Tag: Banyumas

Aksi Kamisan: Dongeng Kala Pemilu?
OPINI

Aksi Kamisan: Dongeng Kala Pemilu?

Oleh: Ika Tri Mulyani Ilustrasi: Nilta Maya Shofa Dongeng identik dengan cerita fiksi yang dianggap tidak pernah terjadi. Namun, bagaimana jadinya jika aksi yang berusia 17 tahun ini disebut-sebut sebagai dongeng di kala pemilu? Aksi Kamisan merupakan aksi menuntut pemerintah guna menyelesaikan kasus pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi pada masa Orde Baru. Aksi diam yang kemudian dikenal sebagai Aksi Kamisan ini, dimulai pada 18 Januari 2007 dan dipelopori oleh Maria Katarina Sumarsih (ibu korban tertembak dalam Tragedi Semanggi I), Suciwati Munir (istri mendiang pegiat HAM), dan Bedjo Untung (perwakilan keluarga korban kekerasan dan ketidakadilan dalam peristiwa 1965-1966). Para peserta dan keluarga korban melakukan aksi damai dengan berdiri diam di depan Istana Negara se...
Menyoal Dugaan Pungli di MAN 2 Banyumas
BERITA, FEATURE

Menyoal Dugaan Pungli di MAN 2 Banyumas

Oleh: Sri Hari Yuni Rianti Diskusi terbuka antara perwakilan masyarakat dengan pihak Kementerian Agama Kabupaten Banyumas (17/7). Foto: Putri Sabhrina. Dugaan praktik pungutan liar (pungli) dalam penerimaan siswa baru di sekolah negeri kian ramai diperbincangkan masyarakat. Pada hari Senin (17/7), lima perwakilan dari masyarakat datang ke kantor Kementerian Agama (Kemenag) Banyumas untuk menindaklanjuti kasus yang terjadi di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Banyumas yang dicurigai  terdapat dugaan pungli.  Salah seorang perwakilan masyarakat menjelaskan kepada pihak Kemenag tentang biaya awal pendidikan yang wajib dibayarkan hanya berselang tiga hari setelah siswa juga diwajibkan membeli seragam sekolah senilai Rp 1.500.000. Adapun rincian dari biaya awal pendidikan yang ...
Perjalanan Hidup Rianto Manali Dan Lenggernya
BANYUMASAN

Perjalanan Hidup Rianto Manali Dan Lenggernya

Oleh: Zahroh Almas Majid Rianto Manali adalah seorang penari sekaligus koreografer lengger asal Banyumas. Namanya semakin hangat diperbicangkan terutama setalah munculnya film Kucumbu Tubuh Indahku garapan Garin Nugroho. Kini, sosok Rianto juga makin dikenal secara internasional berkat upayanya memperkenalkan kebudayaan Banyumas khususnya lengger ke berbagai negara, salah satunya adalah Jepang. Rabu (1/6) di pagi yang cerah, kami berangkat dari Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Unsoed menuju rumah lengger di Banyumas untuk bertemu dengan Rianto Manali yang sebelumnya sudah membuat janji untuk bertemu.  Rumah lengger tersebut merupakan bekas gudang kereta dalam masa pemerintahan Belanda. Setibanya di sana, kami menemui Rianto lalu mulai mewawancarainya. Berikut merupakan nukila...
Vaksinasi Covid-19 bagi Masyarakat Umum di Wilayah Banyumas
BERITA FOTO, KAMPUS

Vaksinasi Covid-19 bagi Masyarakat Umum di Wilayah Banyumas

Polresta Banyumas menyelenggarakan vaksinasi Covid-19 dosis pertama gratis bagi masyarakat umum. Kegiatan yang dibantu oleh BEM Unsoed ini diselenggarakan pada Sabtu (7/8) di Auditorium Graha Widyatama Unsoed, Senin (9/8). Foto: Gilda Bernike Erasti Andrianto. BEM Unsoed kembali diminta untuk membantu kegiatan vaksinasi setelah sebelumnya berhasil membantu penyelenggaraan vaksinasi kepada 1000 mahasiswa pada Kamis (5/8). Sedangkan, kegiatan vaksinasi kali ini menargetkan 800 masyarakat Banyumas, Senin (9/8). Foto: Gilda Bernike Erasti Andrianto. Nisa Fauztina selaku penanggung jawab mahasiswa pada kegiatan ini menjelaskan beberapa prosedur yang harus dilakukan oleh peserta vaksin. Pertama, peserta yang hadir harus melakukan pendaftaran secara online minimal satu hari sebelumnya, S...
MENCARI JEJAK PERPINDAHAN PUSAT PEMERINTAHAN BANYUMAS
BERITA, FEATURE, INDEPTH NEWS

MENCARI JEJAK PERPINDAHAN PUSAT PEMERINTAHAN BANYUMAS

Oleh: Mukti Palupi Replika Pendopo "Si Panji" yang berada satu kompleks dengan kantor kecamatan di Banyumas (8/5/18). Foto: Fahry Ammar Maulidian. Alun-alun Purwokerto tampak jadi pembatas dua bangunan dengan gaya arsitektur yang berseberangan. Di sisi selatan, telah berdiri Rita Supermall yang menjadi simbol modernitas. Sebaliknya, di utara, bertahan sebuah kompleks bangunan megah mencolok yang berdiri kokoh dengan arsitektur Jawanya. Bangunan itu ialah kompleks Kantor Pemerintahan Kabupaten Banyumas dan Pendopo Si Panji yang telah dipindah secara simbolis puluhan tahun lalu, seiring dengan perpindahan pusat pemerintahan kabupaten. Penghematan besar-besaran Pemerintah Hindia Belanda pada 1935 menjadi alasan perpindahan itu. Empat kabupaten di Jawa Tengah dihapus dari nomenk...
MALAISE: Ketika	Banyumas Diterpa Krisis
BERITA, FEATURE

