Anti Bingung, Ini 4 Kuliner Tradisional Banyumas yang Cocok untuk Buah Tangan

Penulis: Dina Fitria Salsabila

Jajaran produk oleh-oleh khas Banyumas yang memadukan jajanan legendaris daerah dan kreasi modern di etalase toko. (17/06/2026) (Beritaunsoed.com/Jeni Rindi Afriska)
Jajaran produk oleh-oleh khas Banyumas yang memadukan jajanan legendaris daerah dan kreasi modern di etalase toko. (17/06/2026) (Beritaunsoed.com/Jeni Rindi Afriska)

Momen libur semester selalu menjadi waktu yang paling dinantikan oleh kalangan mahasiswa untuk kembali pulang, merayakan rehat pasca-Ujian Akhir Semester (UAS), sekaligus melepas rindu bersama keluarga di rumah. Menariknya, agenda mudik ini rasanya belum lengkap tanpa tradisi membawa buah tangan khas daerah tempat merantau. Bagi mahasiswa yang menempuh studi di Banyumas, ragam kuliner lokal yang unik sering kali menjadi pilihan utama untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh bagi keluarga tercinta.

Pilihan buah tangan tradisional ini untungnya masih sangat mudah dijumpai. Padahal, menjaga eksistensi kuliner tradisional di tengah gempuran makanan modern tentu menjadi tantangan tersendiri di masa ini. Ahmad Zululloh, salah satu pengelola gerai buah tangan di Banyumas turut mengambil bagian dalam merawat keberadaan penganan lokal tersebut. Ahmad menjelaskan, salah satu langkah untuk merawat panganan lokal adalah dengan modifikasi varian. Langkah modifikasi varian ini dilakukan demi mengubah citra lama kuliner lokal agar lebih dilirik oleh anak muda. Meski gencar menelurkan kreasi unik, ia berkomitmen untuk tidak mengubah metode dasarnya. “Kita cuma main inovasi nanti masuk warna apa rasanya, terus tinggal nanti kita cari nama yang kekinian,” ujarnya. Konsistensi dalam mempertahankan cara manual inilah yang membuat ragam produk di gerainya selalu diburu oleh konsumen lintas generasi. 

Tertarik ikut berburu oleh-oleh khas Banyumas? Berikut adalah empat ragam inovasi kuliner tradisional paling populer yang wajib dicoba:

1. Mendoan Inovatif: Pemikat Pasar Muda

Mendoan yang sejatinya merupakan tempe tipis berbalur tepung dikreasikan secara revolusioner untuk mematahkan kesan bahwa kudapan ini hanya digemari generasi tua. Kreativitas tersebut diwujudkan pada komposisi adonan tepung di kawasan sentra oleh-oleh, yang kini banyak dikombinasikan dengan aci (tapioka) untuk menghasilkan tekstur renyah sekaligus kenyal yang pas. Melansir informasi dari Kompas.com, karakteristik adonan yang khas ini tetap mempertahankan esensi asli mendoan yang berasal dari kata mendo alias setengah matang atau lembek.

Kombinasi adonan autentik tersebut kini semakin kaya berkat paduan berbagai isian modern yang bervariasi, mulai dari isian sosis, telur, hingga daging ayam. Dari segi visual pun, inovasi tidak kalah digencarkan melalui kreasi bentuk yang unik hingga eksperimen pewarnaan merah muda yang memanfaatkan bahan alami dari buah naga segar. Seluruh inovasi kreatif inilah yang sukses membuat penganan tradisional ini kembali viral dan sukses memikat pasar anak muda. Tak hanya dari segi rasa dan tampilan, inovasi juga menyasar pada sistem pengemasan yang kini menyediakan opsi paket mentah praktis siap goreng.

Kepraktisan paket oleh-oleh ini pun turut diapresiasi oleh salah seorang wisatawan asal Bekasi, Lina. “Aku suka banget sama kemasan mendoan besek tradisional begini karena sudah lengkap ada tepung racikan dan sambal kecapnya. Jadi sampai di rumah bisa langsung digoreng hangat-hangat,” ungkapnya.

