Yuni, Pamali, Jeruji, dan Emansipasi

Dari redaksi

Oleh: Akhmad Idris*

Ilustrasi: Amalia Rahmadani

Baru-baru ini Indonesia seharusnya berbangga diri dengan prestasi yang diraih oleh film Yuni di pentas internasional. Pasalnya, film yang memborong empat belas nominasi Piala Citra 2021 ini berhasil membawa pulang Platform Prize ke bumi pertiwi dalam pagelaran Toronto International Film Festival 2021. Sayangnya prestasi ini tidak disambut dengan baik di rumah sendiri. Hal ini saya buktikan sendiri saat melihat jadwal penayangannya di beberapa kota. Ternyata dari tiga sampai empat bioskop yang ada di kota Malang, hanya satu bioskop yang menayangkan film Yuni. Itu pun hanya satu kali penayangan dalam sehari. Berbeda dengan film-film lain yang bisa sampai tiga kali dalam sehari. Mirisnya lagi, film Yuni cenderung ditayangkan di mall-mall yang sepi pengunjung. Tak hanya itu, menurut data dari filmindonesia.or.id, film Yuni selama penayangannya hanya mampu menarik  minat sebanyak 117.160 penonton. Masih kalah jauh dengan perolehan film Dilan 1991 yang berhasil menggaet 5.253.411 penonton, meskipun sama-sama diadaptasi dari novel. Apalagi jika dibandingkan dengan film KKN Desa Penari yang sudah tembus hingga 9.231.578 penonton. Setragis inikah nasib anak kandung di rumah sendiri, padahal ‘diagung-agungkan’ di rumah ibu tiri?

Jika ditelisik lebih jauh, satu hal yang membuat film ini kurang diminati di rumah sendiri adalah minimnya dramatisasi konflik. Berbanding terbalik dengan pendapat yang diungkapkan oleh Anhar Dana Putra dalam tulisannya yang berjudul “Yuni” dan Obrolan-Obrolan yang Tak Kunjung Usai. Anhar Dana Putra mengatakan bahwa film Yuni menarik karena mengajak penontonnya seperti menikmati film dokumenter biografi dengan pace film yang terkesan sangat pelan, padahal hal inilah yang membuat film ini terkesan membosankan. Yuni hanya menyajikan potret nasib perempuan dalam konstruksi patriarki yang tak kunjung berhenti, tanpa memainkan emosi dengan konflik yang didramatisasi.

Sebut saja seperti adegan tentang rencana tes keperawanan di awal cerita yang hanya sebatas sepotong adegan yang dibiarkan lewat begitu saja sebagai wujud kritik satire atas kebebasan perempuan, tanpa dilanjutkan dengan sebuah konflik yang bisa mengaduk-aduk emosi penikmat filmnya. Singkat kata, film Yuni menurut kacamata saya sebagai seorang penikmat film memang kurang menarik sebab minimnya dramatisasi konflik, namun film Yuni tetap kategori film yang bagus sebab pesona kritik di dalamnya.

Menyuarakan Kebebasan Perempuan

Menurut hemat saya, satu hal utama yang menjadi misi dalam film Yuni (sekaligus novelnya) adalah freedom. Satu kata yang selama ini⸻dalam konstruksi patriarki⸻hanya dimiliki oleh laki-laki dan (tidak) boleh dimiliki oleh perempuan. Sejak awal tokoh Yuni sudah ditampilkan sebagai perempuan yang berani mempertanyakan kebebasan, di antaranya seperti ungkapan satire Yuni yang berbunyi “Di sini suara bukan aurat, kan?” Dalam kacamata agama sendiri tidak semua ahli fikih menyebut suara sebagai aurat, bahkan sebagian besar ahli fikih tidak menyebutnya aurat. Hal ini dibuktikan dengan cara salah satu istri Rasulullah, Aisyah (yang paling banyak meriwayatkan hadis di antara istri-istri Nabi) yang meriwayatkan hadis Nabi dengan suara kepada para Sahabat maupun Tabi’in laki-laki. Saking muaknya dengan keterkungkungan suara perempuan, ada sebuah kalimat satire semi-otis di dalam film Yuni yang berbunyi seperti ini: “Perempuan tidak boleh bersuara karena mereka tidak tahu bagaimana rasanya benar-benar kehilangan suara.” Ada semacam perlawanan dalam setiap adegan dalam film ini yang agaknya hanya mampu ditangkap oleh orang-orang dengan kepekaan tingkat tinggi.

