Menyelami Horor Psikologis dalam The Witch (2015)

Oleh: Farah Fauziah

Sumber: Wikipedia

Identitas Film

Judul : The Witch 

Sutradara & Penulis Skrip : Robert Eggers

Studio, Produser : A24, Parts and Labor, Rooks Nest Entertainment

Tanggal Rilis : 27 Januari 2015

Durasi : 1 jam 32 menit

Genre : Horor Supernatural, Folk, Misteri, Psikologis, Drama

Bahasa : Inggris

Pemeran : Anya Taylor-Joy, Ralph Ineson, Harvey Scrimshaw, 

  Kate Dickie, Sarah Stephens, Ellie Grainger

Rasanya tidak bisa mengategorikan semua film genre horor sudah pasti memiliki banyak jumpscare berturut-turut. Di film A24 satu ini, suasana kengerian dibangun secara perlahan dan membawa penonton lebih dalam ke atmosfer gelap dari film The Witch (2015). Film ini akan mengajak penonton kembali jauh pada tahun 1630 di sebuah desa di New England. Era saat penyihir sudah menjadi mitologi yang membayangi kehidupan masyarakat.

Semuanya bermula ketika William (Ralph Ineson), seorang tokoh religius, diusir karena perbedaan pandangan dengan komunitas Kristen puritan yang dikenal ketat dalam aturan hidup. Tanpa ragu, William membawa pergi keluarganya yang terdiri atas istri bernama Katherine (Kate Dickie) dan empat anak mereka, yaitu Thomasin (Anya Taylor-Joy), Caleb (Harvey Scrimshaw) dan si kembar, Mercy (Ellie Grainger) dan Jonas (Lucas Dawson). Keluarga itu mulai membangun pertanian dan menetap di sebuah rumah yang berdiri di dekat kawasan hutan. Tak lama, Katherine melahirkan seorang bayi laki-laki bernama Samuel. Awalnya kehidupan keluarga itu berlangsung dengan baik, hingga sebuah tragedi datang. Sebagai kakak perempuan yang penuh tanggung jawab, Thomasin menemani bayi Samuel dan mengajaknya bermain peekaboo di dekat hutan. Tanpa tanda apapun, Samuel hilang saat Thomasin membuka matanya.

Kejadian itu membuat keretakan hubungan di antara keluarga, Thomasin disalahkan oleh kedua orang tuanya. Tak hanya berhenti di situ, teror semakin mendatangi keluarga mereka. Upaya mereka menemukan bayi Samuel gagal, dan anak laki-laki kedua, Caleb ikut menghilang di tengah-tengah hutan. Suasana makin panas ketika si kembar menuduh Thomasin sebagai penyihir. Sebagai seorang ibu di tengah kalang kabutnya peristiwa itu, Katherine makin percaya bahwa Thomasin memiliki andil dalam kehilangan kedua anaknya. Tak hanya itu, kekuatan iman William juga diuji saat Caleb dirasuki oleh sesuatu yang tidak diketahui.

Di sini, penonton tidak dihadapkan dengan kemunculan makhluk penyihir yang berwujud menakutkan, tetapi tingkah aneh hewan dan manusia yang tidak sesuai dengan nalar. Keanehan yang menimpa satu per satu anggota keluarga itu secara bergantian, menyisakan perasaan ketakutan akan penyihir diam-diam mengintai keluarga itu dari balik rimbunnya hutan. 

Sepanjang durasi, alur film ini memang berjalan dengan lambat, tetapi kejadian demi kejadian berlangsung dalam hitungan menit, bahkan sebelum penonton sempat mencerna apa yang terjadi dengan tokoh tersebut. Perasaan menegangkan tak pernah berhenti semenjak penonton dihadapkan dengan adegan ritual sadis yang dilakukan oleh penyihir kepada Samuel. Minimnya kemunculan dari sosok penyihir ini, justru makin menambah rasa misteri dan kengerian dari film ini. 

Film The Witch bukan hanya epik di alur ceritanya saja, tetapi juga dengan detail visual dan audio yang membuat penonton tanpa sadar masuk ke abad 17. Dengungan musik hasil gubahan Mark Korven ini berhasil membangun ketegangan penonton dengan teknik fade in-fade out, berawal dari lantunan musik yang pelan, tinggi, hingga sangat tinggi. Teknik ini memicu perasaan berdebar-debar, seolah-olah sesuatu yang mengerikan akan segera terjadi. Selain itu, sinematografi film ini menimbulkan perasaan tidak nyaman, seolah-olah para penonton sedang menyaksikan sesuatu yang tidak boleh dilihat. Tak kalah berperan penting dari pembangunan atmosfer film The Witch adalah color palette yang didominasi dengan warna abu-abu, coklat, biru, dan hijau tua yang menekankan rasa dingin, pahit, dan penuh kesedihan. 

