Fenomena ‘Latah’ Akibat Media Sosial

Dari redaksi

Oleh: Desi Fitriani*

Ilustrasi: Nadya Salma

Pengguna media sosial di Indonesia saat ini semakin bertambah seiring berkembangnya zaman. Menurut dataindonesia.id pengguna aktif media sosial di Indonesia mencapai 191 juta orang pada Januari 2022. Jumlah tersebut terus meningkat tiap tahunnya. Tidak dapat dipungkiri, penyebaran berita ataupun sebuah tren akan menyebar begitu cepat akibat banyaknya masyarakat yang aktif dalam bermedia sosial. Hal tersebut tentunya akan meninggalkan dampak, baik secara langsung maupun tidak langsung. Bukan hanya dampak positif yang bisa dituai karena banyaknya masyarakat yang melek suatu hal baru di media sosial, tetapi dampak negatif yang ditimbulkan juga pasti ada. Apalagi banyak anak di bawah umur yang sekarang sudah bisa mengakses media sosial dengan mudah.

Media sosial yang banyak digunakan umumnya aplikasi untuk berkirim pesan seperti WhatsApp. Hal ini semakin dibutuhkan akibat adanya pandemi di Indonesia. Siswa dituntut untuk belajar secara daring yang mengharuskan adanya penggunaan aplikasi kirim pesan jarak jauh untuk memudahkan komunikasi. Selain aplikasi berkirim pesan, media sosial hiburan seperti TikTok, Twitter, dan Instagram tidak kalah banyak penggunanya. Media sosial tersebutlah yang biasanya menjadi wadah untuk menemukan berita terbaru dengan mudah, bahkan sebuah tren baru akan tersebar secara cepat di dalamnya. Tren itulah yang menimbulkan banyaknya masyarakat di Indonesia ‘latah’ untuk melakukan suatu hal yang baru, bahkan bisa dikatakan aktivitas unik.

Banyaknya pengguna media sosial berpengaruh terhadap penyebaran berita. Sebuah berita mengenai kasus yang baru terjadi biasanya akan lebih cepat tersebar infomasinya di media sosial. Fenomena ‘latah’ di sini memiliki dampak yang positif, namun tak jarang pula terdapat infomasi yang dilebih-lebihkan sehingga menimbulkan informasi baru yang bersifat palsu (hoax). Masyarakat Indonesia akan berbondong-bondong menyebarkan informasi mengenai berita tersebut, bahkan ikut berkomentar yang menyebabkan kasus tersebut lebih cepat terangkat. Kasus yang sudah viral di media sosial akan lebih cepat ditanggapi oleh lembaga yang bertanggung jawab.

Dikutip dari kompas.com terdapat beberapa kasus pada tahun 2021 yang baru diusut setelah berita tersebut viral dan banyak diperbincangkan oleh warganet. Salah satunya adalah kasus bunuh diri mahasiswi NWR. Bripda RB ditangkap dan diproses karena diduga menyuruh NWR untuk melakukan aborsi sebanyak dua kali. Proses tersebut dilakukan setelah NWR tewas karena bunuh diri dengan menenggak racun, kematian NWR pun menjadi viral di Twitter pada Sabtu (4/12/2021). Dari penyelidikan polisi, NWR mengakhiri hidupnya karena mengalami tekanan mental atau depresi.

Kasus di atas merupakan salah satu kasus yang baru diusut setelah viral. Masih banyak kasus lainnya yang baru diusut setelah banyaknya warganet yang memberikan tanggapan di media sosial. Dari sini sudah nampak adanya kekuatan warganet dalam menyebarkan berita dan informasi di media sosial. Hal tersebut tidak jauh akibat fenomena ‘latah’ yang terjadi. Warganet merasa ‘terpanggil’ dan ingin ikut menyebarkan informasi, bahkan berkomentar saat melihat warganet lainnya melakukan hal yang sama. Di samping adanya dampak positif mengenai penyebaran berita akibat fenomena ‘latah’ dalam bersosial media, sudah pasti banyak juga akibat negatif yang didapatkan.

Salah satu contoh kasus negatif mengenai ‘latah’-nya warganet yaitu fenomena yang baru-baru ini viral mengenai Citayam Fashion Week. Menurut suara.com, Citayam Fashion Week merupakan kegiatan kumpul-kumpul anak muda dari berbagai daerah di Kawasan Sudirman, khususnya Dukuh Atas. Sekelompok anak muda tersebut datang untuk ‘nongkrong’ menggunakan gaya berpakaian yang nyentrik. Setelah fenomena tersebut viral, disebutlah Citayam Fashion Week karena mayoritas yang datang adalah anak muda dari daerah Citayam, Bojong Gede, Bekasi, serta pinggiran Jakarta.

Pada mulanya sebelum fenomena tersebut viral di media sosial, dampak negatifnya belum terlalu tampak. Namun, akibat sifat ‘latah’ para pengguna media sosial yang ikut berkunjung ke kawasan Sudirman dengan tujuan ikut membuat konten barulah muncul dampak negatif yang ditimbulkan. Kawasan Sudirman yang merupakan titik kumpul fenomena tersebut menjadi macet parah dikarenakan banyaknya parkir liar yang terjadi. Masyarakat yang ikut-ikutan berkunjung ke sana membawa kendaraan pribadi yang menyebabkan maraknya parkir liar. Akibat parkir liar dan terlalu banyaknya orang yang memakan badan jalan sehingga menimbulkan kemacetan yang cukup parah. Selain itu, dikutip dari tempo.co kebersihan di kawasan tersebut juga semakin berkurang karena banyaknya orang yang membuang sampah seperti puntung rokok secara sembarangan.

Setelah banyak kasus yang terjadi akibat fenomena ‘latah’ dalam bermedia sosial, masyarakat Indonesia sudah seharusnya lebih bijak lagi dalam penggunaan media sosial. Dalam penyebaran berita, untuk menghindari kabar dan berita hoax warganet harus lebih bijak dalam menerima informasi dari sumber yang kurang kredibel. Selain itu, warganet juga diharapkan tidak bersumbu pendek dalam menghadapi sesuatu sehingga tidak terjadi salah sasaran akibat emosi yang terlalu cepat tersulut dalam menanggapi berita yang negatif. Bijaknya masyarakat Indonesia dalam penggunaan media sosial akan sangat berdampak ke depannya, tidak akan ada lagi kasus-kasus yang ditimbulkan karena ‘kelatahan’ masyarakat.

Editor: Zahroh Almas Majid

*Penulis merupakan mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Jenderal Soedirman angkatan 2021

Related Posts

Tinggalkan Komentar Anda