Kembali Digelar, Ngopi Bareng Rektor Angkat Isu Kebijakan dan Fasilitas Kampus

Oleh: Nesya Huwaidaa Kultsum Azmii

Penyampaian Aspirasi oleh Perwakilan Mahasiswa (24/9/2025) (beritaunsoed.com/Miqda Al Auza'i)
Penyampaian Aspirasi oleh Perwakilan Mahasiswa (24/9/2025) (beritaunsoed.com/Miqda Al Auza’i)

Berangkat dari keresahan mahasiswa dan bertepatan pada Dies Natalis Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) yang ke-62, “Ngopi Bareng Rektor” kembali digelar sebagai kegiatan rutin setiap tahunnya. Audiensi berlangsung di selasar Gedung Rektorat Unsoed pada Rabu (24/9/2025). Kegiatan ini dihadiri oleh perwakilan mahasiswa dari beberapa fakultas serta sejumlah pimpinan universitas. Beberapa Dekan dari fakultas tampak hadir terlebih dahulu, kemudian disusul oleh Rektor Unsoed, Ahmad Sodiq, yang langsung bergabung dan berdialog bersama perwakilan mahasiswa yang hadir.

Tiga kajian utama yang disampaikan dalam kegiatan ini, meliputi kebijakan, fasilitas, dan biaya pendidikan. Dikatakan bahwa kebijakan yang diterapkan oleh Unsoed selama ini kurang mengakomodir partisipasi mahasiswa. Oleh karena itu, “Ngopi Bareng Rektor” kembali menjadi momentum yang tepat untuk mewadahi keresahan-keresahan mahasiswa Unsoed.

Para mahasiswa yang hadir, diberi kesempatan untuk menyuarakan aspirasinya secara bergiliran. Permasalahan fasilitas menjadi topik yang paling banyak disampaikan oleh perwakilan mahasiswa, yakni kapasitas parkir yang kurang memadai, akses jaringan Wi-Fi yang sulit digunakan, dan jalanan rusak yang tidak segera diperbaiki. Hal ini menimbulkan ketidaknyamanan bagi mahasiswa dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.

Salah satu perwakilan mahasiswa Fakultas Hukum (FH) mengatakan bahwa kapasitas parkir fakultas yang tidak cukup memadai, sangat berbanding terbalik dengan jumlah mahasiswa yang terus bertambah. “Yang diarahkan dari teman-teman Fakultas Hukum di sini adalah kaitannya dengan  kapasitas untuk parkir itu tidak memadai dengan mahasiswanya. Jadi banyak sekali tempat-tempat yang kadang bisa menghalangi jalan dan itu sudah diperlukan tambahan baru, untuk dijadikan tempat parkir baru.” Tidak hanya itu, perwakilan mahasiswa dari Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan (FIKES) juga menyampaikan keluhannya mengenai Gedung Kesehatan Masyarakat yang perlu direnovasi. Lantai yang sudah pecah-pecah, cat dinding yang mengelupas, dan atap bangunan yang bocor.

Permasalahan fasilitas berbayar juga tidak luput menjadi fokus pembahasan. Hal ini dikarenakan beberapa gedung fakultas ditarik biaya kebersihan apabila digunakan di luar hari-hari kerja. Mahasiswa mendesak komitmen pihak rektorat terkait fasilitas berbayar ini. Mereka mempertanyakan kesediaan rektorat untuk merundingkan pembebasan biaya fasilitas. Ahmad Sodiq menanggapi, “Kalau bebasnya, harus ada kepercayaan, Mas. Betul, sepakat.” Ia kemudian menegaskan bahwa pembebasan biaya kebersihan akan dirundingkan, dengan catatan bahwa kebersamaan dan kebersihan tetap menjadi tanggung jawab bersama.

