Air di Daun Talas
Alkisah,
Gurat lelah di wajah para dara kiriman surga mengeluh pasrah
Mati! Aku berseru pada gema kuda kiriman langit yang berenang di sela kumulus, singgah
Mereka menatap, menapak tanah
Senyum samar tak terhitung jumlah
Atap Usang yang Terpasang
Langkahnya mengecap ruai
sahaja terhunjam raksi penuh damai
pada atap usang yang makin mengusang
saksi kebisuan derasnya cucuran—
di lentik yang meradang
Hujan Kenangan di Musim Gugur
Di lembaran masa cilik yang tersusun rapih
Memori awal kehidupan tersimpan dengan sempurna,
layaknya sebuah karya seni yang tak ternodai
Bagai hikayat yang tak ditulis, kisah yang tak diucapkan
Bergema kuat di hati dan takkan pernah terhapus oleh waktu
Kembali
Aku memanggilmu, tapi kau terdiam
Kupikir diammu karena lelah
Istirahat sebentar tak masalah
Tapi tolong nanti kembali, ya?
Si Cantik Langit
Satu hari kamu biru
Kutatap indahmu yang syahdu itu
Awan berlagak bak perhiasan
Kian rupawan kamu dijadikan
Ratap Dekap Semesta Tergelak
Kepada helai bulu merpati melalang gusar
Pucuk cemara dan kayu manis melipir ke dahan pinus
Gemetar rimbun batu-batu tertumpuk
Kian termangu jati di tebing dan lembah
Sendiri, gundul












