Meredam Dampak Kenaikan Harga BBM

Oleh: Hana Talita

Ilustrasi: Hasna Zulfa Qanitah

Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang terjadi belakangan ini bukan sekadar masalah ekonomi biasa, tetapi sudah termasuk ke dalam krisis energi yang dapat memberikan dampak yang lebih luas, terutama di kawasan Asia. Beberapa dampak tersebut sudah dapat ditemukan langsung di kehidupan sehari-hari, mulai dari naiknya harga kebutuhan pokok sampai biaya transportasi yang semakin mahal. Hal tersebut ikut menekan kondisi ekonomi masyarakat, khususnya di negara berkembang. Oleh karena itu, masalah BBM ini perlu dilihat sebagai isu serius yang butuh perhatian bersama.

Salah satu penyebab utama kenaikan harga BBM adalah faktor global, terutama yang saat ini terjadi yaitu ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Menurut data dari International Energy Agency (IEA), sekitar 20% pasokan minyak dunia melewati jalur Selat Hormuz. Artinya, jika terjadi gangguan di wilayah tersebut, pasokan minyak global juga ikut terganggu. Dampaknya terlihat pada harga minyak dunia yang sempat naik hingga di atas USD 90 per barel pada 2023, yang kemudian berpengaruh pada harga BBM di banyak negara Asia. Selain itu, negara-negara di wilayah Asia memang masih sangat bergantung pada impor energi. Diambil dari data World Bank yang menunjukkan bahwa beberapa negara di Asia mengimpor lebih dari 70% kebutuhan minyaknya. Ketergantungan ini membuat negara-negara tersebut sangat rentan terhadap perubahan harga global. Akibatnya, ketika harga minyak dunia naik, biaya impor ikut meningkat, dan akhirnya harga BBM di dalam negeri juga terdorong naik.

Kenaikan harga BBM ini juga berdampak langsung pada inflasi. Menurut data dari World Bank menunjukkan bahwa kenaikan harga energi bisa menyumbang hingga 30–40% terhadap inflasi di negara berkembang. Hal ini dapat dilihat dari naiknya harga bahan pokok dan biaya distribusi. Akibatnya, masyarakat berpenghasilan rendah menjadi kelompok yang paling terdampak karena sebagian besar pengeluaran mereka digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Namun di sisi lain, pelaku usaha juga mengalami tekanan dalam biaya produksi dan distribusi yang semakin meningkat akibat kenaikan harga BBM. Menurut Asian Development Bank, sektor UMKM di Asia mengalami peningkatan biaya operasional hingga 10–15% saat harga energi naik. Jika kondisi ini terus berlangsung, banyak usaha kecil bisa mengalami penurunan keuntungan, bahkan berisiko gulung tikar.

Dampak lain yang dapat dirasakan saat mengalami krisis BBM adalah pada kondisi sosial. Kenaikan harga energi sering kali berkaitan dengan meningkatnya ketidakpuasan masyarakat. Contohnya di beberapa negara, kebijakan kenaikan BBM bahkan memicu terjadinya aksi demonstrasi. Menurut penulis, hal ini menunjukkan bahwa persoalan krisis energi tidak hanya berdampak secara ekonomi, tetapi juga berkaitan erat dengan stabilitas sosial dan politik.

Namun demikian, kondisi ini juga dapat membuka peluang untuk melakukan perubahan. International Energy Agency mencatat bahwa penggunaan energi terbarukan di Asia ditargetkan mencapai lebih dari 35% bauran energi pada 2030 di beberapa negara. Hal ini menunjukkan bahwa ketergantungan terhadap bahan bakar fosil sebenarnya dapat dikurangi jika ada komitmen yang kuat dari berbagai pihak. Dampak dari adanya peralihan menuju energi terbarukan tidak hanya membantu menjaga stabilitas harga energi, tetapi juga mendukung keberlanjutan lingkungan di masa depan.

