Oleh: Annisa Nur Hidayah
Air laut merona oleh darah,
Bumi dipijaki para penjajah berdasi.
Paru-paru dunia dibabat tanpa belas kasih,
Sanggupkah berpegang pada kuasa Ilahi?
Dewi Kehidupan menangis meraung tak terbendung,
Gaia bergetar menahan pilu yang tak kunjung usai,
Sedang Dewi Sri tak lagi menemukan tempat pulang,
Hanya berpegang pada bisikan Aeolus yang menghaturkan doa tiada henti.
Membinasakan dewa-dewi dengan dalih kemajuan,
Sungguh, terkutuklah para manusia tak berempati.
Membantai sesamanya karena takut pada orang berakal,
Sungguh, bukan kemajuan yang sedang mereka dekap—melainkan kemunduran.
Kekuasaan dijunjung bak mahkota emas,
Jabatan diagung-agungkan bagai medali emas,
Nahas, kaum bawah selalu tertindas.
Terbuai janji-janji tak berbalas.
Oh, penjajah berdasi …
Tak sudikah kau menegakkan keadilan?
Oh, penjajah berdasi …
Tak bisakah kau mengemban jabatan?
Editor: Annisa Dwi Rahman







