Sejarah di Balik Sokaraja: Pernah Dijuluki “Galeri Lukisan Terpanjang Se-Asia Tenggara”

Oleh: Manda Damayanti

Lukisan Jalan Sokaraja Oleh Salah Satu Pelukis Lokal (4/10/2025) (beritaunsoed.com/Ahmad Fahri Sya’bani)
Lukisan Jalan Sokaraja Oleh Salah Satu Pelukis Lokal (4/10/2025) (beritaunsoed.com/Ahmad Fahri Sya’bani)

Sokaraja sejak lama dikenal dengan getuk goreng manis dan soto hangatnya. Namun, siapa sangka, daerah yang dijuluki “Pusat Jajanan Khas Banyumasan” ini memiliki sejarah emas yang jarang diketahui. Ia pernah menampilkan wajah berbeda—wajah yang dibentuk oleh deretan lukisan yang terpajang di sepanjang jalan.

Dahulu, lukisan-lukisan menghiasi sisi kanan dan kiri jalan di Sokaraja. Dengan eloknya, karya seni itu tergantung di setiap kios, bersanding dengan getuk goreng dan soto legendaris yang memikat para pengunjung dari luar daerah. Kini, jejak-jejak lukisan itu perlahan memudar, tertutup popularitas kuliner yang kian menguat, hingga membuat seni lukis Sokaraja layaknya sejarah kuno yang jarang dikenang masyarakat.

Kala Lukisan Pernah Menghidupkan Jalanan Sokaraja

Di rentang tahun 70–80an, mahakarya visual Sokaraja memasuki masa kejayaannya. Lukisan membentang di sepanjang jalan, seakan tiap sisi berubah menjadi galeri terbuka. Dari Sangkal Putung hingga ke ujung Klenteng, setiap kios getuk goreng memajang karya para pelukis lokal. Trotoar pun tak luput dijadikan tempat menjajakan kanvas. Suasana itulah yang membuat Sokaraja sempat dikenal sebagai “Galeri lukisan terpanjang se-Asia Tenggara”.

“Di Kecamatan Sokaraja ini (tahun 70–80an-red), hampir 50% dari 17 desa ada kantong-kantong atau rumah produksi (lukisan-red),” tutur Zen, salah satu pelukis tersohor dari Sokaraja. Ia bercerita bahwa pada masa itu para seniman mampu menciptakan hingga sepuluh lukisan per harinya. Bahkan, penjualan karya-karya mereka melanglang hingga ke berbagai daerah di Pulau Jawa. Salah satu pelukis Sokaraja lainnya, Jaming—yang telah melukis sejak 1958—juga mengungkapkan bahwa ia pernah menjual lukisan ke Bali, Kalimantan, bahkan sampai ke Timor Timur.

Uniknya, kanvas lukisan pada zaman itu belum berupa kain khusus seperti sekarang. Para pelukis banyak memanfaatkan kantong terigu sebagai alas gambar. “Kantong terigu itu disobek, ditarik jadi kanvas gitu,” terang Zen. Pemilihan bahan tersebut bukan tanpa alasan—kantong terigu memiliki nilai ekonomis yang lebih rendah. Selain itu, kain belacu juga menjadi pilihan favorit pada masa itu, bahkan masih sering digunakan hingga kini. Di sisi lain, Jaming pernah menggunakan media yang tak kalah unik: bambu kerai. “Bambu kerai … sekarang ini untuk ling-ling pagar, ling-ling apa, ruangan. Itu dulu (ada-red) gambarnya,” jelasnya.

Beranjak dari media, para perupa Sokaraja juga memiliki gaya khas dalam teknik melukisnya. Teknik yang populer di masa itu ialah kecruk atau cocol dan coletan. Kus, salah satu perupa senior yang masih aktif hingga kini, menjelaskan bahwa teknik coletan dilakukan dengan cara menggoreskan warna secara berulang. Hal itu bertujuan untuk menutup bagian-bagian detail dalam objek gambar, seperti daun maupun kanu—bagian tangkai atau ruas tanaman yang kerap muncul dalam lukisan bertema alam. Lebih lanjut, pisau palet juga menjadi teknik andalan yang masih banyak digunakan hingga kini. Teknik ini menghadirkan gaya khas dengan tekstur dan karakter warna yang lebih kuat.

