Menyikapi Circle Pertemanan di Kampus, Harus Bagaimana?

Oleh: Desi Fitriani

Teman dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia bermakna seseorang yang sudah lama dikenal dan sering berhubungan dalam hal tertentu, misalnya bermain, belajar, dan bekerja. Manusia yang bersifat sebagai makhluk sosial dituntut dan didorong harus memiliki teman dalam hidupnya, setidaknya satu atau dua orang sebagai teman dekat. Kehidupan sosial seperti di lingkungan kampus tidak asing dengan sebutan circle pertemanan. Sederhananya, makna circle pertemanan adalah sekumpulan orang yang bisa disebut sebagai teman dan memiliki ciri khas yang hampir sama. Misalnya, circle atau sekumpulan mahasiswa yang suka belajar, circle mahasiswa yang suka nongkrong, dan masih banyak lagi jenis pertemanan di lingkungan kampus.

Circle pertemanan di kampus jauh berbeda dengan circle pertemanan semasa sekolah menengah. Hal itu bisa terjadi karena kebanyakan mahasiswa di suatu kampus memiliki latar belakang yang beragam, sehingga menimbulkan sikap dan sifat yang baru ditemui saat masuk perguruan tinggi. Salah satu contohnya yaitu cuitan warga Twitter melalui base @collegemenfess yang mengatakan bahwa circle pertemanan di dunia kampus memang semenyeramkan itu. Cuitan yang membahas hal serupa tidak hanya muncul sekali saja dan biasanya selalu dibumbui dengan pendapat warganet lain yang mengiyakan hal tersebut melalui kolom komentar.

Penulis juga pernah mendengar secara langsung keluhan mahasiswa tentang pertemanan di kampus. Sebagian berkata tidak memiliki banyak teman karena ia merasa tidak cocok dengan orang-orang di sekitarnya dan sebagian lagi berkata bahwa ia memiliki banyak teman, tetapi tetap merasa sendiri dan sepi. Itulah pentingnya mengetahui pertemanan yang sehat seperti apa, agar tidak menimbulkan hal yang buruk pada diri sendiri. Menurut Gramedia.com, hubungan pertemanan yang tidak sehat dan lebih banyak membawa pengaruh buruk terhadap sesama temannya disebut sebagai toxic friendship. Hubungan pertemanan yang tidak sehat akan memiliki beberapa dampak, mulai dari merasa rendah diri, tertekan, stres, bahkan menimbulkan depresi pada salah satu pihak.

Permasalahannya bukan itu saja, toxic friendship juga bisa menimbulkan perundungan atau kasus bullying. Korban perundungan biasanya seseorang yang paling lemah dalam suatu lingkup pertemanan, sehingga pelaku akan merasa lebih superior dibandingkan korban. Perundungan masih kerap ditemukan di  lingkungan perguruan tinggi. Salah satu contohnya yaitu kasus mahasiswi Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) beberapa waktu lalu. Menurut Kompas.com, seorang mahasiswi Fakultas Hukum Unsoed hendak mengakhiri hidupnya pada Kamis (3/11/2022) di area kampus. Salah satu alasan ia melakukan aksi tersebut karena kerap menjadi korban perundungan oleh teman-temannya. Beruntung, aksinya dapat dicegah oleh mahasiswa lain yang sedang berada di area tersebut. Bukan hanya di Unsoed, di perguruan tinggi lain mungkin banyak kasus serupa, tetapi belum terungkap dan terangkat di media.

Kehidupan bersosial seperti halnya memiliki teman memang penting, tetapi jangan sampai hal itu justru melukai diri sendiri. Teman yang baik adalah teman yang selalu berdampak positif, begitu juga sebaliknya kita harus selalu berdampak positif bagi orang lain. Menurut yoursay.id, bertemanlah dengan orang yang memiliki kebiasaan baik sehingga akan berdampak baik pada diri sendiri. Sebaliknya, lebih baik menjaga jarak dengan orang yang memiliki kebiasaan buruk agar tidak mempengaruhi diri sendiri. Penulis bisa menyimpulkan bahwa kita bisa menemukan circle pertemanan yang baik apabila kita bersikap baik pula. Apabila sudah masuk ke dalam circle pertemanan yang tidak membuat nyaman, sudah seharusnya kita mulai meninggalkan hal tersebut. Jangan sampai masalah pertemanan mengganggu kegiatan lainnya.

Editor: Lili Amaliah

*Penulis merupakan mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan angkatan 2021

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *