Produksi Tempe di Desa Pliken: Ragam Cerita di Setiap Butiran Kedelai

Oleh: Muhammad Robin Mubarok N.

Hasil produksi tempe di Desa Pliken (05/08/2025) (beritaunsoed.com/Muhammad Robin Mubarok N.)
Hasil produksi tempe di Desa Pliken (05/08/2025) (beritaunsoed.com/Muhammad Robin Mubarok N.)

Lezat dan bergizi, tempe menjadi salah satu lauk andalan di meja makan orang Indonesia. Selain harganya yang ramah di kantong, tempe banyak digemari karena mudah diolah dalam berbagai masakan: disemur, ditumis, digoreng, semua terasa nikmat. Bila berbicara soal tempe, Desa Pliken di Banyumas dikenal sebagai sentra produksinya. Hal ini ditandai dengan banyaknya rumah produksi tempe di setiap penjuru desa, yang berkembang menjadi tradisi.

Produksi Tempe yang Tetap Lestari di Setiap Generasi

Hadiati, salah satu produsen tempe dalam wawancara pada Selasa (05/08/2025), mengungkapkan bahwa usaha produksi tempe miliknya sudah berlangsung secara turun-temurun sejak 1989. Di Desa Pliken, sebagian besar pembuatan tempe memang dilakukan dalam skala rumahan. Oleh karena itu, proses produksi tempe miliknya hampir sepenuhnya dikerjakan sendiri. Meski begitu, bersama satu karyawannya yang bernama Mislia, mereka mampu memproduksi hingga 250 bungkus tempe per hari.

Hadiati, salah satu produsen tempe di Desa Pliken (tengah) bersama awak sketsa (05/08/2025) (beritaunsoed.com/Muhammad Robin Mubarok N.)
Hadiati, salah satu produsen tempe di Desa Pliken (tengah) bersama awak sketsa (05/08/2025) (beritaunsoed.com/Muhammad Robin Mubarok N.)

Kenikmatan Tempe Pliken, Buah dari Proses yang Telaten

Dengan antusias, Hadiati menjelaskan tahap-tahap produksi tempe, mulai dari pengadaan bahan baku kedelai hingga siap jual. Tahapan tersebut mencakup perebusan, perendaman, pencucian, pemberian ragi, pembungkusan, hingga pematangan. Seluruh rangkaian produksi ini bisa memakan waktu hingga empat hari. Menurutnya, karena prosesnya cukup rumit dan panjang, usaha produksi tempe sebaiknya tidak dijalankan bersamaan dengan usaha lain.

Kedelai yang digunakan Hadiati untuk membuat tempe dipasok dari usaha milik adiknya di Karanglewas. Ia mengungkapkan, bahwa rumahnya dulu memang berfungsi sebagai tempat penampungan kedelai. Dalam satu hari, produksi tempe milik Hadiati bisa mengolah sampai 50 kilogram (kg) biji kedelai.

Kedelai, bahan baku tempe (05/08/2025) (beritaunsoed.com/Muhammad Robin Mubarok N.)
Kedelai, bahan baku tempe (05/08/2025) (beritaunsoed.com/Muhammad Robin Mubarok N.)

Proses awal yang dilakukan yaitu perebusan dan perendaman kedelai. Butuh waktu sekitar enam jam atau satu malam untuk menyelesaikan proses perendaman. Setelah itu, kedelai dicuci dan diberi ragi. Di sinilah kekhasan tempe Pliken muncul—penggunaan kedelai bersih dan ragi berkualitas menjadi kunci cita rasanya. Kemudian, proses perebusan bisa dilakukan kembali atau diganti dengan penambahan kecutan. Kecutan adalah rendaman air rebusan kedelai yang berwarna putih susu sebagai campuran. Kedelai pun kembali dicuci dan diberi ragi, sebelum dibungkus menggunakan plastik atau daun pisang.

Proses pencucian kedelai (05/08/2025) (beritaunsoed.com/Muhammad Robin Mubarok N.)
Proses pencucian kedelai (05/08/2025) (beritaunsoed.com/Muhammad Robin Mubarok N.)

Dalam proses pembungkusan, Hadiati dibantu oleh karyawannya, Mislia. Saat diwawancara pada Selasa (05/08/2025), ia mengaku sudah menjadi karyawan Hadiati selama satu setengah tahun. Setiap jam, ia mampu membungkus 100 lembar tempe. Untuk setiap 100 lembar tempe yang telah dia bungkus, Mislia mendapatkan upah sebesar Rp 6.000,00. Meskipun tidak cukup untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari, Mislia tetap bersemangat membungkus tempe sebagai pekerjaan sampingan.

