Tuhan, Mengapa Aku?

Oleh: Rizkiana Fadillah Ningtias

Ilustrasi: Muhammad Robin M. N.
Ilustrasi: Muhammad Robin M. N.

Dalam gelap yang paling sunyi,

aku terbaring di atas kasur kecil yang sempit.

Menatap langit-langit yang penuh kesedihan,

sembari mencuri pandang pada bintang di balik jendela.

 

Aku melihat harapan-harapan itu,

terkubur satu per satu secara perlahan.

Aku hancur, sehancur-hancurnya,

tak ada telinga untuk bercerita,

selain kata-kata yang tumpah di atas kertas.

 

Apa sebenarnya dunia ini?

Mengapa dulu aku begitu yakin untuk dilahirkan?

Apakah luka ini adalah pilihanku sendiri,

atau hukuman atas dosa yang tak kuingat pernah kuperbuat?

Malam kian larut, tapi mataku enggan menutup.

 

Takut jika esok adalah pengulangan dari luka yang sama.

Bintang yang berkilau itu terasa begitu jauh,

seperti kebahagiaan yang hanya bisa kupandang tanpa bisa kugenggam.

​Aku bertanya pada hening yang kian mencekam,

Berapa banyak lagi kepingan diriku yang hancur?

 

Hingga aku benar-benar tak bersisa,

menjadi abu yang ditiup angin tanpa arah.

​Jika benar ini adalah jalan menuju surga,

mengapa perjalanannya harus sepedih ini?

Haruskah jiwaku dipatahkan berkali-kali.

 

Hanya untuk membuktikan bahwa aku kuat bertahan?

​Kini biarlah kasur kecil ini menjadi saksi,

tentang seorang manusia yang sedang mencari arti.

Tentang doa yang terucap di antara isak,

menunggu tangan Tuhan membasuh segala sesak.

 

​Entahlah …

Ataukah pedih yang mendalam ini,

hanyalah cara Tuhan membasuh jiwaku,

agar kelak aku layak memeluk bahagianya surga?

Editor: Annisa Dwi Rahman

Redaksi

beritaunsoed.com adalah sebuah media independen yang dikelola oleh LPM Sketsa Unsoed dan merupakan satu-satunya Lembaga Pers Mahasiswa tingkat Universitas Jenderal Soedirman di Purwokerto.

Postingan Terkait

Barangkali Besok Akan Lebih Ramah

Oleh: Abida Fitratussawa Pagi datang dengan wajah pucat. Langkah kaki tetap berjalan di tengah hati yang…

Sebuah Elegi di Sore Hari

Oleh: Lintang Fitriana Dalam lorong yang kehilangan pagi, seorang ibu mengayun langkah tanpa gizi, menenteng pasar…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jangan Lewatkan

Tuhan, Mengapa Aku?

Tuhan, Mengapa Aku?

Hari Anak Nasional: Menilik Kualitas, Kesejahteraan, dan Tantangan Era Digital

Hari Anak Nasional: Menilik Kualitas, Kesejahteraan, dan Tantangan Era Digital

Melintasi Alam Baka, Menerima Diri di Tengah Kalutnya Dunia

Melintasi Alam Baka, Menerima Diri di Tengah Kalutnya Dunia

Barangkali Besok Akan Lebih Ramah

Barangkali Besok Akan Lebih Ramah

Sebuah Elegi di Sore Hari

Sebuah Elegi di Sore Hari

Tamasya Tempat Kakek

Tamasya Tempat Kakek