Stok tempe mentah yang dibungkus rapi dengan daun pisang tradisional, siap dikemas untuk buah tangan para pemudik. (17/06/2026) (Beritaunsoed.com/Jeni Rindi Afriska)
Stok tempe mentah yang dibungkus rapi dengan daun pisang tradisional, siap dikemas untuk buah tangan para pemudik. (17/06/2026) (Beritaunsoed.com/Jeni Rindi Afriska)

2. Getuk Goreng Aneka Rasa Hasil Eksperimen Spontan

Sebagai ikon legendaris khas Sokaraja berbahan dasar singkong dan gula jawa, getuk goreng dikenal dengan cita rasa manis yang legit. Melansir informasi dari Detik Travel, kuliner berbahan dasar singkong dan gula jawa ini awalnya ditemukan secara tidak sengaja oleh seorang penjual nasi rames bernama Sanpirngad, yang mencari cara agar getuk basah dagangannya tidak terbuang sia-sia dengan cara digoreng. Seiring berjalannya waktu, penganan lokal ini terus bertransformasi dibawa ke level baru lewat hadirnya modifikasi varian rasa modern untuk menyiasati kejenuhan pasar, seperti hadirnya pilihan rasa durian, cokelat, hingga keju.

Lebih dari sekadar camilan manis, eksistensi getuk goreng kini telah menjelma menjadi sebuah ruang nostalgia sekaligus simbol kelestarian kuliner tradisional di tengah gempuran jajanan modern. Cita rasa autentik yang tidak pernah berubah dari generasi ke generasi inilah yang membuat getuk goreng selalu memiliki tempat khusus di hati para pencintanya. Hal tersebut diakui oleh salah seorang penikmat kuliner lokal, Pak Suparmono, yang merasakan kedekatan emosional setiap kali menyantap kudapan ini. “Setiap kali makan getuk goreng ini rasanya seperti bernostalgia ke masa lalu, manisnya pas dan cita rasa tradisionalnya benar-benar terjaga. Kuliner asli seperti ini harus terus dilestarikan agar anak cucu kita nanti masih bisa merasakannya,” ungkapnya.

3. Mino dan Nopia Tradisional yang Dipanggang dalam Gentong

Jika mendoan merajai lini kudapan basah, maka mino dan nopia menjadi primadona utama kategori camilan kering. Meski kerap dianggap berbeda oleh pelancong karena kontras fisiknya, kedua penganan ini sejatinya merupakan satu entitas kuliner yang sama, di mana mino merupakan varian mini dari nopia. Jajanan bulat dengan isian manis berbahan dasar terigu, gula jawa, mentega, susu, dan vanili ini dipertahankan proses pembuatannya secara tradisional untuk mengisi etalase gerai oleh-oleh khas tersebut.

Adonan kue sama sekali tidak dipanggang menggunakan mesin oven modern. Proses pembuatannya justru diawali dengan metode dikangsur menggunakan air, kemudian adonan ditempelkan secara manual satu per satu pada dinding bagian dalam gentong tanah liat khusus yang dipanaskan dengan tungku. Proses pemanggangan tradisional ini menghasilkan tingkat kepanasan dan kematangan yang sangat khas. Melalui metode alami tersebut, mino dapat matang sempurna dan mampu bertahan hingga empat sampai lima bulan tanpa tambahan zat pengawet sintetis.

Tanggapan positif mengenai ketahanan dan keaslian rasa ini juga datang dari salah seorang pembeli asal Sumampir, Ria. “Aku rutin kirim mino khas Banyumas ini buat saudaraku yang di Jakarta sama Surabaya. Soalnya rasanya manis legit, masih sangat autentik, dan awet berbulan-bulan padahal tanpa pengawet,” ungkapnya.

