Soedirman Student Summit 2025: Beragam Kendala dan Dinamika Warnai Persiapan hingga Pelaksanaan Acara

Oleh: Ryu Athallah Raihan

Soedirman Student Summit (S3) (beritaunsoed.com/Ryu Athallah Raihan)
Soedirman Student Summit (S3) (beritaunsoed.com/Ryu Athallah Raihan)

Soedirman Student Summit (S3) 2025 yang diselenggarakan di Graha Widyatama dan berbagai fakultas di Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) menjadi salah satu agenda besar yang diikuti oleh ribuan mahasiswa baru. Selama proses persiapan hingga hari pelaksanaan, sejumlah persoalan sempat muncul. Beberapa di antaranya meliputi perpindahan venue secara mendadak, larangan bagi mahasiswa Fakultas Teknik untuk ikut serta dalam kegiatan di pusat acara, hingga lambannya komunikasi dan penyampaian informasi dari panitia.

Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unsoed, Muhammad Hafidz Baihaqi, menyebut S3 tahun ini tetap layak diapresiasi. Ia menilai, acara kali ini menunjukkan peningkatan yang signifikan dibanding tahun-tahun sebelumnya. Meski demikian, Hafidz menegaskan banyak batasan justru datang dari pihak kampus, yang berdampak pada pada kelancaran acara. “Jadi, ini pure dari kawan-kawan mahasiswa Unsoed, untuk mahasiswa Unsoed, tapi dari pihak kampus malah seakan-akan memberikan berbagai batasan, dan ini seharusnya juga menjadi tanggung jawab universitas, bukan dari mahasiswa,” tegasnya.

Salah satu kendala yang dihadapi panitia S3 tahun ini adalah kebijakan dari pihak rektorat yang kerap muncul secara mendadak dan kurang memberikan dukungan terhadap pelaksanaan acara. “Perlu teman-teman ketahui bahwa ini merupakan kebijakan dari kampus secara sepihak dan tanpa melibatkan kita dalam mengambil keputusan. Bahkan kampus juga mengusulkan untuk penyelenggaraan S3 di GOR Soesoe. Padahal kita ketahui bahwa GOR Soesoe itu tidak layak untuk pelaksanaan kegiatan,” tutur Hafidz.

Awalnya, S3 direncanakan berlangsung di Gelanggang Olahraga (GOR) Satria, namun rektorat melarang penggunaan lokasi tersebut seminggu sebelum acara. Hafidz mengungkapkan bahwa dari segi tempat, pihak kampus sangat tidak mendukung kreativitas mahasiswa untuk benar-benar mengakomodir seluruh mahasiswa baru dalam satu lokasi. Alasan penolakan tersebut beragam, mulai dari keamanan hingga pertimbangan waktu dan tempat.

Menurutnya, larangan itu disertai ancaman sanksi dari beberapa dekanat bagi mahasiswa baru yang mengikuti kegiatan di luar area Unsoed. “Pada H-5 itu kami memutuskan memindah venue … kami khawatirkan dari aspek keselamatan mahasiswa baru sendiri. Kalau dari BEM, dari S3, kami siap untuk menerima konsekuensi itu, tapi kalau untuk mahasiswa baru, kami sangat mempertimbangkan,” ujarnya.

Cuitan di akun base Unsoed yang menanggapi larangan bagi mahasiswa baru Fakultas Teknik untuk hadir di pusat acara (Sumber: @unsoedmfs)
Cuitan di akun base Unsoed yang menanggapi larangan bagi mahasiswa baru Fakultas Teknik untuk hadir di pusat acara (Sumber: @unsoedmfs)

Dikarenakan lokasi acara yang dinilai jauh, mahasiswa baru Fakultas Teknik (FT) sempat tidak diperbolehkan oleh pihak rektorat untuk hadir di Graha Widyatama dan hanya boleh mengikuti acara dari fakultas. Keputusan tersebut, menurut Hafidz, kembali dilandasi alasan keselamatan dan kekhawatiran akan kelalaian. “Nah, khusus untuk fakultas teknik, dari rektor itu melarang. Melarang Fakultas Teknik untuk mahasiswa barunya pergi ke Graha Widyatama. Yang notabene ada di kota Purwokerto,” jelasnya. Hal ini memicu penolakan dari mahasiswa baru dan panitia. Setelah berkoordinasi dengan BEM FT dan melakukan advokasi, kebijakan itu akhirnya dibatalkan.