Lukisan dengan Teknik Cocol (18/10/2025) (beritaunsoed.com/Ahmad Fahri Sya’bani)
Lukisan dengan Teknik Cocol (18/10/2025) (beritaunsoed.com/Ahmad Fahri Sya’bani)

Mooi Indie menjadi tema lukisan yang paling digemari pada waktu itu. Gunung, sawah, dan pepohonan khas alam Indonesia kemudian membentuk identitas lukisan Sokaraja. Gaya lukisan tersebut banyak dipengaruhi oleh para tokoh pelukis Mooi Indie nasional, seperti Dullah dan Basuki Abdullah. Zen menerangkan bahwa lukisan Mooi Indie umumnya terdiri dari tiga layer. Layer pertama dengan layer terjauh, berada di kolom paling atas lukisan yang menampilkan langit beserta gunung. Layer kedua berada di tengah lukisan dan dihiasi pemandangan alam seperti hamparan sawah. Kemudian, layer terakhir pada kolom bawah dihiasi pohon dan sungai yang detail. “Ciri khasnya ada pohonnya warna merah gitu,” tambah Zen. Ia juga menuturkan bahwa goresan gunung dan pohon di setiap daerah memiliki ciri khasnya masing-masing. Adapun untuk Sokaraja, pohon berwarna merah di tengah hamparan hijau menjadi penanda visual yang khas.

Lukisan Mooi Indie dengan Tiga Layer oleh Zen (28/9/2025) (beritaunsoed.com/Ahmad Fahri Sya’bani)
Lukisan Mooi Indie dengan Tiga Layer oleh Zen (28/9/2025) (beritaunsoed.com/Ahmad Fahri Sya’bani)

Kus menjelaskan bahwa kolom-kolom pada lukisan itu menyimpan makna yang lebih dalam daripada sekadar gambar. Kolom atas yang didominasi gunung tinggi menjulang diibaratkan sebagai cita-cita tertinggi setiap insan. Bentuk gunung yang mengerucut juga memiliki makna “sing eling karo kuasa”, yang berarti kita sebagai manusia harus selalu mengingat Tuhan Yang Maha Kuasa. Sementara itu, kolom bawah yang dipenuhi pepohonan, hutan, dan bentangan sawah, melambangkan keteduhan. Adapun aliran sungai kerap dimaknai sebagai harapan agar rezeki terus mengalir tanpa putus.

Maka dari itu, pemandangan gunung dan sawah yang mereka lukis bukan hanya dekorasi, melainkan sarat pesan, nilai, dan tujuan tertentu yang ingin mereka sampaikan. Sejalan dengan itu, Zen menilai bahwa gambar pemandangan yang familiar membuat masyarakat lebih mudah menangkap maksud dari sebuah lukisan. Kedekatan visual tersebut pada akhirnya menumbuhkan keinginan untuk memiliki, sehingga lukisan-lukisan itu pun laris di pasaran.

Namun, seiring berjalannya waktu, para penikmat goresan kuas natural itu semakin menyusut. “Karena generasinya juga udah beda, udah lebih terbuka, jadi selera sekarang sama yang dulu beda gitu,” ujar Zen. Ia mengungkapkan bahwa kini jenis lukisan yang beredar semakin beragam, sehingga lukisan-lukisan pemandangan perlahan kehilangan peminatnya.

“Dulu kalau buat gambar, kalau sore, ini banyak yang beli. … kalau sekarang buat sampai banyak, dijual enggak laku,” keluh Jaming.

