Bukan Sekadar Candaan: Ketika Kekerasan Dinormalisasi pada Lingkaran Pertemanan

Oleh: Nesya Huwaidaa Kultsum Azmii

Ilustrasi : Aulya Desya

Baru-baru ini, publik dikejutkan dengan naiknya pemberitaan oleh sekelompok mahasiswa yang terlibat dalam percakapan yang memuat unsur kekerasan seksual di sebuah grup chat. Sekilas mungkin terlihat sebagai “candaan” di ruang privat yang tidak perlu dibesar-besarkan. Namun, justru di situlah letak berbahayanya.

Kita terlalu sering menganggap bahwa kekerasan belum benar-benar terjadi apabila tidak ada kontak fisik yang dilakukan. Padahal, dari cara kita berbicara, melontarkan candaan, dan cara kita menyikapi hal-hal semacam ini dapat perlahan membentuk batas tentang apa yang dianggap wajar. Ketika sebuah percakapan yang merendahkan dan mengobjektifikasi terus kita biarkan, maka kekerasan seksual tidak lagi terasa asing, karena ia menjadi sesuatu yang dimaklumi. Kasus ini bukan lagi sekedar persoalan individu yang dibalut kata bercanda, namun cerminan dari budaya yang menormalisasi kekerasan melalui bahasa, dan itu diperkuat dengan sikap diam orang-orang di sekitarnya.

Salah satu hal yang sering luput kita sadari adalah bahwa sebenarnya kekerasan seksual berakar dari satu kata yang dianggap sepele. Seperti halnya obrolan di dunia maya dengan komentar yang merendahkan, mengobjektifikasi, atau bahkan membayangkan tindakan orang lain yang dibungkus dengan candaan. Komnas Perempuan melalui Catatan Tahunan (CATAHU), mengatakan bahwa sepanjang 2025 terhimpun 376.529 kasus KBGtP (Kekerasan Seksual Berbasis Gender terhadap Perempuan) yang meningkat 14,07% dari tahun sebelumnya. Data ini dihimpun melalui layanan pengaduan yang diterima Komnas Perempuan, pelaporan Lembaga mitra dan Kementerian/Lembaga, data penuntutan Kejaksaan Agung, serta data putusan pengadilan dari Badan Peradilan Agama dan Badan Peradilan Militer dan Tata Usaha Negara.

Selain itu, melalui situs Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (SIMFONI-PPA), tercatat ada 17.355 kasus kekerasan di Indonesia, dengan 14.919 korbannya adalah perempuan. Angka ini menunjukkan bahwa kekerasan terhadap perempuan bukan persoalan yang jarang terjadi pada masyarakat saat ini. Justru fenomena ini menjadi masalah yang masif dan berulang, bahkan berakar dari hal-hal yang dianggap sepele, seperti berbicara dan bencanda. Ketika bentuk kekerasan verbal terus dinormalisasi, maka kita secara tidak langsung sedang membangun lingkaran yang memungkinkan angka-angka tersebut terus bertambah.

Dalam konteks ini, percakapan yang bersifat merendahkan tidak berdiri sendiri. Satu orang memantik, dan yang lainnya mulai tertawa serta ikut menimpali. Ini menciptakan semacam validasi sosial, bahwa hal tersebut “bukanlah apa-apa”. Dari titik inilah awal mula batas candaan menjadi kabur, yang semula hanya kata-kata, perlahan menjadi cara berpikir dan berpotensi menjadi tindakan.

Namun, sejatinya persoalan ini tidak berhenti pada siapa yang berbicara, tetapi siapa yang memilih tetap diam. Dalam lingkaran kelompok, tidak semua orang adalah pelaku aktif, tetapi banyak yang menjadi saksi pasif. Diam seringkali dianggap sebagai posisi aman, sehingga mereka tidak ikut terlibat, dan juga tidak menentang. Pada konteks ini sebenarnya diam bukanlah sikap netral. Diam justru memperkuat ruang yang memungkinkan kekerasan terus dinormalisasi.

