Oleh: Rizqy Noorawalia Febryanni
Di tengah linimasa media sosial yang didominasi hiburan, sebuah akun X @nasidaruratpbg hadir dengan tujuan yang berbeda. Dikenal sebagai Nasi Darurat Purbalingga, gerakan ini diinisiasi oleh seorang mahasiswa yang bertujuan untuk membantu pelajar, mahasiswa, anak kos, ataupun karyawan yang tinggal di daerah Purbalingga-Purwokerto yang sedang kesulitan mencari makanan.
Inspirasi datang dari gerakan serupa di Yogyakarta. Namun, bagi pendiri gerakan Nasi Darurat Purbalingga ini, atau dikenal dengan sapaan Agung, langkah ini lebih dari sekadar meniru. Pada Februari 2024, ia memutuskan memulai gerakan Nasi Darurat Purbalingga karena pengalaman pribadinya saat bersekolah di Purwokerto. Agung bercerita bahwa ia pernah kehabisan uang kiriman dan tidak tahu harus meminta tolong kepada siapa. “Sebenernya, oh iya dulu tuh kan aku sekolahnya juga di Purwokerto ya, terus kayak, aku ngerasain kayak pas uang dari orang tua tuh habis gitu. Aku bingung minta tolong ke siapa gitu. Kita ngerasain di kos-kosan tuh nggak ada makanan, terus kita bingung kan mau tolong ke siapa,” katanya.
Berbekal gawai dan media sosial, ia menjalankan semuanya seorang diri: mulai dari mengelola, promosi, dan mendistribusikan nasi darurat itu sendiri hingga memastikan setiap bantuan benar-benar sampai ke penerima. “Aku urus semuanya sendiri, dari promosi di sosmed, balas chat, sampai transfer uangnya,” ujarnya. Meski begitu, seluruh kegiatan masih berjalan secara daring. Agung mengaku belum sempat membuat kegiatan lapangan atau pertemuan langsung. “Kalau aku tuh kebetulan cuma online aja. Aku belum sempet yang ngadain offline-nya gitu. Jadi, aku rasa aku masih bisa handle ini, jadi, aku masih sendiri aja.”
Melalui Instagram dan X, Agung membuka ruang bagi siapa pun yang sedang kesulitan makan. Prosesnya sederhana dan sistematis. Penerima bantuan perlu mengirim identitas, memilih warung yang menerima pembayaran digital, lalu mengirim foto Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) serta bukti makanan setelah menerima bantuan.
Menurut Agung, sistem ini dibuat bukan tanpa alasan. Ia pernah beberapa kali mendapati orang yang mengirim identitas palsu. “Jadi, karena sebelum-sebelumnya sering kecolongan, kayak ngirim share loc (share location-red) palsu, ngirim identitas palsu, ngaku-ngaku warga Purbalingga, ngaku-ngaku warga Purwokerto. Jadi, mulai sekarang aku minta kayak minta identitas apapun gitu. Jadi, setelah aku nyuruh orang yang minta bantuan itu buat nyari warung, aku mintain identitas mereka untuk verifikasi. Mereka bisa blur fotonya dia, NIK atau apa itu, yang penting kelihatan namanya. Itu syaratnya,” ujarnya saat diwawancarai Awak Skëtsa pada Minggu (2/11/2025).
Setiap porsi dibatasi maksimal Rp15.000. Dana utama berasal dari kantong pribadinya, juga ditambah donasi dari teman atau orang yang berdonasi di media sosial. “Sebulan itu kadang ada yang nitip seratus dua ratus ribu. Tapi, permintaan (nasi darurat-red) bisa lebih dari itu, jadi, ya tambah dari uang pribadi,” katanya.
Walau skalanya kecil, nasi darurat yang diberikan terasa membantu bagi penerimanya. Sasaran utamanya adalah pelajar, mahasiswa, dan pekerja di wilayah Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap, dan Kebumen (Barlingmascakeb). Adakalanya, permintaan datang dari luar daerah—Medan, Banjarmasin, atau Surabaya—tetapi Agung membatasi agar tetap fokus di sekitar Purbalingga dan Purwokerto.
Bagi penerima, bantuan ini bukan sekadar nasi bungkus, melainkan penolong di masa sulit. Niam, salah satu karyawan di Purwokerto, mengaku pertama kali tahu gerakan Nasi Darurat lewat media sosial. “Dari akun (X) Nasi Darurat (@nasidaruratpbg) langsung, pas akhir bulan kan nggak ada pendapatan, nggak ada pemasukan, jadi, minta nasi itu,” ujarnya.
