laki akan menilai atau mengaitkan pembicaraan seputar menstruasi dengan hal-hal yang sensitif atau seksual. Seorang mahasiswi Universitas Jenderal Soedirman, berinisial N, mengungkapkan bahwa ia pernah diberi pertanyaan kurang sopan dari sepupu laki-lakinya yang diminta untuk membeli pembalut. Pertanyaan itu berkaitan dengan apakah ada keterkaitan antara ukuran pembalut dengan ukuran alat reproduksi perempuan. Hal ini menunjukkan rendahnya pengetahuan sebagian laki-laki tentang menstruasi dan tubuh perempuan. Padahal, hal ini penting bagi mereka—agar tidak menganggap perempuan yang sedang menstruasi dengan pandangan yang keliru atau buruk, yang berujung pada tindakan diskriminasi.
Meskipun tidak semua perempuan terjebak dalam budaya malu yang dikonstruksi masyarakat, sebagian masih menggunakan eufemisme seperti “datang bulan” atau “halangan” ketika menstruasi. Dua penyebab utamanya adalah pandangan masyarakat yang menganggap menstruasi tabu, serta peran gender dalam sistem patriarki yang memengaruhi cara laki-laki memandang tubuh perempuan. Jika kondisi ini terus dibiarkan, perempuan akan terus merasa malu terhadap kodrat biologisnya sendiri dan berisiko kehilangan rasa percaya diri akibat stigma negatif yang diterimanya.
Untuk itu, diperlukan keterbukaan antara laki-laki dan perempuan dalam membicarakan menstruasi secara wajar. Selain itu, edukasi sejak dini—baik di lingkungan keluarga maupun di institusi pendidikan formal—harus menjadi prioritas. Hanya dengan pemahaman yang benar dan inklusif, menstruasi dapat dipandang sebagai hal yang normal, bukan sesuatu yang harus disembunyikan atau dipermalukan.
Editor: Helmalia Putri









