Kunamakan: Kisahnya

Oleh: Muhamad Ade Ravi

Ilustrasi : Aulya Desya

Bantingan pintu melenyapkan mimpi burukku malam ini. Dengan setengah sadar, lagi-lagi aku melihat sepasang bola mata muncul dari sana. Namun, cahaya itu meredup. Cahaya di matanya semakin kalut tertelan ombak pasang. Kakinya berlari melawan air mata yang bertambah deras sembari membawa satu keping bohong yang baru ke arahku. Tak biasanya ia menangis seperti ini. Lolonganku yang terus tersekat berusaha menggapainya, tetapi ia tersandung akar-akar Paman Pohon Beringin tepat beberapa langkah dari wajahku. Dengan wajah yang biru, ia melambai-lambai berusaha menggapaiku. Namun, jarinya bahkan tiada mampu hanya untuk sekadar menyentuh hidungku. Lutut bersihnya—yang lebih bersih dari kulitku—kini mengalirkan cairan merah segar. Bau anyirnya langsung menusuk penciumanku. Badannya gemetar. Ia terisak. Aku terdiam. Mulutku kelu. Terasa ada tulang besar yang mengganjal tenggorokanku. Aku hanya bisa membeku mendengarnya. Malam ini, anak laki-laki itu menyerah. 

Dahulu, aku membenci Paman Pohon Beringin, sebab tali yang mereka ikat pada leherku enggan terlepas darinya. Tubuhnya menjulang dan rindang, yang selalunya membuatku takut kala malam melelapkan seluruh mata anak-anak manusia. Terlebih lagi, Paman Pohon Beringin hidup di belakang rumah anak laki-laki itu—maksudku rumah mereka; orang tua dari anak laki-laki itu—yang katanya banyak sekali hantunya. Namun, benci itu tak menahun lamanya. Setelah kurenungi, aku menyadari bahwa Paman Pohon Beringin tidaklah jahat. Ia memiliki teduh di tubuhnya, yang meneduhkan pula aku yang terikat bersamanya. Aku suka teduh, dan kami—aku dan anak laki-laki itu—suka bercerita saat suasana begitu teduh.

Akhirnya ia menjadi temanku, dan teman bagi anak laki-laki itu. Mungkin itu sebabnya ia menjadi simbol sila ke-3: Paman Pohon Beringin menyatukan aku dan anak laki-laki itu di bawah rimbunnya dedaunan dan akar yang menggantung. Namun, entah mengapa pemimpin kami lebih memilih Preman Sawit yang gersang dan oportunistis itu, dibanding Paman Pohon Beringin ini. Sebenarnya Preman Sawit cukup menggambarkan pemimpin kami. Maka aku tidak akan terkejut bilamana lambang itu berganti, mungkin pemimpin kami kembali mengalami jatuh cinta.

Ah! Aku melantur. Kembali pada anak laki-laki itu. Kala satu keping bohong kembali terdengar, anak laki-laki itu akan buru-buru menghampiriku dan duduk di bawah teduhnya Paman Pohon Beringin, lalu bercerita seada-adanya. Iya, ia senang sekali bercerita. Namun, entah mengapa orang tuanya selalu benci mendengar ceritanya, mungkin karena kebohongan mereka terlalu jujur dalam ceritanya. Setidaknya itu prasangkaku selama ini.

Ia anak yang baik. Meski ia tidak memberikanku sebuah nama—dan aku tidak mengetahui namanya—tetapi ia gemar berbagi kisah, dan sudah tentu kisah yang benar adanya. Aku tidak mengetahui namanya sebab mereka tidak pernah memanggilnya dengan sebuah nama, melainkan: Hei! Aku tak mengerti, mengapa seorang anak semanis ini hidup tanpa memiliki nama? Apakah mereka benar mencintai anak laki-laki ini?