Ia menambahkan, bantuan gerakan Nasi Darurat Purbalingga ini terasa lebih tepat sasaran dibandingkan menunggu bantuan resmi. “Bantuannya ya tepat, malah bagus tepat sasaran daripada programnya pemerintah. Tepat sasaran ketika memang pas kondisi-kondisi tertentu lah. Limit kayak gitu akhir-akhir bulan. Belum ada transferan. Belum ada upah dan sebagainya. Membantu sekali sih,” tuturnya. Bagi Niam, inisiatif kecil ini sudah sangat berarti di tengah kondisi ekonomi yang tidak menentu.
Namun, tidak hanya penerima Nasi Darurat saja yang menilai gerakan Nasi Darurat Purbalingga ini positif. Di kalangan masyarakat umum, program ini juga dipandang sebagai langkah kecil yang berdampak besar. Fahmi, salah satu mahasiswa asal Thailand yang kini berkuliah di Purwokerto, menilai gerakan Nasi Darurat sebagai inisiatif yang membantu mahasiswa bertahan hidup.
“Kalau kita mahasiswa kan pilih makanan yang murah ataupun yang cukup untuk duit bulanan yang kita dapat gitu. Kalau ada Nasi Darurat ini baik bagi seorang mahasiswa,” ujarnya. Menurut Fahmi, gerakan seperti ini menjadi bentuk rasa peduli di antara sesama, terutama di kota pendidikan seperti Purwokerto.
Pandangan senada datang dari Putra, mahasiswa asal Surabaya. Ia menilai Nasi Darurat sebagai program positif. “Menurut saya itu adalah kegiatan yang positif. Karena di sini kita juga, di Purwokerto lebih tepatnya, itu banyak mahasiswa-mahasiswa atau orang-orang yang sebenarnya mereka juga membutuhkan makan, tapi mereka nggak punya biaya untuk membeli makanan tersebut. Jadi, si programnya itu bisa mempermudah mereka,” jelasnya.
Namun, ia juga mengingatkan perlunya keseimbangan agar penerima tidak bergantung. “Karena kalau emang terlalu sering, kadang kita membuat sifat atau pemikiran orang itu menjadi malas untuk mencari. Bukan uang juga, untuk mencari pekerjaan dan lain-lain,” sambung Putra saat diwawancarai Awak Skëtsa pada Rabu (5/11/2025).
Meski begitu, Putra mengaku kagum dengan cara Agung menjalankan program seorang diri. “Sejujurnya kan ini suatu program yang besar menurut aku ya. Apalagi dua kota, gitu,” ujarnya. Ia berharap lebih banyak orang muda mau bergabung atau setidaknya mendukung lewat donasi. “Jujur kalau aku juga free ya, aku sebenarnya pengen ikut program ini, gitu. Karena ini juga dari dulu harapan aku juga. Di satu sisi, pengen melakukan hal tersebut. Jadi, gua berharap ke teman-teman yang di luar sana membantu si satu orang ini, gitu,” tambahnya.
Bagi Agung sendiri, Nasi Darurat bukan soal angka atau jumlah penerima. Kadang hanya satu pesan yang masuk dalam sehari, kadang tidak ada sama sekali. Namun baginya, satu porsi pun cukup berarti. “Oh ya, aku ngerasa senang aja kalau misalkan ada yang kebantu kayak gitu, karena ini kan masalah tentang makanan. Yang minta bantuan itu kebanyakan kan yang lagi menuntut ilmu gitu, kayak mahasiswa atau pelajar SMA gitu banyak juga yang minta. Jadi, aku ngerasa ini sih sebenarnya simpel ya, karena ini bukan yang uang banyak banget,” ujarnya.
Gerakan kecil ini menjadi pengingat bahwa solidaritas tidak harus lahir dari organisasi besar. Kadang cukup dari satu niat sederhana dan satu ponsel di tangan seseorang yang peka terhadap sekitarnya. Di tengah hiruk pikuk dunia maya yang sering sibuk dengan tren dan hiburan, gerakan Nasi Darurat Purbalingga tumbuh sebagai uluran tangan dengan memberi makan mereka yang kelaparan, dan menyisakan harapan bahwa kebaikan masih bisa hadir tanpa perlu sorotan.
Editor: Nadia Amalia Wibowo
Reporter: Rizqy Noorawalia Febryanni, Helmalia Putri, Maula Rizki Aprilia, Nurul Irmah Agustina