Selanjutnya, permasalahan kekerasan seksual juga disinggung pada kegiatan ini. Perwakilan mahasiswa mempertanyakan komitmen dari jajaran rektor, satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (PPK), dan kepala dekan dalam penanganan kekerasan seksual. “Lalu, isu-isu yang marak, mempertanyakan komitmen dari birokrasi, jajaran rektorat, satgas, dan  kepala dekan,” ungkap perwakilan mahasiswa. Mereka memandang penanganan kekerasan seksual kurang terbuka, sifatnya eksklusif, dan tidak menyeluruh. Mahasiswa juga menyoroti sikap dari rektorat yang tidak hadir pada aksi kekerasan seksual yang digelar di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) beberapa waktu lalu. Mereka juga mempertanyakan tindak lanjut dari pihak rektorat terkait kasus kekerasan seksual ini.

Dengan ini mahasiswa berharap, apa yang sudah disampaikan bisa segera ditindaklanjuti oleh rektorat agar permasalahan yang disoroti tidak berlarut-larut. Harapannya pihak rektorat bisa membuka hati untuk memahami kondisi terkini Unsoed secara nyata, bukan hanya fokus pada pembangunan simbolis yang belum tentu mengakomodir kebutuhan mahasiswa. Selain itu, mahasiswa menginginkan keterlibatan dalam partisipasi dalam setiap perencanaan kampus ke depannya. Transparansi juga menjadi poin penting agar koordinasi antara rektorat dan dekanat berjalan dengan baik dan lebih terbuka. “Jadi, aku harap dalam rencana ke depan, Unsoed bisa lebih mempertimbangkan partisipasi mahasiswa. Lalu soal transparansi, diharapkan setelah ini Unsoed bisa lebih transparan,” ujar salah satu perwakilan mahasiswa.

Akhir acara “Ngopi Bareng Rektorat” ditutup dengan penyerahan catatan kritis Dies Natalis Unsoed ke-62 oleh mahasiswa kepada rektor.

Reporter: Nesya Huwaidaa Kultsum Azmii, Miqda Al Auza’i Ashfahany Asyida’, Zaki Zulfian, Maula Rizki Aprilia, Rizqy Noorawalia Febryanni

Editor: Nadia Amalia Wibowo

Redaksi

beritaunsoed.com adalah sebuah media independen yang dikelola oleh LPM Sketsa Unsoed dan merupakan satu-satunya Lembaga Pers Mahasiswa tingkat Universitas Jenderal Soedirman di Purwokerto.

Postingan Terkait

Polemik di Balik Pemilihan Rektor Unsoed, Antara Regulasi Hingga Tuntutan Transparansi oleh Mahasiswa

Penulis: Reny Diah Merriola Prosesi Pemilihan Rektor (Pilrek) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) periode 2026–2030 telah mencapai…

Usut Kasus Penganiayaan dan Kekerasan Seksual, Aliansi Mahasiswa Unsoed Geruduk Polresta Banyumas

Penulis: Andika Brilyan Aliansi Mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) menggelar aksi mimbar bebas di depan Markas…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jangan Lewatkan

AI Semakin Canggih, Bagaimana Nasib Penerjemah?

AI Semakin Canggih, Bagaimana Nasib Penerjemah?

Genggaman yang Menyelamatkanku

Genggaman yang Menyelamatkanku

Esok Tetap Datang

Esok Tetap Datang

Polemik di Balik Pemilihan Rektor Unsoed, Antara Regulasi Hingga Tuntutan Transparansi oleh Mahasiswa

Polemik di Balik Pemilihan Rektor Unsoed, Antara Regulasi Hingga Tuntutan Transparansi oleh Mahasiswa

Cakap AI tapi Gagal PISA: Sudahkah Kita Benar-Benar “Bangkit”?

Cakap AI tapi Gagal PISA: Sudahkah Kita Benar-Benar “Bangkit”?

Antara Ambisi dan Eksploitasi Diri: Bahaya Hustle Culture bagi Anak Muda

Antara Ambisi dan Eksploitasi Diri: Bahaya Hustle Culture bagi Anak Muda