Ikat Kepala Merah

Oleh: Nurhidayat*

Ilustrasi: Marita Dwi Asriyani
Ilustrasi: Marita Dwi Asriyani

Sambil berorasi meruntuhkan kursi

Sambil beronani mengejakulasikan makna

Mengencangkan ikat kepala yang hendak jatuh

Berkaca agar kain itu tepat menutupi jidat

Meraba agar ikatan tepat di kuncir belakang kepala

 

Kebenaran dan keadilan menumpuk punggungnya

Seberat teriakan petani membeli sepatu anaknya

Setinggi cita-cita pendiri negaranya

Setebal rindu seorang aktivis kepada kelulusannya

 

Idealisme yang meruntuhkan namun segera rubuh

Keberanian yang menggetarkan namun segera luruh

Kesucian yang menyucikan namun segera lusuh

Keilmiahan yang mencerdaskan namun segera rusuh

 

Besi-besi muda yang tak sempat tersepuh

Batu-batu mulia yang tak sempat terasah

Harta karun melimpah yang tak sempat terjamah

Juga kipas-kipas yang salah arah

 

Berceramah tak perlu melirik naskah

Berhitung tanpa menatap jari

Berpuisi tanpa frasa-frasa

Semua sudah tersimpan di sana.

 

Berteriak hingga robek terbuka

Membantah hingga patah berbuku

Tak berjuang tanpa luka menganga

Tak bergerak tanpa darah menyungai siku

***

Orasi sampah bagi penyair setengah tua

yang lupa nikmatnya gerayang selangkangan

yang sedang sibuk mengontruksi negasi kebahagiaan

yang menurutnya hanya duri

Namun dia tak pernah berani bunuh diri.

 

*Penulis aktif sebagai editor senior LPM Sketsa Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto.

Redaksi

beritaunsoed.com adalah sebuah media independen yang dikelola oleh LPM Sketsa Unsoed dan merupakan satu-satunya Lembaga Pers Mahasiswa tingkat Universitas Jenderal Soedirman di Purwokerto.

Postingan Terkait

Barangkali Besok Akan Lebih Ramah

Oleh: Abida Fitratussawa Pagi datang dengan wajah pucat. Langkah kaki tetap berjalan di tengah hati yang…

Sebuah Elegi di Sore Hari

Oleh: Lintang Fitriana Dalam lorong yang kehilangan pagi, seorang ibu mengayun langkah tanpa gizi, menenteng pasar…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jangan Lewatkan

Hari Anak Nasional: Menilik Kualitas, Kesejahteraan, dan Tantangan Era Digital

Hari Anak Nasional: Menilik Kualitas, Kesejahteraan, dan Tantangan Era Digital

Melintasi Alam Baka, Menerima Diri di Tengah Kalutnya Dunia

Melintasi Alam Baka, Menerima Diri di Tengah Kalutnya Dunia

Barangkali Besok Akan Lebih Ramah

Barangkali Besok Akan Lebih Ramah

Sebuah Elegi di Sore Hari

Sebuah Elegi di Sore Hari

Tamasya Tempat Kakek

Tamasya Tempat Kakek

Di Antara Luka dan Kesempatan Baru

Di Antara Luka dan Kesempatan Baru