Ia juga kerap berbagi suapan padaku. Terkadang, saat nenek memberinya satu ekor ikan utuh, ia akan buru-buru menghampiri kami untuk menikmati ikan tersebut, lalu mengubur tulang ikan itu di bawah akar Paman Pohon Beringin agar Paman Pohon Beringin bisa menikmatinya juga. Ia menyukai makanan manis (kalau aku tidak begitu), seperti gula-gula kapas, coklat, dan rambut nenek. Aku tidak mengerti mengapa anak laki-laki itu menyukainya, padahal itu kan rambut neneknya sendiri? Pantas saja rambut nenek kian menipis, kini aku mengetahui penyebabnya. Dan tentu saja, makanan manis itu juga didapat dari nenek, makanya ia sayang nenek (meski rambut nenek selalu dimakan olehnya). Selain itu, ia juga kerap hanya duduk diam tanpa bercerita sembari menikmati lembutnya angin sore.

Anak laki-laki itu banyak cintanya pada dunia. Namun, satu hal yang tak lagi bisa ia cerna, yaitu bohong. Dunianya perlahan ditutup awan kelabu kala ia mengenal bohong. Ia membenci segala bentuk bohong, dan siapa pun yang berbohong. Tentu, nenek tidak pernah berbohong, tidak pernah pula mengingkari janjinya ketika nenek berkata ingin memberikannya makanan manis. Itu sebabnya ia sayang nenek. Berbanding terbalik dengan orang tuanya. Mereka seperti membuat panggung pentas di tengah meja makan, kemudian memamerkan kebohongannya, dan anak laki-laki itu yang terpaksa menjadi penonton pentas tersebut hingga selesai—karena jika tidak, satu piring pecah akan menghentikan langkahnya. Itu sebabnya ia membenci mereka.

Kala pementasan itu bermula dan segala bohong mulai bersuara, anak laki-laki itu menghentikan kunyahnya dan menunduk. Ia mengetahui bahwa ribuan cerita orang tuanya berisi tipuan semata. Entah sihir dewa dari mana, ia seakan mempunyai bukti atas segala bentuk bohong mereka. Secantik apapun warna yang mereka pilih untuk membalut ceritanya agar berwarna, ia hanya akan selalu melihat bungkus hitam putih yang beradu di kepalanya. Entah bapak hitam ibu putih, atau ibu hitam bapak putih, atau mereka hitam dan ia putih. Mereka saling mencintai, sebabnya mereka saling menutupi.

Segalanya mereka tutupi agar anak laki-laki itu tidak mengetahui. Seperti saat ibu berkata bahwa bapak sedang bekerja, padahal begitu nyata ia melihat bapak gemar bertaruh di atas lembaran rupiah bersama rekan-rekannya. Begitu pula bapak, yang setiap hari menyelipkan lembar-lembar uang di bawah bantal ibu. Namun, meja makan itu tetap saja tidak pernah utuh. Ibu selalu berkata habis untuk membelikan puluhan cokelat bagi anak laki-laki itu. Padahal, diam-diam, neneklah yang selalu menghadirkan manis itu untuknya.

Anak laki-laki itu sebenarnya iri pada om yang sering main ke kamar ibu saat bapak tidak di rumah. Pakaiannya selalu compang-camping saat selesai bermain lengkap dengan kantong yang penuh berisi lembaran uang. Kemudian saat bapak pulang, ibu memohon untuk memberinya berlembar uang lagi. Namun, untuk yang kali ini bapak marah, begitu marah hingga suaranya terdengar jelas di telinga kulaiku. Katanya bapak marah pada ibu yang terlalu memanjakannya. Tentu hal tersebut sama sekali tidak ada benarnya. Namun, lagi dan lagi, anak laki-laki itu yang selalu berakhir menjadi kotak wadah amarah bapak. Bapak membanting piring di depan wajahnya, menamparnya, menodongnya, bahkan terdengar sebuah kayu terbelah oleh tulang rengkuh miliknya.

“Aku benci bapak. Aku benci ibu.” Matanya yang berair itu gemetar menatapku. Suaranya lirih, tetapi telingaku begitu fasih mendengarnya. Meski bukan melalui lisannya, tetapi mata lemahnya berbicara, lengan birunya berbicara, rambut halusnya berbicara, ruam tubuhnya berbicara, semua tubuh rengkuhnya berbicara. Namun, aku tak bisa berbicara menggunakan bahasanya. Apakah ia akan mengerti bahasaku seperti aku memahami bahasanya?

“Mereka berbohong lagi,” isak tangisnya belum berhenti. Air matanya sudah membasahi penuh pipinya yang sedikit bulat.  

Aku terus merasakan perih yang tak terhingga. Tubuhku seakan tersayat bersama air matanya yang terus mengalir. Satu air mata yang menetes, diikuti pula satu sayatan dingin di sekujur tubuhku. Aku merintih, kuuk … kuuk … kuuk …

Aku ingin memeluknya, tetapi ia begitu jauh. Tali yang mengikat di leherku begitu kuat, sampai-sampai leherku terasa bertambah perih saat aku berusaha memberontak. Namun, semakin aku menyerah, tangisannya semakin menyayat kulitku. Aku menggonggong pada Paman Pohon Beringin untuk melepaskanku, tetapi Paman Pohon Beringin hanya diam.

Persetan! 

Aku memang tak pernah mendengar ia berbicara. Paman Pohon Beringin hanya bisa mengorok saat ia tertidur dan bernapas secara kasar melalui akar-akarnya yang menggantung. Namun, aku yakin ia tidak tuli. Pasti ia bisa mendengar selayaknya makhluk hidup lainnya, tetapi mengapa? Mengapa ia tidak membantuku untuk meraih tangan anak laki-laki itu?

Rasa benci yang dulu hilang, kini kembali dan bertumbuh melebihi besar tubuh Paman Pohon Beringin. 

Aku benar-benar menyerah, bahkan hingga anak laki-laki itu jalan tertatih ke arahku, tali ini tetap tak bisa terlepas. Namun, ia tersenyum padaku. Ia memelukku. Pelukannya erat dan begitu hangat.

“Di luar sana, adakah dunia yang tidak mengenal kebohongan?” Ia menyandarkan tubuhnya pada Paman Pohon Beringin sembari mengelus buluku yang begitu kusut.

Pandangan matanya kosong. Tangisnya mulai mereda. Aku merasakan hangat tubuhnya seperti dipenuhi keputusasaan. Rambutnya berantakan persis sepertiku. Lututnya mulai berhenti mengalirkan cairan segar itu lagi. Deru napasnya tak lagi memburu. Namun, aku khawatir karena ketenangan terasa lebih cepat menyapa.

“Jika tak bersama mereka, apakah akan kutemui segala bentuk jujur yang sedari dulu kucari?”

Aku hanya mengelus-eluskan kepalaku di dadanya, berharap ia segera kembali dan mulai berbagi suapan manis kembali. Namun, ia mulai mengucapkan kalimat-kalimat yang tak masuk akal menurutku. 

“Apakah kamu senang mengalungkan tali dari mereka?”

“Apakah tali ini bisa menjemput keping kejujuran?”

“Bisakah aku merasakannya juga?”

Malam memancarkan cahayanya malam ini. Bintang-bintang begitu serasi menghiasi lebam langit yang muram. Malam seperti meramu harapan baru bagi kami. Diselingi deburan angin malam yang terkadang membangunkan pori-pori kami. Ditampakkannya senyum termanis olehnya. Dibalik gelombang rambutnya, kulihat betul bahwa matanya pun turut melengkung. Pipinya memerah akibat hangatnya sisa air mata. Melahirkan cekungan tipis kala sudut pipinya membulat. Aku paham itu senyuman termanis yang pernah kutemui darinya. Lebih manis dari gula-gula kapas yang sering kami bagi. Namun, aku hanya menerka-nerka apa arti dari senyumannya. Wajahnya mendekati wajahku. 

“Gaba, namamu Gaba.”

Aku menggonggong tanda bahagia. Perlu puluhan purnama bagiku untuk mengetahui siapa diriku sebenarnya; untuk mengetahui apa arti diriku baginya; tentang sosok seperti apa diriku di matanya. Aku menjilati wajah manisnya yang terus menerus mengelus-elus puncak kepalaku. Aku tidak pernah merasakan sebahagia ini. Malam tak pernah mengecewakan. Di kala lemah lesunya sebuah pertemuan, tak pernah kubayangkan perihal buruk rupanya dunia menyelamatkan jiwa-jiwa manusia

Mataku terpejam. Aku merasakan peluk yang begitu hangat. Perlahan sesak yang selama ini terikat padaku menghilang. Neraka yang selama ini menjelma sebagai mimpi burukku menghilang bagai debu yang tenggelam bersama air hujan. Aku begitu menyayanginya, selayaknya gula-gula kapas yang terus melayangkan bahagia. Meski tak bertahan lama, setidaknya bahagia sempat memeluknya; setidaknya bukan kebohongan yang acap diarunginya. 

Terkadang aku membenci dunia bersama bohongnya yang begitu tega mencabuli seisi ranum hatinya. Tak jarang aku bertanya, apakah dunia hanya racauan burung belang?

“Gaba!”

Kepalaku mendongak. Mataku terbuka. Tangan anak laki-laki itu melambungkan sebatang coklat dengan begitu jauh ke arah gelap. Ia memiringkan kepalanya seakan memintaku untuk menjemputnya, seperti yang sudah-sudah. Aku tak bisa menolaknya. Naluriku menggerakkan segenap kakiku untuk mengejarnya. Kakiku melangkah semakin menjauh, tetapi mataku tak bisa terlepas darinya. 

Ada sesuatu yang berbeda dari caranya menatap malam. Begitu penuh, begitu harap, begitu lebih dari hangatnya beberapa menit silam. Seolah-olah malam membisikannya sebuah kisah. Kisah yang sedari dulu dicarinya. Kisah seorang pengembara yang hinggap dari bintang satu ke bintang lainnya. Menemukan segala macam bentuk jujur di setiap pemberhentiannya. Dan mungkin untuk pertama kalinya, dunia akan terasa begitu luas. 

Namun, di sini, langkahku enggan berhenti.

Aku terus berlari.

Mengejar angan semu itu.

Mengejar angan yang terasa asing bagiku. 

Mengejar angan yang semakin menjauhkannya dariku.

Hingga bayangan mimpi burukku hadir; menyisakannya bersama sepasang kaki yang menggantung pada awan; menjuntai lemas seperti akar-akar Paman Pohon Beringin yang hanya diam, bersama udara.

Dan untuk kesekian kalinya, aku berharap tak pernah ada.

Editor : Annisa Nur Hidayah

 

Redaksi

beritaunsoed.com adalah sebuah media independen yang dikelola oleh LPM Sketsa Unsoed dan merupakan satu-satunya Lembaga Pers Mahasiswa tingkat Universitas Jenderal Soedirman di Purwokerto.

Postingan Terkait

52 Hz

Oleh: Resty Assyfa Aku berenang menyusuri hamparan laut yang gelap, mengarungi rute panjang saat dunia terlelap.…

Penjajah Berdasi

Oleh: Annisa Nur Hidayah Air laut merona oleh darah, Bumi dipijaki para penjajah berdasi. Paru-paru dunia…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jangan Lewatkan

Kunamakan: Kisahnya

Kunamakan: Kisahnya

Antusiasme Meningkat, Banyumas Ngibing 24 Jam Menari Kembali Digelar

Antusiasme Meningkat, Banyumas Ngibing 24 Jam Menari Kembali Digelar

Sejuta Rindu dalam Sepotong Senja di Balik Amplop

Sejuta Rindu dalam Sepotong Senja di Balik Amplop

Unsoed dan Polda Jalin Kerja Sama, Kampus Tegaskan Tak Ada Intervensi Akademik

Unsoed dan Polda Jalin Kerja Sama, Kampus Tegaskan Tak Ada Intervensi Akademik

52 Hz

52 Hz

Mati Suri Jurnalisme Musik di Indonesia

Mati Suri Jurnalisme Musik di Indonesia