Kebebasan perempuan kian dijeruji dengan keberadaan pamali yang terkesan bias gender. Saat Yuni yang masih berada di bangku SMA dan dilamar seorang laki-laki yang baru sekali bertemu ketika mengantar kue ke rumahnya, Yuni dipaksa oleh budaya yang mengelilinginya cum menjerujinya untuk menerima lamaran itu. Alasannya sangat sederhana dan tidak menguntungkan perempuan, yakni pamali menolak lamaran sebab sama halnya dengan menolak rezeki. Sistem seperti ini semakin menyudutkan perempuan, karena perempuan ditempatkan pada posisi yang hanya memiliki satu pilihan: Iya! Sementara laki-laki dengan bebas memilih melamar siapapun yang ia sukai. Belum lagi standar ‘remeh’ laki-laki baik yang sebatas berani langsung melakukan lamaran, tanpa embel-embel pacaran terlebih dahulu. Sementara standar perempuan baik jauh lebih rumit dari yang dibayangkan, seperti pandai memasak; macak; hingga manak.

Tak cukup berhenti sampai di sini, Yuni kembali dijeruji oleh pamali-pamali lain saat ia dilamar oleh seorang aki-aki. Di lamaran yang kedua kali ini, Yuni dihantui oleh suara-suara sekitar yang berceracau bahwa perempuan yang menolak lamaran dua kali akan kesulitan mendapatkan jodoh. Kabar baiknya, Yuni yang digadang-gadang sebagai simbol perempuan masa kini dengan berani menolak lamaran itu. Namun sialnya si aki-aki malah memberikan pertanyaan retoris tentang apakah ‘uang lamaran’ yang diberikan masih kurang? Seolah anggukan perempuan bisa dibeli dengan segepok lembaran berwarna merah dan biru. Tidak semudah itu, Yuni menolak mentah-mentah. Setiap perempuan berhak memiliki mimpi sebagaimana para lelaki yang dengan lantang menyuarakan mimpi di pagi hari.

Satu di antara ungkapan heroik dari Yuni saat menyuarakan emansipasi adalah kalimat yang berbunyi seperti ini: “Kita memang tidak tahu jadi apa, tapi kita benar-benar nggak mau memiliki masa depan yang suram.” Siapapun (tidak hanya perempuan) memang tidak tahu takdir apa yang menanti di depan, namun satu hal yang pasti adalah tidak ada satupun yang rela dengan tulus menjatuhkan diri ke lembah kesengsaraan. Yuni memang tidak tahu nasibnya nanti setelah lulus SMA, entah menikah; bekerja; atau berkuliah. Namun jika memang pilihan yang tersisa adalah menikah, Yuni juga tidak ingin menikah dengan seorang aki-aki yang sama sekali tidak ia sukai.

Di tengah isu kekerasan terhadap perempuan seperti saat ini, film Yuni berhasil memanfaatkan momentum tersebut lewat adegan ketakberdayaan perempuan di hadapan arogansi kekuasaan guru bahasa Indonesianya. Yuni berhasil memergoki guru laki-lakinya yang mencoba memakai kerudung secara diam-diam di sebuah pusat perbelanjaan. Akhirnya Yuni meminta maaf dan berjanji akan menyimpannya rapat-rapat, namun sang guru justru memanfaatkan kuasanya dengan cara melamar Yuni sebagai dalih bahwa ia lelaki tulen sekaligus memberi nilai buruk pada mata pelajaran Bahasa Indonesia agar Yuni tidak bisa mendapatkan beasiswa. Kurang lebih seperti inilah potret nasib perempuan yang dihadirkan di film Yuni, yakni tentang emansipasi yang dijeruji oleh budaya dan relasi kuasa. Jika mau bercermin dengan realita sosial yang ada di bumi pertiwi, agaknya model kehidupan yang seperti ini masih jamak terjadi. Sebut saja seperti laporan kasus kekerasan seksual yang dilakukan oleh seorang dosen di Ambon kepada mahasiswanya (dilaporkan oleh LPM Lintas dan dipublikasi ulang oleh selurus Persma di Indonesia). Lagi-lagi mahasiswa sebagai korban tidak berdaya di hadapan arogansi kuasa sebab takut dipersulit perkuliahannya oleh pelaku.

Akhir kata, apa yang bisa diharapkan dari negara yang menganut paham demokrasi, namun malah menjeruji emansipasi? Perempuan masih saja diletakkan di posisi tidak menguntungkan: diam disangka mau, namun bersuara malah diancam lewat relasi kuasa. Yuni……, semoga kau menjadi lampu atas gelap yang tak kunjung terang ini.


Editor: Alif Saviola Rakhman, Alil Saputra

*Penulis merupakan tenaga pendidik Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia STMIK Bina Insan Mandiri

Related Posts

Tinggalkan Komentar Anda