Oleh: Zaki Zulfian
Sebuah unggahan di media sosial X atau Twitter pada akun @unsoedmfs menarik perhatian warganet. Unggahan yang dibagikan pada Sabtu pagi, 21 Juni 2025 memperlihatkan sepasang remaja sedang asyik berduaan di area teras depan Unit Penunjang Akademik (UPA) Perpustakaan Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed). Dalam keterangan unggahan, keduanya diduga melakukan adegan berciuman sebanyak tiga kali. Unggahan tersebut tak luput dari sorotan warganet. Hingga tulisan ini ditulis, sekitar 140 komentar dan 589 like turut meramaikan unggahan tersebut.
Djoko Prasetyo tampak sedang bersantai menikmati makanan ringan sembari menemani dua rekan kerjanya di ruangan tata usaha persis di sebelah ruangannya di lantai tiga Gedung UPA Perpustakaan Unsoed ketika ditemui Awak Sketsa pada Selasa siang, 19 Agustus 2025. Duduk di sofa di depan meja kerjanya, Kepala UPA (Unit Penunjang Akademik) Perpustakaan Unsoed Periode 2023–2027 itu menilai tindakan berciuman yang dilakukan sepasang remaja dalam unggahan akun @unsoedmfs merupakan tindakan yang sama sekali tidak etis.
Kejadian tersebut ternyata bukan pertama kali terjadi di UPA Perpustakaan Unsoed. Gedung dengan luas sekitar 2.498 meter persegi itu terdiri atas tiga lantai yang dilengkapi kafe dan ruang The Gade Creatine Lounge (TGCL) di lantai satu, perpustakaan di lantai dua, dan ruangan pegawai serta ruang belajar di lantai tiga. Di sekitar area Gedung UPA Perpustakaan, yang juga masih dalam pengawasan pihak UPA Perpustakan Unsoed, terdapat beberapa gazebo dan bangku taman. Area ini kerap menjadi tempat favorit mahasiswa, baik untuk mengerjakan tugas atau sekadar bersantai dengan teman.
Sekitar enam bulan yang lalu, Djoko pernah sekali menjumpai sepasang mahasiswa yang berangkulan di ruang belajar lantai tiga UPA Perpustakaan. Ia menilai tindakan sepasang mahasiswa tersebut tidak elok dipandang di lingkungan perpustakaan. Sontak ia langsung meminta rekan kerjanya untuk memanggil mahasiswa tersebut ke ruangan dan segera menegurnya.
Ia juga sempat mendapat laporan lisan adanya tindakan tidak etis yang dilakukan pengunjung di lingkungan UPA Perpustakaan. Sedikitnya dua kali laporan lisan sampai kepadanya, dan yang terakhir kalinya pada tahun 2024. Usai laporan itu masuk, ia langsung melayangkan teguran lisan kepada pihak terkait. Kendati demikian, ia mengaku belum pernah mendapat laporan tertulis adanya tindakan tidak etis yang terjadi di lingkungan UPA Perpustakaan.
Stella, salah satu pengunjung UPA Perpustakaan, mengatakan dirinya pernah menyaksikan sepasang mahasiswa melakukan adegan berciuman di salah satu gazebo di sebelah barat Gedung UPA Perpustakaan pada sekitar pukul 22.50 WIB pada tahun 2024. Ia masih semester dua pada saat melihat adegan nir-etis itu bersama temannya ketika mengerjakan tugas di gazebo sebelah sepasang mahasiswa tersebut berada.
Mahasiswa yang enggan menyebutkan nama aslinya itu mengatakan kondisi sepi menyelimuti area sekitar Gedung UPA Perpustakan pada saat itu. Lampu-lampu di taman dan area parkiran hanya sedikit yang menyala. Letak gazebo yang berada di dekat pepohonan rimbun dan penerangan minim juga menambah suasana malam yang sepi. “Bener-bener sepi,” pungkasnya.