Tergesernya Galeri Lukisan dengan Kuliner

Jalan Sokaraja yang Dipenuhi Baliho Getuk Goreng (4/10/25) (beritaunsoed.com/Ahmad Fahri Sya’bani)
Jalan Sokaraja yang Dipenuhi Baliho Getuk Goreng (4/10/25) (beritaunsoed.com/Ahmad Fahri Sya’bani)

Julukan Sokaraja sebagai “Galeri terpanjang se-Asia Tenggara” kini tergantikan oleh popularitas kuliner getuk goreng dan sotonya. Sebenarnya, kedua kuliner tersebut sudah hadir sejak dulu, tetapi pada waktu itu belum sepopuler sekarang. Zen beranggapan perubahan ini terjadi karena Sokaraja merupakan jalur transportasi utama penghubung Semarang dan Wonosobo dengan Jakarta. Kondisi ini membuat bisnis kuliner semakin digandrungi karena banyak pengendara yang melakukan transit di kawasan tersebut.

“Jadi sebelum rame bakul getuk sama soto, dulu juga ada tokoh-tokoh getuk yang menjual lukisan gitu,” imbuh Zen. Ia bahkan menyebut para seniman akhirnya ikut bergeser ke dunia kuliner.

Di sisi lain, Kus melihat kemunduran seni lukis Sokaraja dari kacamata yang berbeda. Menurutnya, lukisan Sokaraja kalah pamor karena sebagian besar perupanya belajar secara otodidak, sehingga ruang perjumpaan mereka dengan perkembangan seni menjadi terbatas. “Mereka kurang bisa melihat keluar wawasan, wacana, melihat pameran keluar, atau mungkin referensi-referensi keluar,” ujarnya. Hal tersebut, menurut Kus, membuat para seniman Sokaraja tertinggal dibanding daerah lain.

Ia juga menyoroti minimnya transfer ilmu dari para pelukis terdahulu kepada generasi baru. Sementara itu, dunia kuliner justru  berkembang pesat dan semakin modern kala itu, sehingga perlahan menutup ruang bagi pasar seni rupa di Sokaraja. “Karya Sokaraja itu stuck. Kurang bisa berkembang, kalah dengan luar … kalah mulai pamor dengan kuliner,” jelas Kus.

Pelukis Sokaraja di Masa Kini

Meski pamornya meredup, seni lukis Sokaraja tidak pernah sepenuhnya padam. Sampai saat ini, banyak pelukis senior masih setia meneruskan karya mereka. Para pelukis muda pun turut membawa semangat baru untuk mempertahankan estetika di tengah dominasi sentra kuliner.

Awak Sketsa Bersama Kusnanto (18/10/2025) (beritaunsoed.com/Velen Candra Nadia)
Awak Sketsa Bersama Kusnanto (18/10/2025) (beritaunsoed.com/Velen Candra Nadia)

Saat ini, gaya lukisan natural memang masih dipertahankan oleh beberapa seniman. Namun, mereka tidak menutup diri pada perkembangan jenis lukisan di era modern ini.

Zen, salah satunya. Selain mempertahankan gaya lukisan alam dari masa kejayaan dulu, ia juga melukis menggunakan aliran ekspresionis dan abstrak sebagai perwujudan gejolak atau perasaan. Di sisi lain, Mugo Sumedi—akrab disapa “Ki Mugo”—tidak banyak berkutat pada lukisan pemandangan. Goresannya lebih condong pada aliran realis, yang menurutnya lebih cepat meraup keuntungan.

Kus juga membagikan pengalamannya mengikuti tren dunia seni rupa. Ia menyebut bahwa lukisan masa kini mengenal istilah tekstur. “Jadi ini agak memunculkan kayak relief … timbul, kayak tiga dimensi,” jelasnya. Hal ini tentunya berbeda dengan zaman dulu yang lebih didominasi gaya dua dimensi yang cenderung datar.

