Oleh: Andika Brilyan
Di balik kaca bening, wajah-wajah dipajang rapi
senyum disusun bagai barang dagangan
retak disembunyikan dalam diam
meski riuh batin tak pernah benar-benar padam
Langkah-langkah bergerak serempak
seolah arah telah ditentukan tanpa tanya
perbedaan dikecilkan perlahan
hingga yang tersisa hanyalah keseragaman
Sorak terdengar nyaring di permukaan
namun hampa menggema di ruang terdalam
tepuk tangan berulang tanpa makna
penaka gema yang kehilangan sumber suara
Nilai manusia dihitung lewat angka
ditimbang dari banyaknya mata memandang
harga diri dinegosiasikan tiap hari
di pasar validasi yang tak pernah sepi
Bak katak dalam tempurung sempit
langit kecil diagungkan setinggi mungkin
padahal luas dunia tak tersentuh pandang
hanya bayang yang dipuja sebagai kenyataan
Cermin berdiri di sudut yang sepi
namun sering dihindari tanpa alasan pasti
ilusi lebih mudah dipeluk hangat
daripada luka yang meminta diakui perlahan
Pada akhirnya, manusia tetap manusia
rapuh di balik gemerlap yang dipaksakan
terus berpura-pura menjadi cahaya
di etalase yang tak pernah benar-benar hidup
Editor: Kania Nurma Gupita