Cuitan di akun base Unsoed soal panitia yang terkesan serba mendadak (Sumber: @unsoedmfs)
Cuitan di akun base Unsoed soal panitia yang terkesan serba mendadak (Sumber: @unsoedmfs)

Berbagai perubahan mendadak akibat keputusan rektorat menyebabkan panitia kesulitan, sehingga penyampaian informasi terkesan terburu-buru dan kurang persiapan. Hilman, anggota Komisi III Dewan Legislatif Mahasiswa Unsoed (DLM Unsoed), menilai situasi tersebut mengakibatkan beban koordinasi panitia dan memperbesar potensi miskomunikasi.

Hilman juga mengungkapkan bahwa informasi dari panitia pusat sering terlambat diterima oleh para pendamping mahasiswa baru. “Ada pendamping, dia kan membawahi maba, tapi informasi lebih cepat datang dari maba, jadi si pendampingnya itu merasa kayak didahului.” ujarnya. “Nah, itu terus tadi juga ada kendala tentang informasi, jadi pendamping itu nggak di-briefing, kalau hari ini itu diundur 30 menit sidang senatnya, jadi nggak di-briefing dan mereka nggak tahu rundown-nya apa,” tambahnya.

Kebijakan lain yang menuai keluhan adalah larangan penggunaan QR code di stand Expo. Padahal, beberapa UKM membutuhkannya untuk pendataan anggota baru. Hafidz menjelaskan bahwa alasan pelarangan tersebut didasarkan pada kekhawatiran terjadinya penumpukan peserta di area terbatas. “Pendataan itu tidak dimungkinkan karena banyaknya maba … untuk faktor keselamatan dan juga faktor kelancaran mobilisasi,” ujarnya.

Wawancara bersama Hilman, anggota Komisi III DLM Unsoed (12/08/2025) (beritaunsoed.com/Ryu Athallah Raihan)
Wawancara bersama Hilman, anggota Komisi III DLM Unsoed (12/08/2025) (beritaunsoed.com/Ryu Athallah Raihan)

Dikarenakan S3 tahun ini diselenggarakan di beberapa lokasi, yakni Graha Widyatama dan berbagai fakultas di Unsoed, panitia menghadapi tantangan besar dalam menyiapkan fasilitas dan layanan bagi mahasiswa baru yang tersebar di berbagai lokasi tersebut. Salah satu tantangan terbesar adalah distribusi tim medis di berbagai lokasi tersebut. Hafidz mengatakan, jumlah ambulans yang tersedia sebenarnya cukup jika semua peserta berada di satu lokasi, namun tidak memadai jika tersebar di banyak titik. “Ini yang jadi persoalan … semua kesiapan memang tidak bisa maksimal,” katanya.

Hilman menambahkan bahwa di fakultas, khususnya di Fakultas Biologi, hanya terdapat satu tenaga medis di hari pertama pelaksanaan S3. “Soalnya yang tumbang itu ada banyak dan obat-obatan juga kurang … mereka panitia menganggap hari pertama itu belum terlalu crowded,” ujarnya. Rencana awal melibatkan tim eksternal seperti KSR, keperawatan, dan kedokteran di hari kedua. Namun, situasi di hari pertama justru sudah memerlukan tambahan tenaga medis.

Selain itu, di Graha Widyatama, Hilman mendapat berbagai laporan masalah, mulai dari toilet yang tidak berfungsi, kekurangan matras medis, hingga mahasiswa baru yang merasa terpinggirkan di tenda luar. Ia menjelaskan, “Kasihan di selatan … ada AC outdoor yang membuang karbondioksida langsung mengenai mereka.” Beberapa momen interaktif juga tidak melibatkan seluruh peserta secara merata.