“Tapi kalau teknik sih ya tetap masih kuas dan pisau palet,” imbuh Kus. Ia menerangkan bahwa dari segi teknik melukis, tidak banyak yang berubah di masa kini. Pembedanya hanya terletak pada media yang jauh lebih variatif. Mugo, salah satunya, yang menceritakan bahwa ia tak hanya melukis dengan cat minyak, tetapi juga dengan pasir, tanah gunung, gedebog pisang, dan media lain yang sekiranya bisa dipakai untuk melukis. “Seni itu tidak terbatas, apa pun bisa menjadi karya seni yang indah,” ucapnya.

Lukisan Mugo dengan Menggunakan Tanah Gunung (1/11/2025) (beritaunsoed.com/Velen Candra Nadia)
Lukisan Mugo dengan Menggunakan Tanah Gunung (1/11/2025) (beritaunsoed.com/Velen Candra Nadia)

Dari sisi pemasaran, Zen mengakui bahwa masa kejayaan lukisan Sokaraja memang telah bergeser. Persaingan semakin ketat, sebab wisata kuliner jauh lebih populer dan didukung oleh perkembangan teknologi. “Kalau sekarang sudah global sekali, kita bisa melihat sebuah karya nasional maupun internasional bisa dari sebuah Android,” keluhnya. Di era digital ini, pembeli lukisan pun tak perlu berkeliling ke galeri, mereka kerap menggunakan ponsel pintar untuk memilih lukisan dari berbagai sudut dunia. Akibatnya, persaingan usaha lukisan menjadi semakin ketat dibandingkan zaman dulu.

Mugo menuturkan bahwa pada era ini memang para seniman perlu menyusun strategi penjualan yang jitu agar karya yang ditorehkan menarik perhatian masyarakat. Ia menambahkan, penyesuaian harga dengan tempat penjualan amatlah penting. “Makanya sering mengadakan pameran di kota ini, yang nggak bisa tinggi harganya. Kita bandrol 4-5 juta, orang nggak melirik,” ujarnya. Menurutnya, ekonomi masyarakat turut memainkan peran besar dalam pemasaran lukisan masa kini.

Keberadaan Ikatan Pelukis Banyumas (IPB)

Upaya menjaga napas seni itu tidak berhenti pada karya pribadi. Para pelukis kemudian berkumpul dalam sebuah komunitas yang menjadi ruang belajar sekaligus pelestarian seni rupa Sokaraja. Ikatan Pelukis Banyumas (IPB) namanya, yang diketuai oleh Zen, dan bersekretariat di  Sokaraja.

Sebelumnya, di Sokaraja juga terdapat komunitas yang dikenal dengan nama “Persenja”—Persatuan Seniman Sokaraja. Dulu, para seniman sering berkumpul untuk melukis bersama, saling membantu dalam marketing. Namun sayangnya, komunitas ini tidak bertahan lama dan akhirnya terpecah belah.

Lalu, IPB hadir pada tahun 2020 sebagai tempat berbagi ilmu para pelukis di Banyumas, bukan hanya ruang lingkup Sokaraja saja. Para seniman mendirikan sebuah organisasi yang lebih terstruktur dengan adanya pembina, sekretaris, bendahara, dan divisi-divisi lain yang membuat komunitas Ini lebih bersifat mengikat dibandingkan komunitas sebelumnya. Kus mengatakan bahwa komunitas IPB saat ini memiliki gaung dan kekuatan tersendiri. Baginya, komunitas tersebut terasa lebih solid dan mampu tampil menonjol, sesuatu yang ia rasakan langsung sebagai salah satu anggotanya.

Pastinya, tidak ada syarat khusus untuk bergabung ke komunitas IPB selain senang melukis. Terdapat berbagai kegiatan rutin di komunitas ini, seperti mengirimkan karya setiap bulan, workshop, serta sharing mengenai produksi dan marketing. Zen menceritakan keseruan para anggota ketika melukis on the spot ke Baturaden, Serayu, dan tempat-tempat lain di Banyumas. “Untuk melatih kepekaan, kita merekam lewat mata, kemudian ditorehkan lewat tangan, kepekaan tangan untuk mengabadikan momen gitu ‘kan,” tuturnya.