Walaupun film ini menawarkan elemen-elemen berkualitas yang sedemikian rupa, sebagian penonton merasa kurang puas dengan minimnya adegan jumpscare yang menakutkan dan menganggap bahwa film ini kurang, jika dikategorikan sebagai horor. Ditambah lagi dengan alurnya yang pelan dan elemen-elemen sejarah membuat penonton sulit memahami jalan cerita film tersebut. 

Meski film The Witch menggunakan latar belakang Inggris abad ke-17, bahasa dalam dialognya tidak sepenuhnya mengadopsi gaya bahasa Inggris lama sehingga masih mudah dipahami oleh para penonton. Secara keseluruhan, film ini sangat cocok bagi penikmat horor yang tidak terlalu menyukai adegan jumpscare berlebihan dan lebih tertarik pada mitologi atau legenda penyihir. Kengerian yang dihadirkan terasa lebih ‘jahat’ karena tidak langsung melukai fisik para tokohnya, melainkan perlahan menyerang sisi psikologis mereka hingga akhirnya menyeret mereka jatuh ke dalam jurang dosa yang sebelumnya selalu mereka hindari.

Lebih dari sekadar film horor, karya ini juga dapat dipandang sebagai kritik terhadap ketakutan berlebih dan runtuhnya kepercayaan dalam sebuah keluarga. Rasa curiga yang terus tumbuh justru menjadi ancaman paling nyata, bahkan lebih mengerikan dari sosok penyihir itu sendiri. Perpaduan elemen ini mencapai puncaknya saat iblis berhasil memanfaatkan kelemahan manusia. Tidak heran jika film The Witch layak meraih berbagai penghargaan, seperti Empire Award Film Horor Terbaik 2017 dan Best First Feature 2017. Jadi, apakah kalian tertarik menyelami kengerian yang ditawarkan oleh The Witch?

Editor: Velen Candra Nadia

Redaksi

beritaunsoed.com adalah sebuah media independen yang dikelola oleh LPM Sketsa Unsoed dan merupakan satu-satunya Lembaga Pers Mahasiswa tingkat Universitas Jenderal Soedirman di Purwokerto.

Postingan Terkait

Anti Bingung, Ini 4 Kuliner Tradisional Banyumas yang Cocok untuk Buah Tangan

Penulis: Dina Fitria Salsabila Momen libur semester selalu menjadi waktu yang paling dinantikan oleh kalangan mahasiswa…

Menelanjangi “Kodrat”: Mengapa Kartini Akan Menangis Melihat Kita Sekarang?

Oleh: Andika Brilyan Ilustrasi: Aulya Desya Setiap tanggal 21 April, kita terjebak dalam ritual kosmetik: sibuk…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jangan Lewatkan

Menyelami Horor Psikologis dalam The Witch (2015)

Menyelami Horor Psikologis dalam The Witch (2015)

Gemah Ripah Loh Jinawi: Kemeriahan Acara Lengger Bicara 2026

Gemah Ripah Loh Jinawi: Kemeriahan Acara Lengger Bicara 2026

Potret Massa Suarakan Tuntutan dalam Aksi Mimbar Bebas: Desak Mundur Prabowo-Gibran

Potret Massa Suarakan Tuntutan dalam Aksi Mimbar Bebas: Desak Mundur Prabowo-Gibran

Lestarikan Budaya Banyumas, Festival Lengger Bicara 2026 Gaet Ribuan Penari Muda

Lestarikan Budaya Banyumas, Festival Lengger Bicara 2026 Gaet Ribuan Penari Muda

Aliansi Banyumas Raya Gelar Aksi Mimbar Bebas, Desak Mundur Prabowo-Gibran

Aliansi Banyumas Raya Gelar Aksi Mimbar Bebas, Desak Mundur Prabowo-Gibran

Anti Bingung, Ini 4 Kuliner Tradisional Banyumas yang Cocok untuk Buah Tangan

Anti Bingung, Ini 4 Kuliner Tradisional Banyumas yang Cocok untuk Buah Tangan