Kronologi Didiskualifikasinya Tim Sepak Bola Fikes dari Porsoed 2022

Oleh: Alil Saputra

Surat Pernyataan Diskualifikasi yang diunggah di akun Instagram @porsoed_2022 (10/11)
Foto: Dokumentasi LPM Skëtsa

PURWOKERTO – Fakultas Ilmu-ilmu Kesehatan (Fikes) didiskualifikasi dari cabang olahraga sepak bola pada acara Pekan Olahraga Soedirman (Porsoed). Keputusan ini disampaikan melalui surat pernyataan yang dipublikasikan pada story akun Instagram @porsoed_2022 (10/11).

Keputusan ini dikeluarkan karena adanya pemain sepak bola dari Fikes atas nama Saeldho We Lastya dan Shahih Elang Rishandy yang masih terikat kontrak pada klub sepak bola liga tiga. Padahal, dalam peraturan yang dibuat oleh Porsoed, hal ini tidak diperbolehkan. Alfan selaku Presiden BEM (Presbem) Unsoed mengatakan bahwa desas-desus mengenai pemain Fikes sudah ada sejak pertandingan antara Fikes dan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) yang berlangsung pada Sabtu (5/11).

“Tapi, waktu itu masih sekadar desas-desus aja, kayak angin lalu. Kemudian mulai berlanjut, Fikes lanjut ke pertandingan berikutnya lawan FH (Fakultas Hukum-red) dan di situ mereka juga mencurigai hal yang sama,” ujarnya (13/11).

Menurut keterangan salah satu mahasiswa Fikes yang tidak bersedia disebutkan namanya, para pemain tersebut telah putus kontrak dengan klubnya. Hal ini juga diiyakan oleh Rasyid Ridho sebagai Project Officer (PO) Porsoed. Sebelum pertandingan antara Fikes dan FH, Rasyid mewakili panitia membacakan keputusan yang menyatakan bahwa pemain dari Fikes sudah tidak terikat kontrak dengan klub mana pun dan diperbolehkan untuk mengikuti pertandingan.

“Karena keterbatasan pengetahuan dan kekeliruan screening, bukti yang disampaikan pun singkat dan ngga sempat kita pegang gitu. Makanya dalam waktu singkat itu, jadi memperbolehkan,” terang Alfan.

Awalnya, pihak Porsoed mengizinkan pemain Fikes untuk bertanding karena bukti yang mereka bawa dianggap kuat. Menurut Alfan, Fikes membawa bukti-bukti berupa surat yang menyatakan bahwa pemain dari Fikes sudah tidak terikat kontrak. Di sisi lain, pihak dari Fisip dan FH juga mengajukan bukti-bukti yang menunjukkan sebaliknya.

Karena adanya dua pihak yang sama-sama membawa bukti, pihak Porsoed kemudian mengadakan forum. Berdasarkan wawancara awak Sketsa dengan Rasyid pada Minggu (13/11), pertemuan dilakukan sebanyak tiga kali. Pertama, pada Sabtu (5/11) setelah pertandingan Fikes melawan Fisip. Pertemuan kedua batal dilaksanakan karena dari pihak Fikes tidak ada yang datang. Lalu, pertemuan ketiga dilakukan pada Rabu (9/11) dengan menghadirkan Sutarno selaku ketua Askab (Asosiasi Kabupaten) PSSI  Kabupaten Banyumas.

Pertemuan ketiga menghasilkan keputusan bahwa tim sepak bola Fikes didiskualifikasi dalam pertandingan cabang olahraga sepak bola Porsoed. Dari surat pernyataan yang kemudian di unggah pada story Instagram @porsoed_2022, Fikes dianggap melanggar peraturan yang sebelumnya sudah dijelaskan saat technical meeting.

Keputusan ini kemudian direspons dengan audiensi pihak Fikes dan BEM Unsoed pada Jumat (11/11). Alfan menyebut pihak Fikes diwakili oleh official, pelatih, wakil ketua FSC (Fikes Sport Club), dan presbem KBMIK (Keluarga Besar Mahasiswa Fakultas Ilmu-ilmu Kesehatan). Sedangkan pihak BEM Unsoed diwakili oleh Presbem, Wapresbem (Wakil Presiden BEM), Menteri Minat dan Bakat, dan PO Porsoed.

Berdasarkan siaran pers yang diunggah dalam story Instagram @fikessportclub pada Sabtu (12/11), pihak Fikes mengajukan dua tuntutan. Tuntutan pertama berupa klarifikasi dan permohonan maaf terbuka dan langsung sebelum pertandingan semifinal sepakbola dimulai, serta tuntutan kedua berupa  rilisan klarifikasi dan permohonan maaf di Instagram @porsoed_2022.

Menanggapi tuntutan tersebut, pada hari yang sama (12/11), pihak Porsoed merilis surat pernyataan yang berisi permohonan maaf di story Instagram. Dalam surat pernyataan ini, pihak Porsoed mengakui tiga hal. Pertama, adanya keterbatasan pengetahuan panitia mengenai manajemen kontrak atlet sehingga menimbulkan simpang siur argumen dan permasalahan dalam cabang olahraga sepak bola. Kedua, kurang telitinya panitia dalam melakukan crosscheck atau screening atas data pemain yang diberikan. Ketiga, ketidaktegasan panitia atas penegakkan peraturan Porsoed 2022.

Setelah rilis tersebut, saat ditemui bersama Rasyid, Alfan menyatakan bahwa permasalahan ini sudah selesai.

“Jadi, yang menjadi masalah adalah ketika terdapat suatu permasalahan, ada tuntutan, dan itu sudah kita penuhi, artinya sudah selesai, dong, dan itu, ya, memang sudah selesai,” ujar Alfan.

Pada Senin (14/11), awak Sketsa telah melakukan wawancara pada pihak Fikes. Namun, beberapa jam sebelum tulisan ini diunggah, pihak Fikes menarik pernyataan yang disampaikan ketika wawancara. Berdasarkan keputusan bersama antara pelatih, official, dan pemain, pihak Fikes mengaku telah menerima keputusan panitia.

Reporter: Aprilia Ani Fatimah, Nida Ismiatun Azzahra, Afif Fadhilah Iftiar, Alil Saputra

Editor: Aprilia Ani Fatimah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *