Oleh: Rizkiana Fadillah Ningtias
Identitas Film
Judul : Alas Roban
Rilis : 15 Januari 2026
Genre : Horor
Bahasa : Indonessia
Durasi : 111 menit
Sutradara : Hadrah Daeng Ratu
Produser : Oswin Bonifanz dan Deni Saputra
Produksi : Unlimited Production
Klasifikasi Usia : 17 tahun ke atas
Pemeran Utama : Michelle Ziudith, Taskya Namya, Fara Shakila, Imelda Therinne, Dewi Pakis
Orientasi
Industri perfilman Indonesia terus menunjukkan perkembangan yang signifikan, khususnya dalam genre horor yang selalu memiliki tempat tersendiri di hati penonton. Salah satu film yang hadir meramaikan genre ini adalah Alas Roban 2026. Film yang disutradarai oleh Hadrah Daeng Ratu, dan diproduksi oleh Unlimited Production ini tidak hanya sekadar menjual jumpscare murahan, melainkan mencoba membedah mitos urban paling legendaris di jalur pantura Jawa Tengah. Alas Roban, yang secara harfiah dikenal sebagai “Hutan Roban”, telah lama menjadi buah bibir bagi para penglaju antara Batang dan Semarang. Kawasan hutan ini sudah lama dikenal oleh masyarakat sebagai tempat yang penuh dengan cerita-cerita angker, mulai dari penampakan makhluk halus hingga kisah orang hilang yang sulit dijelaskan secara logika.
Berlatar waktu pada era 1990-an, film ini menempatkan Michelle Ziudith sebagai pemeran utama (Sita). Keputusan memilih Michelle, yang biasanya lekat dengan citra drama romantis, menjadi sebuah perjudian menarik yang terbukti efektif. Didampingi oleh aktor watak seperti Rio Dewanto dan Taskya Namya, film ini menjanjikan kedalaman emosional di tengah teror supranatural yang mencekam.
Sinopsis
Kisah bermula dari Sita (Michelle Ziudith), seorang ibu tunggal yang memutuskan untuk memulai hidup baru di Semarang setelah mengalami masa sulit di Pekalongan. Sita membawa serta putrinya, Gendis (Fara Shakila), seorang anak perempuan yang memiliki keterbatasan penglihatan (tunanetra). Namun, kekurangan fisik Gendis justru membuatnya memiliki kepekaan batin yang luar biasa.
Perjalanan mereka dimulai dengan menaiki bus antarkota yang melintasi jalur Alas Roban pada saat tengah malam. Namun, suasana mulai berubah ketika mereka memasuki kawasan hutan yang lebih dalam dan gelap. Malapetaka dimulai ketika bus tersebut mengalami kerusakan mesin tepat di jantung hutan Roban. Di tengah kegelapan total dan kabut yang turun tiba-tiba, Gendis mulai mendengar bisikan-bisikan yang tidak didengar oleh penumpang lain.
Setelah berhasil keluar dari hutan, Sita mengira teror telah usai. Namun, sesampainya di rumah baru, perilaku Gendis berubah drastis. Ia sering berbicara sendiri, tatapannya kosong, tajam, dan puncaknya, ia mulai mengalami kerasukan yang melibatkan penunggu Alas Roban yang merasa terganggu oleh kehadiran mereka. Sita harus berpacu dengan waktu untuk mengungkap misteri masa lalu di balik timbulnya kekuatan gelap di Alas Roban sebelum jiwa putrinya ditelan sepenuhnya oleh hutan tersebut.
Kelebihan
Secara naratif, film ini terbagi menjadi dua lapis konflik. Lapis pertama adalah perjuangan bertahan hidup Sita dan Gendis di tengah kesulitan ekonomi yang mereka alami. Lapis kedua, yang jauh lebih dalam, adalah pengungkapan sejarah kelam Alas Roban itu sendiri. Penonton diajak melihat kilas balik (flashback) mengenai pembangunan jalan di masa lalu yang memakan banyak korban jiwa, menciptakan “timbulnya” aura negatif yang menyelimuti kawasan tersebut hingga hari ini.