Harapan Kelestarian Seni Rupa Ke Depannya

Para seniman tentunya berharap keberadaan seni rupa di Sokaraja—dan umumnya di Banyumas Raya—bisa tetap bertahan dan berkembang. Kus sendiri yakin para generasi muda banyak yang memiliki bakat dalam mahakarya visual ini. Ia menyampaikan bahwa talenta tersebut merupakan anugerah dari Tuhan yang sayang untuk disia-siakan. “Gali, gali, dan terus gali,” serunya.

Selaras dengan Kus, Mugo juga berpesan kepada generasi muda untuk tetap semangat belajar dan tidak mudah puas dengan karya sendiri. Ia mengingatkan, perupa kini dituntut untuk mengikuti selera pasar dan perkembangan digital demi mempertahankan bakat goresan kuas. “Tuntutan pasar seperti itu, jadi kita harus bisa. Jangan sampai ketinggalan juga teknologi,” ucapnya.

Dari sudut pandang lain, Zen mengajak generasi muda untuk melestarikan kebudayaan daerah, termasuk lukisan Sokaraja. Ia menyatakan kesiapannya untuk mengajarkan generasi muda dalam mempertahankan ciri khas lukisan Sokaraja. Harapannya, Sokaraja kembali pada masa kejayaannya sebagai “Galeri lukisan terpanjang se-Asia Tenggara”.

Editor: Nurul Irmah Agustina, Khofifah Nur Maizaroh

Reporter: Tim Dokumenter

 

Redaksi

beritaunsoed.com adalah sebuah media independen yang dikelola oleh LPM Sketsa Unsoed dan merupakan satu-satunya Lembaga Pers Mahasiswa tingkat Universitas Jenderal Soedirman di Purwokerto.

Postingan Terkait

Mimbar Bebas Banyumas Problematik: Refleksi Kebijakan untuk Banyumas yang Lebih Baik

Oleh: Hasna Nailah Ramadhani Sejumlah mahasiswa bersama elemen masyarakat Purwokerto mengadakan aksi Mimbar Bebas Banyumas Problematik…

Banyumas Culture Festival dan Kirab Pusaka Meriahkan Hari Jadi ke-455 Kabupaten Banyumas

Oleh: Artika Putri Kinanti Serangkaian pagelaran seni kembali digelar dalam rangka menyambut Hari Jadi ke-455 Kabupaten…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jangan Lewatkan

Mengenal Tokoh Bangsa dan Jejak Pengabdiannya di Museum Soesilo Soedarman

Mengenal Tokoh Bangsa dan Jejak Pengabdiannya di Museum Soesilo Soedarman

Mimbar Bebas Banyumas Problematik: Refleksi Kebijakan untuk Banyumas yang Lebih Baik

Mimbar Bebas Banyumas Problematik: Refleksi Kebijakan untuk Banyumas yang Lebih Baik

Museum Wayang Banyumas: Sunyi yang Menyisakan Jejak

Museum Wayang Banyumas: Sunyi yang Menyisakan Jejak

Banyumas Culture Festival dan Kirab Pusaka Meriahkan Hari Jadi ke-455 Kabupaten Banyumas

Banyumas Culture Festival dan Kirab Pusaka Meriahkan Hari Jadi ke-455 Kabupaten Banyumas

Tambah Spot Nongkrong di Unsoed, Pringsewu Hadirkan Kandang Kopi di Fakultas Peternakan

Tambah Spot Nongkrong di Unsoed, Pringsewu Hadirkan Kandang Kopi di Fakultas Peternakan

Pemira 2025 Usai: Krisis Regenerasi Kepemimpinan dan Demokrasi Mahasiswa Masih Melekat

Pemira 2025 Usai: Krisis Regenerasi Kepemimpinan dan Demokrasi Mahasiswa Masih Melekat