Aksi “Sentil” Terhadap Kebijakan BUMN pada Kuliah Umum Erick Thohir

Dari redaksi

Oleh: Alil Saputra

Foto: Afif Fadhilah Iftiar

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Erick Thohir, Selasa (5/7) diundang menjadi pembicara dalam acara Kuliah Umum Bersama Tokoh Nasional yang diselenggarakan oleh Universitas Jenderal Soedirman.

Dalam acara tersebut, Erick Thohir membawakan tema “Kolaborasi BUMN dan Perguruan Tinggi (PT) dalam Menciptakan Generasi Digital di Era Disrupsi”.

Namun, dalam kuliah umum ini, ada satu hal yang menarik perhatian peserta kuliah, selain tema yang dibawakan oleh Menteri BUMN tersebut.

Sekelompok mahasiswa yang menamai diri mereka sebagai Aliansi Soedirman Resah secara bersamaan mengangkat tulisan-tulisan yang berisi beberapa keresahan, dari mulai masalah bahan bakar minyak (BBM), minyak goreng, dan penggunan aplikasi MyPertamina.

Tidak sampai setengah menit aliansi tersebut membentangkan banner-nya, panitia acara segera turun tangan untuk menyita tulisan-tulisan tersebut.

Dalam siaran pers yang dilakukan seusai acara, aliansi ini menyebutkan 3 sikap yang ingin dicapai, yakni:

  1. Mendorong BUMN untuk menghadirkan kebijakan yang berpihak pada rakyat.
  2. Meninjau ulang kebijakan MyPertamina sebagai pengawalan atas distribusi subsidi yang tepat sasaran.
  3. Turunkan harga BBM dan permudah akses masyarakat terhadap berbagai subsidi pemerintah untuk menjamin kesejahteraan rakyat.

Ditemui oleh awak redaksi seusai siaran pers, Prasetya, salah satu anggota aliansi menyebutkan bahwa keresahan mengenai sulitnya aksesibilas bahan bakar dan minyak goreng sudah dimulai dari awal bulan Juli.

Mengenai pembentangan banner, Prasetya menyatakan bahwa pembentangan bukan merupakan tindakan reaksioner karena Erick Thohir hadir.

“Ya, tentu sudah ada persiapan. Itu (pembentangan bannerred.) bukan reaksioner. Saya juga sudah mencoba mengkaji, sudah coba-coba mencerdaskan melalui selebaran yang kita bagikan,” ungkap Prasetya.

Di akhir wawancara, Dzaki, anggota aliansi yang lain menyatakan bahwa kehadiran Erick Thohir yang bertepatan dengan keresahan Aliansi Soedirman Resah merupakan momentum bagi mereka untuk mendapatkan atensi sebagai bentuk upaya dalam mewujudkan sikap.

Dzaki menambahkan bahwa aliansi akan memanfaatkan ruang-ruang publik untuk menyuarakan kebenaran, untuk menyuarakan penderitaan-penderitaan agar pemerintah tidak melakukan hal-hal seperti itu (kebijakan MyPertamina-red) lagi.

Raka, salah satu panitia acara dari PT. Pelabuhan Indonesia (Pelindo) (salah satu sponsor acara) mengungkapkan bahwa aksi pembentangan banner merupakan kejadian kecolongan akibat dari panitia yang tidak menyortir barang bawaan dari peserta kuliah umum.

“Kita ada petugas tiap tribun itu satu orang, mungkin petugas itu lalai, jadi itu (pembentangan bannerred) bisa terjadi. Tapi bisa kita back up secepat mungkin, sehingga banner itu bisa kita take down,” ujar Raka.

Menanggapi aksi tersebut, Raka menyatakan bahwa mahasiswa memiliki aspirasi dan memiliki hak bersuara, hanya saja cara yang mereka lakukan salah.

Raka menambahkan bahwa mahasiswa dapat membicarakannya atau meminta izin sehingga pihak panitia dapat mendiskusikannya terlebih dahulu.

Reporter: Alil Saputra, Aprilia Ani Fatimah, Adinda Taufika Rachma, Afif Fadhilah Iftiar

Editor: Nida Ismiatun Azzahra

Related Posts

Tinggalkan Komentar Anda