Ketegangan lain terjadi saat aksi pembentangan spanduk berisi kritik terhadap kondisi kampus di Graha Widyatama. Spanduk tersebut diambil secara paksa oleh petugas keamanan dengan alasan pihak rektorat tidak menyukainya. Hafidz menilai tindakan itu sebagai bentuk pembungkaman kritik. “Padahal secara umum terdiri dari kritikan-kritikan dan juga respon kami terhadap kondisi kampus saat ini,  yang memang tidak sama sekali mencerminkan sebuah perguruan di mana tempat orang bisa berkarya, berilmu, belajar, dan juga melakukan pengabdian,” tegasnya.

Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Alumni bersama dengan Presiden BEM Unsoed (12/08/2025) (beritaunsoed.com/Ryu Athallah Raihan)
Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Alumni bersama dengan Presiden BEM Unsoed (12/08/2025) (beritaunsoed.com/Ryu Athallah Raihan)

Meski demikian, Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Norman Arie Wibowo, tetap mengapresiasi kerja keras panitia. “Kami melihat bahwa ketua S3 dibantu oleh mahasiswa yang tergabung dalam BEM ini sangat luar biasa kompak,” ujarnya. Ia juga memuji kemampuan Project Officer S3, Sefira Melanisha Putri, dalam mengubah rencana secara cepat saat lokasi awal tidak bisa digunakan.

Di akhir wawancara, Hafidz menyampaikan permohonan maaf atas berbagai kekurangan dan berharap evaluasi dari S3 2025 dapat menjadi pelajaran untuk penyelenggaraan di tahun mendatang. “Tentu kami sangat banyak kekurangan, kami sangat banyak kekhilafan barangkali, sehingga itu menjadikan evaluasi untuk periode selanjutnya.” Ia juga berpesan agar mahasiswa baru menjadikan S3 sebagai gerbang untuk mengenal kampus, lingkungan, dan diri sendiri.

Reporter: Ryu Athallah Raihan, Milly Rizkiyana Pratiwi, Lintang Fitriana,  Maula Rizki Aprilia, Helmalia Putri, Zahwa Syabila Rusydah

Editor: Nurul Irmah Agustina

Redaksi

beritaunsoed.com adalah sebuah media independen yang dikelola oleh LPM Sketsa Unsoed dan merupakan satu-satunya Lembaga Pers Mahasiswa tingkat Universitas Jenderal Soedirman di Purwokerto.

Postingan Terkait

Mimbar Bebas Banyumas Problematik: Refleksi Kebijakan untuk Banyumas yang Lebih Baik

Oleh: Hasna Nailah Ramadhani Sejumlah mahasiswa bersama elemen masyarakat Purwokerto mengadakan aksi Mimbar Bebas Banyumas Problematik…

Banyumas Culture Festival dan Kirab Pusaka Meriahkan Hari Jadi ke-455 Kabupaten Banyumas

Oleh: Artika Putri Kinanti Serangkaian pagelaran seni kembali digelar dalam rangka menyambut Hari Jadi ke-455 Kabupaten…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jangan Lewatkan

Mengenal Tokoh Bangsa dan Jejak Pengabdiannya di Museum Soesilo Soedarman

Mengenal Tokoh Bangsa dan Jejak Pengabdiannya di Museum Soesilo Soedarman

Mimbar Bebas Banyumas Problematik: Refleksi Kebijakan untuk Banyumas yang Lebih Baik

Mimbar Bebas Banyumas Problematik: Refleksi Kebijakan untuk Banyumas yang Lebih Baik

Museum Wayang Banyumas: Sunyi yang Menyisakan Jejak

Museum Wayang Banyumas: Sunyi yang Menyisakan Jejak

Banyumas Culture Festival dan Kirab Pusaka Meriahkan Hari Jadi ke-455 Kabupaten Banyumas

Banyumas Culture Festival dan Kirab Pusaka Meriahkan Hari Jadi ke-455 Kabupaten Banyumas

Tambah Spot Nongkrong di Unsoed, Pringsewu Hadirkan Kandang Kopi di Fakultas Peternakan

Tambah Spot Nongkrong di Unsoed, Pringsewu Hadirkan Kandang Kopi di Fakultas Peternakan

Pemira 2025 Usai: Krisis Regenerasi Kepemimpinan dan Demokrasi Mahasiswa Masih Melekat

Pemira 2025 Usai: Krisis Regenerasi Kepemimpinan dan Demokrasi Mahasiswa Masih Melekat