Interaksi antara Sita dan Rio Dewanto (yang berperan sebagai sosok misterius yang memahami seluk-beluk hutan) memberikan dimensi pada film ini. Mereka tidak hanya lari dari hantu, tetapi mencoba memecahkan teka-teki kuno: mengapa Alas Roban selalu meminta tumbal? Analisis sosiologis juga terselip di sini, menggambarkan bagaimana pembangunan jalan sering kali berbenturan dengan kearifan lokal dan penjaga alam yang tak kasat mata.
Dari segi akting, para pemeran dalam film mampu menampilkan emosi yang cukup baik, terutama dalam ekspresi saat mengalami kerasukan. Ekspresi wajah dan bahasa tubuh mereka terasa cukup meyakinkan, meskipun di beberapa adegan masih terdapat dialog yang terdengar kurang natural. Namun, secara keseluruhan, performa para aktor tetap mampu mendukung jalannya cerita.
Salah satu kekuatan utama film ini terletak pada sinematografinya. Pengambilan gambar di area hutan yang gelap, berkabut, dan penuh bayangan berhasil menciptakan suasana yang mencekam. Permainan cahaya yang minim justru menjadi nilai tambah karena memberikan kesan realistis sekaligus menegangkan. Penonton dibuat seolah-olah ikut berada di tengah hutan yang sunyi dan penuh misteri. Efek suara seperti desiran angin, langkah kaki, dan suara-suara aneh lainnya berhasil memperkuat nuansa horor tanpa terasa berlebihan.
Unsur budaya lokal juga menjadi daya tarik tersendiri. Film ini tidak hanya menyajikan horor semata, tetapi juga menghadirkan kepercayaan masyarakat terhadap hal-hal gaib, mitos, serta larangan-larangan tertentu yang sering dikaitkan dengan tempat angker. Hal ini membuat film terasa lebih dekat dengan realitas masyarakat Indonesia.
Kelebihan utama Alas Roban 2026 terletak pada suasana horor yang berhasil dibangun dengan sangat baik. Pengambilan gambar langsung di lokasi asli memberikan kesan dingin dan lembap yang bisa dirasakan penonton. Sinematografinya mampu menangkap kemegahan sekaligus keangkeran pepohonan jati yang menjulang. Michelle Ziudith berhasil keluar dari zona nyamannya. Ekspresi ketakutan seorang ibu yang kehilangan arah sangat meyakinkan. Fara Shakila sebagai Gendis juga patut diapresiasi karena mampu berakting tanpa kontak mata tetapi tetap memberikan aura menyeramkan. Film ini juga banyak memasukkan unsur tradisi lokal di dalamnya, sehingga mampu menambah wawasan penonton terkait dengan budaya setempat di kawasan Alas Roban.
Kekurangan
Namun, film ini juga memiliki beberapa kekurangan. Salah satunya adalah beberapa adegan horor masih terasa mudah ditebak, terutama bagi penonton yang sudah sering menonton film dengan genre serupa. Kelemahan lainnya terletak pada alur cerita yang kurang konsisten di bagian tengah. Tempo yang melambat membuat ketegangan sedikit menurun sebelum akhirnya kembali meningkat di akhir film. Hal ini bisa membuat sebagian penonton merasa bosan atau kehilangan fokus.
Rekomendasi
Misteri di Balik Timbulnya Alas Roban adalah sebuah pencapaian baru dalam genre horor Indonesia. Film ini membuktikan bahwa mitos lokal tetap menjadi sumber inspirasi yang tak kunjung kering jika digarap dengan serius dan penuh rasa hormat terhadap budaya setempat. Secara keseluruhan, Alas Roban 2026 merupakan film horor yang layak untuk ditonton, khususnya bagi para pecinta genre horror di Indonesia.
Film ini menawarkan pengalaman menegangkan dengan suasana yang mencekam serta visual yang mendukung. Meskipun memiliki beberapa kekurangan dalam pengembangan karakter dan konsistensi alur, film ini tetap mampu memberikan hiburan yang cukup memuaskan. Alas Roban bukan hanya sebuah jalur perjalanan, ia adalah saksi bisu dari jutaan rahasia yang terkubur di bawah aspal dan tanah Jawa, Alas Roban 2026 bisa menjadi pilihan tontonan yang menarik dan menghibur.
Editor: Annisa Dwi Rahman