Peralihan menuju energi terbarukan dapat dilakukan dengan menggunakan alternatif energi lain seperti tenaga surya, angin, dan air yang dapat menjadi langkah strategis apabila dilakukan dalam waktu dekat ini. Seperti yang kita ketahui bahwa kawasan Asia memiliki potensi besar dalam pemanfaatan sumber energi tersebut, terutama karena kondisi geografisnya yang mendukung. Dengan pemanfaatan teknologi yang semakin berkembang, biaya produksi energi terbarukan juga cenderung lebih rendah dari waktu ke waktu. Hal ini membuat energi terbarukan menjadi semakin kompetitif dibandingkan dengan energi berbasis fosil.

Efisiensi energi dapat menjadi solusi jangka panjang yang tidak kalah penting, contohnya dengan penggunaan transportasi umum dan kendaraan listrik dapat mengurangi konsumsi BBM secara signifikan. Tidak hanya itu, penerapan gaya hidup hemat energi di tingkat rumah tangga, seperti penggunaan listrik secara bijak dan pemilihan peralatan rumah tangga yang efisien juga dapat memberikan dampak positif. Jika dilakukan secara luas, langkah-langkah sederhana ini dapat membantu menekan kebutuhan energi secara keseluruhan. 

Di sisi lain, peran pemerintah juga sangat dibutuhkan dalam mendorong perubahan ini. Pemerintah dapat membuat kebijakan yang mendukung pengembangan energi terbarukan, seperti insentif bagi pengguna energi ramah lingkungan dan pembangunan infrastruktur yang memadai, menjadi kunci keberhasilan peralihan energi. Selain itu, edukasi kepada masyarakat juga penting agar kesadaran akan pentingnya efisiensi energi semakin meningkat. Dengan adanya dukungan dari berbagai pihak, upaya menuju sistem energi yang lebih berkelanjutan dapat berjalan dengan lebih optimal.

Secara keseluruhan, menurut penulis, kenaikan harga BBM di Asia merupakan tantangan besar yang berdampak pada berbagai aspek kehidupan. Data menunjukkan bahwa faktor global, ketergantungan impor, dan meningkatnya kebutuhan energi menjadi penyebab utama kondisi ini. Namun, di balik tantangan tersebut, terdapat banyak peluang untuk melakukan perubahan menuju sistem energi yang lebih berkelanjutan. Menurut penulis, dengan kerja sama antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat, serta kesadaran dalam menggunakan energi secara bijak, krisis ini dapat menjadi titik awal menuju masa depan yang lebih stabil.

Editor : Annisa Dwi Rahman

Redaksi

beritaunsoed.com adalah sebuah media independen yang dikelola oleh LPM Sketsa Unsoed dan merupakan satu-satunya Lembaga Pers Mahasiswa tingkat Universitas Jenderal Soedirman di Purwokerto.

Postingan Terkait

Menenun Benang Merah: Sang Takdir Tak Kasat Mata

Oleh: Annisa Nur Hidayah “Sebuah benang tak terlihat menghubungkan mereka yang ditakdirkan untuk bertemu, tanpa memandang…

AI Semakin Canggih, Bagaimana Nasib Penerjemah?

Oleh: Abida Fitratussawa Ilustrasi :Widyana Rahayu Perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang semakin pesat memunculkan pertanyaan besar:…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jangan Lewatkan

Meredam Dampak Kenaikan Harga BBM

Meredam Dampak Kenaikan Harga BBM

Menenun Benang Merah: Sang Takdir Tak Kasat Mata

Menenun Benang Merah: Sang Takdir Tak Kasat Mata

AI Semakin Canggih, Bagaimana Nasib Penerjemah?

AI Semakin Canggih, Bagaimana Nasib Penerjemah?

Genggaman yang Menyelamatkanku

Genggaman yang Menyelamatkanku

Esok Tetap Datang

Esok Tetap Datang

Polemik di Balik Pemilihan Rektor Unsoed, Antara Regulasi Hingga Tuntutan Transparansi oleh Mahasiswa

Polemik di Balik Pemilihan Rektor Unsoed, Antara Regulasi Hingga Tuntutan Transparansi oleh Mahasiswa