Kemasan produk nopia dan mino super legendaris pilihan konsumen yang tertata rapi di dalam rak kaca. (17/06/2026) (Beritaunsoed.com/Jeni Rindi Afriska)
Kemasan produk nopia dan mino super legendaris pilihan konsumen yang tertata rapi di dalam rak kaca. (17/06/2026) (Beritaunsoed.com/Jeni Rindi Afriska)

4. Keripik Tempe: Keunikan Irisan Lembar Tipis

Produk kering lain yang kerap diburu pelancong sebagai buah tangan wajib adalah keripik tempe. Berbeda dengan keripik tempe dari daerah lain, keripik tempe khas Banyumas memiliki keunikan pada teknik pengirisan yang menghasilkan lembaran tempe yang sangat tipis. Melansir informasi resmi dari situs Dolan Banyumas milik Dinporabudpar Kabupaten Banyumas, potongan tempe tipis tersebut kemudian dibalut dengan adonan tepung beras, lalu digoreng hingga kering. Proses pengolahan tradisional ini menghasilkan cita rasa gurih alami dengan tekstur yang sangat renyah dan tahan lama, menjadikannya produk buah tangan kering yang paling diburu oleh para pelancong.

Nah, itulah empat ragam kuliner tradisional khas Banyumas yang paling banyak diminati dan cocok untuk dijadikan buah tangan saat libur semester tiba. Bagi kamu yang tertarik untuk berburu seluruh varian di atas, Banyumas memiliki banyak sekali destinasi kuliner yang menarik untuk dikunjungi.

Bagaimana dengan kamu? Tertarik mencicipi mendoan berbentuk sandal atau gurihnya getuk rasa kopi saat berkunjung ke Purwokerto nanti? Yuk, bagikan pendapatmu di kolom komentar!

Editor: Abbiyu Regiano

Reporter: Annisa Nur Hidayah, Azmi Layaliya Nauro, Dina Fitria Salsabila, Dwi Santika Sukmaningrum, Jeni Rindi Afriska, Reny Diah Merriola

 

Redaksi

beritaunsoed.com adalah sebuah media independen yang dikelola oleh LPM Sketsa Unsoed dan merupakan satu-satunya Lembaga Pers Mahasiswa tingkat Universitas Jenderal Soedirman di Purwokerto.

Postingan Terkait

Menelanjangi “Kodrat”: Mengapa Kartini Akan Menangis Melihat Kita Sekarang?

Oleh: Andika Brilyan Ilustrasi: Aulya Desya Setiap tanggal 21 April, kita terjebak dalam ritual kosmetik: sibuk…

Masihkah Demokrasi Hidup di Bawah Bayang Pembungkaman?

Oleh: Reny Diah Merriola Indonesia secara konstitusional ditegaskan sebagai negara demokrasi yang menjunjung tinggi kedaulatan rakyat…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jangan Lewatkan

Anti Bingung, Ini 4 Kuliner Tradisional Banyumas yang Cocok untuk Buah Tangan

Anti Bingung, Ini 4 Kuliner Tradisional Banyumas yang Cocok untuk Buah Tangan

Narkoba: Harga Mahal dari Sebuah Rasa Penasaran

Narkoba: Harga Mahal dari Sebuah Rasa Penasaran

Menelanjangi “Kodrat”: Mengapa Kartini Akan Menangis Melihat Kita Sekarang?

Menelanjangi “Kodrat”: Mengapa Kartini Akan Menangis Melihat Kita Sekarang?

“Unsoed Berulah Lagi”: Mahasiswa Desak Transparansi dan Jaga Independensi Kampus 

“Unsoed Berulah Lagi”: Mahasiswa Desak Transparansi dan Jaga Independensi Kampus 

Resensi Film You Will Die in 6 Hours

Resensi Film You Will Die in 6 Hours

Masihkah Demokrasi Hidup di Bawah Bayang Pembungkaman?

Masihkah Demokrasi Hidup di Bawah Bayang Pembungkaman?