MALAISE: Ketika Banyumas Diterpa Krisis

Oleh: Yoga Iswara Rudita Muhammad Gedung Karesidenan Banyumas dibangun di kota Banyumas tahun 1843. Foto diabadikan pada 1921 dalam rangka pemberian peng hargaan pada para bupati dan pamong oleh Patih Danoeredjo VII dari Ngayogyakarta, yang berjasa dalam memberantas busung lapar. Foto: Koleksi Sugeng Wijono. “Sol solami adang se-ons biyung aja bingung anake katokan karung.” Demikian lirik sebuah lagu rakyat Banyumas. Isinya curahan keresahan masyarakat Banyumas atas krisis ekonomi yang sempat melanda pada 1930-an. Lewat lagu itu, para ibu diharap tak bingung bila anaknya memakai celana dari karung. Sebabnya, Amerika Serikat (AS) mengalami krisis ekonomi yang publik sekarang menyebutnya “Malaise”. Dampak krisis itu terasa sampai Hindia Belanda (HB). Terkadang, istilah itu dipelese...
Pintu Besi
SAJAK, SASTRA

Pintu Besi

Oleh: Nurhidayat* Pintu besi baru saja terinstal pada sudut presisi Penuh kalkulasi, semua dikerjakan tukang las terakreditasi Pak tua yang sudah seharusnya dikremasi justru mencaci hasil produksi Kala menyiapkan lidah untuk mengkritisi Dadanya sesak terisi frustasi   Pergulatan sengit dalam isi pangkal uban, meski tak ada serapah tumpah Si Bangka protes perihal warna terlalu cerah “Warnanya terlalu menyala. Tak seperti besi tua,” keluhnya dengan sisa nafas orang tua yang payah   Mata pengelas mencelik, persis penis anak SD belum disunat yang dimain-mainkan Urat-urat merah di bagian putih mata mencekik orang tua yang renta beruban   Si pengelas enggan merevisi, dia hanya mau membuat yang terlihat gres Pengelas yang idealis berpikir dua menit lalu memb...
Penegakkan Egalitarianisme Pendidikan
ARTIKEL, BANYUMASAN, OPINI

Penegakkan Egalitarianisme Pendidikan

Oleh: Nurhidayat* Univeristas Jenderal Soedirman (Unsoed) adalah sebuah perguruan tinggi negeri yang sejak 1963 selalu (mengklaim bahwa dirinya) memegang teguh kearifan lokal dengan visi World Class Civic University-nya. Diyakini, sampai sekarang hal itu masih terjadi. Terbukti, dari kebanyakan spanduk-spanduk baru di kompleks pusat administrasi maupun di fakultas-fakultas selalu dihadiri frasa ‘kearifan lokal’. Namun, apakah benar? Ataukah semua prinsip sudah tidak melawan kearifan lokal? Saya mengajak pembaca untuk melihat Unsoed sebagai wahana menghabiskan waktu luang untuk belajar (Skhole-Yunani) sekaligus perguruan tinggi terbesar di Banyumas, bahkan di Jawa Tengah bagian selatan. Ketika ditanya soal kearifan lokal, kita sekarang justru bingung apa sebenarnya kearifan lokal? Mungkin...
HIKAYAT PARA REKTOR
ARTIKEL, BANYUMASAN, BERITA, FEATURE, KAMPUS, PENOLAK LUPA

HIKAYAT PARA REKTOR

Oleh: Anggita Rachmi Farida Universitas Jenderal Soedirman kini hampir berusia 54 tahun jika dihitung sejak diterbitkannya Kepu­tusan Presiden Nomor 195 Tahun 1963 tentang Pendirian Universitas Jenderal Soedirman. Semenjak berdi­ri, Unsoed sudah mengalami sebelas kepemimpinan. Sejarah mencatat bahwa Unsoed pernah dipimpin oleh sebuah dewan presidium, 9 rektor sejati, dan 1 rektor pengganti. Awalnya, Un­soed dikelola oleh sebuah yayasan dan dipimpin oleh Dewan Presidium. Dewan Presidium terdiri atas lima orang, seorang ketua dan empat orang anggota. Ketua Presidium waktu itu ialah Residen Banyumas R. Soemardjito. Ia memimpin Unsoed dari 1963 hingga 1965. Setelah Soemardjito lengser, Unsoed berturut-turut dipimpin oleh rektor berikut: Brigjen TNI RF. Soedardi, S.H. (1965-1974),...
HIDANGAN ISTIMEWA TROTOAR JALAN SOEDIRMAN
ARTIKEL, BANYUMASAN, BERITA, FEATURE

HIDANGAN ISTIMEWA TROTOAR JALAN SOEDIRMAN

Oleh : Rachmad Ganta Semendawai Terkadang, trotoar bisa menjadi lebih dari sekadar jalur pedestri­an. Beberapa orang bah­kan menjadikan luasan milik publik ini sebagai penggerak roda pereko­nomian bagi hidupnya. Ialah mereka, pedagang kaki lima (PKL) yang me­ramaikan persaingan bisnis di pesisir jalan, kala lepas petang. Wa­rung-warung PKL di pinggiran jalan raya tersebut menjajakan se­suatu yang sulit ditemui gerainya di pusat perbelanjaan modern. Malam yang sejatinya gelap mem­butakan, disulap menjadi remang kera­maian oleh keberadaan PKL. Cara yang berbeda dalam melayani pelanggan menjadi ciri khas masing-masing warung makan kaki lima. Ada yang berjualan menggunakan gerobak, menyediakan bangku atau kursi untuk pelanggan­nya, hingga mengajak pelanggannya berlemprak. Warung lempra...