Ada alasan di balik sikap diam tersebut. Beberapa merasa takut dikucilkan, sedangkan yang lain merasa itu bukan urusan mereka, atau mereka justru ikut menganggap itu sebagai candaan? Karena alasan-alasan seperti inilah budaya tersebut terus bertahan. Tidak ada yang menegur, tidak ada yang mempertanyakan, maka tidak ada pula yang merasa perlu berhenti. Fenomena ini membuka mata kita, bahwa kita tidak sedang berhadapan dengan kasus individual semata, melainkan sebuah pola yang terus berulang. Lingkungan yang membiarkan percakapan semacam ini tumbuh tanpa koreksi, pada akhirnya akan menciptakan ruang yang tidak aman, baik secara fisik maupun psikologis.

Satu poin yang membuat marah bukan hanya isi percakapan itu sendiri, tetapi kesadaran bahwa hal serupa mungkin terjadi di banyak ruang lain yang tidak pernah terlihat. Ada kegelisahan yang sulit diabaikan, bahwa ada sebagian orang dengan mudahnya menggerakkan jarinya untuk membicarakan tubuh orang lain dan menganggap itu perilaku yang wajar. Lebih dari itu, yang terasa mengganggu adalah adanya kemungkinan bahwa di antara banyaknya teks percakapan yang ditulis, selalu ada orang yang sebenarnya merasa tidak nyaman, namun memilih untuk tetap diam. Dari sanalah kekerasan seksual menemukan ruang untuk tetap hidup.

Pada titik ini, sulit rasanya untuk terus menganggap bahwa semua hanya candaan yang tidak berarti. Ketika bahasa yang merendahkan mulai diabaikan dan ketika diam menjadi respon paling nyaman, maka yang sedang terjadi bukan hanya percakapan biasa. Melainkan proses normalisasi yang berulang dan menjadikan batasan itu semakin kabur.

Kasus ini seharusnya menjadi pengingat bahwa kekerasan seksual tidak hanya dilakukan oleh pelaku, tetapi juga dipelihara oleh lingkungan yang membiarkannya. Apa yang disebut candaan tidak pernah benar-benar netral ketika merendahkan orang lain, dan diam tidak pernah benar-benar aman ketika ia memberi ruang bagi hal tersebut untuk terus terjadi. Jika kita masih memilih untuk menutup mata, maka kita bukan hanya menyaksikan kasus ini berkembang, akan tetapi kita juga menjadi bagian dari alasan mengapa ia terus ada.

Editor : Lovely Mozza Permata M. N.

Redaksi

beritaunsoed.com adalah sebuah media independen yang dikelola oleh LPM Sketsa Unsoed dan merupakan satu-satunya Lembaga Pers Mahasiswa tingkat Universitas Jenderal Soedirman di Purwokerto.

Postingan Terkait

Kisah di Gang Krembangan pada Tahun 60-an dari Kacamata Bocah 6 Tahun

Oleh: Hasna Zulfa Qanitah Identitas Film:Judul : Na Willa Sutradara : Ryan Adriandhy Penulis Skrip :…

Lonceng Kematian Rasa Aman: Ketika Ekosistem Pendidikan Menjadi Sarang Kasus Kekerasan

Penulis: Reny Diah Merriola Ilustrasi : Widyana Rahayu Dunia pendidikan tinggi Indonesia kembali diguncang oleh narasi…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jangan Lewatkan

Bukan Sekadar Candaan: Ketika Kekerasan Dinormalisasi pada Lingkaran Pertemanan

Bukan Sekadar Candaan: Ketika Kekerasan Dinormalisasi pada Lingkaran Pertemanan

Kisah di Gang Krembangan pada Tahun 60-an dari Kacamata Bocah 6 Tahun

Kisah di Gang Krembangan pada Tahun 60-an dari Kacamata Bocah 6 Tahun

Lonceng Kematian Rasa Aman: Ketika Ekosistem Pendidikan Menjadi Sarang Kasus Kekerasan

Lonceng Kematian Rasa Aman: Ketika Ekosistem Pendidikan Menjadi Sarang Kasus Kekerasan

Hewan-Hewan di Ujung Jalan

Hewan-Hewan di Ujung Jalan

Riungan Sandiwara

Riungan Sandiwara

Semangat Tak Padam, Banyumas Ngibing 24 Jam Hidupkan Budaya Lokal

Semangat Tak Padam, Banyumas Ngibing 24 Jam Hidupkan Budaya Lokal