Djoko mengatakan pihaknya telah mengantisipasi terjadinya tindakan nir-etis di lingkungan UPA Perpustakaan. Ia menekankan pentingnya penerangan untuk mencegah terulangnya tindakan serupa. “Sebenarnya itu (tindakan tidak etis-red) memang sudah kami antisipasi ya, terkait dengan itu makanya lampu penerangan itu sebenarnya menjadi perhatian kami juga,” ujarnya.
Meski deretan lampu taman berjejer di area depan dan parkiran UPA Perpustakaan, tak ada satu pun yang menyala pada Kamis malam, 21 Agustus 2025. Hanya sebuah lampu taman bercahaya oranye dan dua lampu bercahaya putih yang memberi cahaya redup area gazebo sebelah barat Gedung UPA Perpustakaan. Kondisi ini menunjukan, upaya pencegahan yang dianggap penting belum sepenuhnya diwujudkan oleh Pengelola UPA Perpustakaan Unsoed.
Selain penerangan, kata Djoko, keberadaan Satuan Pengamanan (Satpam) juga turut berperan dalam menjaga keamanan lingkungan UPA Perpustakaan dari tindakan nir-etis. Ia menyebut pihaknya bakal berkoordinasi dengan satpam untuk melakukan kontrol secara rutin di area UPA Perpustakaan. “Kami akan berkoordinasi juga dengan pihak pengamanan, supaya lebih intensitas untuk kelilingnya lebih,” ucap pria lulusan Pascasarjana Ilmu Perpustakaan dan Informasi Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta itu.
Minimnya kamera pengawas Closed Circuit Television (CCTV) di area UPA Perpustakaan juga membuka celah oknum pengunjung melancarkan aksi tidak bermoral. Sejumlah kamera pengawas hanya terdapat di bagian barat dan utara Gedung UPA Perpustakaan yang mengarah ke area parkir kendaraan. Sementara itu, area gazebo dan bangku taman yang tersebar di depan gedung sama sekali tidak tersentuh pengawasan kamera.
Apa yang mesti dilakukan pihak kampus?
Bunga—nama samaran—seorang pengunjung UPA Perpustakaan yang mengetahui unggahan di akun @unsoedmfs, menilai pihak kampus seharusnya memberi teguran kepada pelaku tindakan nir-etis di lingkungan UPA Perpustakaan. Sulis—teman Bunga—juga dengan nama samaran, menambahkan, sanksi tegas mesti diberikan pihak kampus kepada pelaku agar menimbulkan efek jera. Misalnya, dengan menuntut pelaku untuk melakukan klarifikasi atas perbuatannya.
Serupa dengan mereka, Ade—bukan nama sebenarnya—mahasiswa Ilmu Politik angkatan 2021, berpendapat teguran saja tidak cukup. Menurutnya, pihak kampus mesti membuat aturan-aturan tertulis yang melarang tindakan nir-etis dilakukan di lingkungan UPA Perpustakaan. “Emang harus ada pernyataan tertulis dari pihak kampus,” pungkasnya.
Djoko menuturkan, sejauh ini sanksi yang diberikan kepada pelaku masih sebatas teguran lisan. Kendati demikian, ia menilai teguran tertulis dan sanksi akademis perlu diberikan kepada pelaku. “Memang harus ya teguran-teguran tertulis, dan sampai mungkin bahkan mungkin bisa ada sanksi akademis,” ungkapnya.
Menurut Djoko, terjadinya perbuatan tindakan nir-etis di lingkungan UPA Perpustakaan tak lepas dari pergeseran budaya. Ia berharap mahasiswa mendapat pembekalan nilai etika dan moral pada kegiatan orientasi kampus, agar mereka memahami hal-hal yang tabu dilakukan di kampus. “Mungkin ini ada hal-hal yang mungkin diselipkan pada saat ada mahasiswa baru misalnya. Itu perlu ada materi-materi tentang etika moral,” ujar pria kelahiran Temanggung itu.
Reporter: Zaki Zulfian, Kania Nurma Gupita, Farah Fauziah, Muhammad Fathun Nafiq
Editor: Miqda Al Auza’i