Menurutnya, tidak semua orang bisa membungkus tempe dengan baik.  Ia butuh waktu sekitar dua minggu untuk menguasai teknik ini, karena kerapian pembungkusan sangat memengaruhi kualitas akhir. Apabila pembungkusan tempe kurang rapi, dikhawatirkan kualitas tempe yang didapatkan juga berkurang.

Mislia, karyawan Hadiati, sedang membungkus tempe (05/08/2025) (beritaunsoed.com/Muhammad Robin Mubarok N.)
Mislia, karyawan Hadiati, sedang membungkus tempe (05/08/2025) (beritaunsoed.com/Muhammad Robin Mubarok N.)

Setelah dibungkus, tempe perlu melalui proses pematangan. Pada tahap ini, mereka harus memastikan fermentasi dari ragi berlangsung sempurna agar hasilnya optimal. Setelah matang, tempe siap dipasarkan baik melalui penyalur maupun dijual eceran.

Pematangan tempe sebelum dijual (05/08/2025) (beritaunsoed.com/Muhammad Robin Mubarok N.)
Pematangan tempe sebelum dijual (05/08/2025) (beritaunsoed.com/Muhammad Robin Mubarok N.)

Dari Tangan Turun ke Rasa, Tempe Pliken Siap Membuana

Tempe produksi Hadiati dijual kepada para penjaja tempe atau secara pribadi yang dibantu oleh anaknya. Ia biasanya mulai menyiapkan tempe pada pukul 02.00 dini hari, lalu sekitar pukul 03.30 anaknya membantu menjajakannya. Produsen lain biasa mendistribusikan tempe ke pasar, seperti Pasar Manis, Pasar Wage, bahkan hingga ke Bukateja, Purbalingga.

Hadiati yang awalnya hanya mampu menjual 5 kg tempe, kini dapat memasarkan hingga 50 kg. Tempe daun dijual seharga Rp600,00 per lembar, tempe plastik Rp12.000,00 per kilogram, dan tempe yang lebih kecil Rp400,00 per lembar.

Tantangan Selama Memproduksi Tempe

Hadiati menceritakan perjuangannya selama menjalani usaha produksi tempe. Terkadang, ia mengeluh kelelahan karena terus-menerus membuat tempe. Jika sudah sangat letih, ia biasanya menghentikan produksi untuk sementara. Meski begitu, Hadiati tetap sanggup mengerjakan semuanya sendiri. Menghadapi tantangan itu, Mislia satu-satunya karyawan yang tersisa berharap agar penjualan tempe semakin meningkat, sehingga mereka bisa memproduksi tempe lebih banyak lagi.

Reporter: Muhammad Robin Mubarok N., Lintang Fitriana, Nurul Irmah Agustina, Nesya Huwaidaa Kultsum Azmii, Rizqy Noorawalia Febryanni 

Editor: Nurul Irmah Agustina

 

Redaksi

beritaunsoed.com adalah sebuah media independen yang dikelola oleh LPM Sketsa Unsoed dan merupakan satu-satunya Lembaga Pers Mahasiswa tingkat Universitas Jenderal Soedirman di Purwokerto.

Postingan Terkait

Pemda Angkat Kaki dari Forum, Mahasiswa Banyumas Raya Bersuara “Eksekutif Tidak Kompeten

Penulis: Artika Putri Kinanti Ratusan mahasiswa yang berasal dari berbagai elemen mahasiswa se-Banyumas Raya menggelar aksi…

Mahasiswa Unsoed Gelar Aksi, Kritik Tata Kelola Pemerintahan Prabowo-Gibran

Penulis: Nesya Huwaidaa Kultsum Azmii Mahasiswa menggelar aksi bertajuk “Panggung Bebas: Catatan Merah Dua Tahun Prabowo-Gibran”…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jangan Lewatkan

Pemda Angkat Kaki dari Forum, Mahasiswa Banyumas Raya Bersuara “Eksekutif Tidak Kompeten

Pemda Angkat Kaki dari Forum, Mahasiswa Banyumas Raya Bersuara “Eksekutif Tidak Kompeten

Mahasiswa Unsoed Gelar Aksi, Kritik Tata Kelola Pemerintahan Prabowo-Gibran

Mahasiswa Unsoed Gelar Aksi, Kritik Tata Kelola Pemerintahan Prabowo-Gibran

Belajar Memahami Perbedaan melalui Film Swapped

Belajar Memahami Perbedaan melalui Film Swapped

Anomali Empat Penjuru

Anomali Empat Penjuru

Senjakala Kaum Intelektual: Ketika Inovasi Berakhir di Kursi Pesakitan

Senjakala Kaum Intelektual: Ketika Inovasi Berakhir di Kursi Pesakitan

KMI Expo XVII: Ruang Promosi dan Jejaring Bisnis Mahasiswa

KMI Expo XVII: Ruang Promosi dan Jejaring Bisnis Mahasiswa