Oleh: Khofifah Nur Maizaroh
Di tengah hiruk-pikuk Purwokerto yang berpacu dengan waktu, persimpangan padat di depan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) sering menjadi saksi bisu kehati-hatian sekaligus kegelisahan para pengguna jalan. Setiap hari, terutama saat matahari mulai beranjak naik dan orang-orang sibuk mengejar waktu ke sekolah, kampus, ataupun tempat kerja—titik padat itu menuntut kesabaran ekstra dari siapa pun yang melintas. Ratusan kendaraan yang berlalu-lalang menciptakan suara klakson yang nyaring dan menantang bagi siapa saja yang hendak menyeberang. Bagi pejalan kaki serta mahasiswa, momen tersebut sering kali terasa seperti mempertaruhkan nasib di antara kecepatan lajunya roda. Namun, di tengah hiruk-pikuk yang memuncak itu, berdiri tegap satu sosok yang menjadi arah dan penyelamat, Slamet Bugisantoso.
Baca juga: Nasi Darurat Purbalingga: Seporsi Nasi, Seporsi Kepedulian
Pria yang akrab disapa ‘Pak Ogah’ ini menjelma layaknya pahlawan jalanan. Tak hanya sekadar juru parkir, Slamet mendedikasikan waktu dan tenaganya untuk memastikan kelancaran serta keselamatan para penyeberang dan juga pengendara lainnya. Berkat keikhlasan dan kebaikan hatinya, ia menjadi sosok yang disegani sekaligus disayangi di kalangan mahasiswa Unsoed.
Memulai Aksi Sosial
Slamet, yang berasal dari Kecamatan Kroya, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, mulai membantu mengatur lalu lintas di simpang padat FIB kurang lebih sejak tiga tahun lalu, yaitu tahun 2022. Keinginannya muncul karena ia kerap mendengar dan melihat kecelakaan yang terjadi di jam-jam ramai. “Awal mula di situ, saya tuh kan pertama sebelum terjun kan nanya dulu nih ceritanya, oh ini dulu memang sering banget banyak kecelakaan. Awalnya di situ,” jelasnya saat diwawancarai oleh Awak Sketsa pada Kamis (02/10/2025). Selain itu, ia juga sering melihat mahasiswa yang kesulitan untuk menyeberang atau berbelok di jalan depan FIB tersebut. Berbekal niat yang tulus, ia kemudian terjun penuh seharian mulai pukul enam pagi hingga lima sore.
Ketulusan dan Motivasi
Sisi istimewa dari ‘Pak Ogah’ terletak pada kejujuran niat serta ketulusan hatinya. Ia tidak pernah meminta imbalan, bahkan sering menolak pemberian uang dari beberapa pengendara yang lewat. “Selama ini, Alhamdulillah tidak ada kekurangan. Awal-awal memang niatnya membantu. Terus ada orang ngasih uang, awalnya saya tolak. Itu karena mereka menghargai ya, memaksa, nggak saya terima,” tuturnya.
Sesekali, Pak Ogah harus berhadapan dengan pengendara motor yang sulit diatur karena terburu-buru. Meski begitu, ia mengaku bahwa menjadi pengatur lalu lintas memang menuntut kesabaran. Tantangan lebih berat datang ketika ia mengalami kecelakaan tunggal yang mengharuskannya menjalani operasi dan pemulihan selama lebih dari tiga bulan. Namun, hal itu tidak menyurutkan motivasinya untuk kembali membantu di simpang padat depan FIB.
Baca juga: Nasi Darurat Purbalingga: Seporsi Nasi, Seporsi Kepedulian
Dukungan dari para mahasiswa dan warga sekitar justru menjadi penyemangat terbesarnya untuk kembali bertugas. “Nah, karena mereka berharap saya kembali lagi. Itulah yang saya membuat motivasi biar bisa. Cacat nggak masalah yang penting anak-anak nyaman, itu aja,” jelasnya.
Sosok Nan Ramah Menghibur
Banyak orang merasakan dampak positif dari kehadiran ‘Pak Ogah’ dalam membantu mengatur arus lalu lintas di simpang padat depan FIB. Josephine Amanda, seorang mahasiswi, mengaku sangat terbantu dengan keberadaan Slamet yang selalu sigap membantu pejalan kaki menyeberang di tengah ramainya kendaraan. Senada dengan Josephine, Mahasti dan Nazwa juga mengungkapkan bahwa kehadiran Slamet membuat mereka bisa menyeberang dengan aman dan lalu lintas menjadi lancar.
Tak hanya dikenal karena perannya mengatur lalu lintas, Slamet juga disukai karena kepribadiannya yang ramah dan ceria. Selain memastikan kelancaran arus lalu lintas, ia sering menyapa, memberi semangat, bahkan melontarkan lelucon ringan. “Pak Slamet itu bukan cuma bantu nyebrangin atau bantu lalu lintas, tapi kadang itu Pak Slamet itu kasih jokes atau kasih semangat atau kasih perhatian, kayak ‘hati-hati ya Dek, Neng,’ gitu-gitu,” ungkap Nazwa, mahasiswi yang diwawancarai Awak Sketsa pada Jumat (24/10/2025).
Harapan dan Dukungan
Melihat besarnya dampak positif dari kontribusi Slamet, para mahasiswa sangat berharap agar pihak Unsoed dan pemerintah daerah dapat memberikan perhatian dan dukungan yang layak. “Mungkin dari pihak Unsoed-nya bisa mengusahakan agar Pak Slamet ini bisa ditarik jadi pegawai tetap gitu,” usul Angga, salah satu mahasiswa Unsoed yang diwawancarai.
Kini, Slamet juga aktif di media sosial dengan nama akun “Mame SPS”, dan sering menjadi bahan perbincangan, baik di TikTok maupun akun “I See U”. Ia berharap, kehadirannya dapat membantu para pengendara lebih memahami peraturan lalu lintas, khususnya tentang pentingnya mendahulukan penyeberang jalan di zebra cross.
“Berharap mereka memahami peraturan lalu lintas. Dahulukan apa, penyeberang jalan, karena mereka yang nyeberang jalan di zebra cross, didahulukan,” tegasnya.
Slamet menjadi cerminan dari ketulusan dan pengabdian. Keberadaannya tak hanya mengatur lalu lintas, tetapi juga menebar senyum dan rasa aman di simpang kampus. Ia membuktikan bahwa aksi kecil yang dilakukan dengan penuh keikhlasan mampu memberi dampak besar bagi banyak orang.
Editor: Nurul Irmah Agustina
Reporter: Khofifah Nur Maizaroh, Maula Rizki Aprilia, Manda Damayanti, Nadia Amalia Wibowo






