SAJAK

Rangkaian kata penuh makna yang tergabung dalam alunan syair simbol peristiwa

Mawar Maharani
SAJAK, SASTRA

Mawar Maharani

Oleh: Mar'atul Mu'ayadah Ilustrasi: Sri Hari Yuni Rianti Bunga cantik penuh duri Rupanya menggoda untuk dimiliki Harumnya semerbak mewangi Simbol kecantikan diri sejati Tangan putih bercampur dengan merah Erat menggenggam penuh darah Mata menutup ditumpukan melati Tubuh meringkuk semakin sembunyi Kilasan memori berdatangan Rasa sakit yang semakin tak tertahan Duri mawar yang semakin menusuk diri Mencoba mengalihkan perhatian sang putri Maharani pemimpin negeri Kini menangis sendiri sunyi Mawar yang menjadi gambaran keelokan diri Hancur terberai menjadi kelopak tak bertangkai Berat beban yang dia bawa sendiri Tak ada satupun yang memahami Hanya kelopak mawar menjadi saksi Jiwa yang mulai meninggalkan diri *Penulis adalah mahasiswa Fakult...
Belum Usai
SAJAK, SASTRA

Belum Usai

Oleh: Clara Diva Esperanza Ilustrasi: Nadya Salma Mulanya bergerak dalam keadaan senyap Bersembunyi dalam bayang-bayang gelap Beraksi dengan sedikit ketakutan Namun, yang pasti mereka lebih kuat untuk memeluk kebebasan Kepada setiap jiwa yang semakin berkobar Menuntut aksi yang semakin akbar Yang mulai melewati garis batasan Dengan memupuk gugusan pengorbanan Para pejuang reformasi Yang bersinar, tetapi dipaksa hilang Tanpa sempat menuai hasil adorasi Berupa negeri yang sedikit lebih lapang Pada negeri yang semakin lanjut Para pemimpin yang hanya berjanji-janji Namun, disini kami masih tetap menuntut asasi Berdiri tegak di gelap malam bersama lilin di tangan Tak pernah bosan mendesak bagimu keadilan *Penulis merupakan Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas ...
PETANI DI NEGERI AGRARI
SAJAK, SASTRA

PETANI DI NEGERI AGRARI

Oleh Alil Saputra* Ilustrasi: Amalia Rahmadani Ayam hitam ayam cemaniAyam mahal jangan dipukulMemang rajin para petaniPagi buta sudah mencangkul Ayam jago sudah berbunyiMaka Surya akan munculSayang betul si ibu taniJinjing rantang gendong bakul Anak ayam terinjak kakiUntung saja tidak matiPatuh-patuh anak petaniBisa prihatin dengan kondisi Anak ayam jatuh ke kaliBukannya diangkat malah digebukHarmonisnya keluarga petaniMakan bersama di bawah gubuk Ayam jago dibawa ke kotaDibawa bapak menggunakan sepedaTerlihat nikmat makanan merekaMeski hanya sambal terasi dan lauk peda Maling ayam jangan dihajarMending dibawa ke pengadilanDari mereka kita belajarYang sederhana lebih berkesan Induk ayam beli di AfrikaDibeli juga angsa dan dombaTerlihat semringah wajah merekaPadi me...
Diantara Pilar Kampus
SAJAK, SASTRA

Diantara Pilar Kampus

Oleh: Martin Sutri Ilustrasi: Alil Saputra Dikatakan suatu parodi Ketika sahabatku temui jenuhnya lantas Dihitungnya menit diantara detik dan jam Kemudian hari; minggu; hingga tahun! Dia bicara tentang anarki Dengan atribut disosoknya Dia jadikan dirinya mikroskop Aaaaaaachhh..... 1000 temanku & 1000 lagi yang lainnya Matanya bicara; mulutnya bisu k e l u ! Barangkali pondokan penuh peluh Menjanjikan segudang angka ajaib; Tujuh bukan lagi tujuh; Hitam bukan lagi hitam; Dia bicara tentang bangku kuliah lantas Didapatnya sebuah pengertian Bahwa disini bukan kandang kambing hitam ...
Penyambutan
SAJAK, SASTRA

Penyambutan

Oleh: Catur Mukti Wibowo* Ilustrasi: Alil Saputra Kian hari kian mendamba Jaket berwarna harapan orang tua Tentu sulit untuk meraihnya Perlu usaha yang tak sederhana Namun tak sampai disitu Jauh sebelum ufuk terlihat Sebelum bertemu kawan searah Belum pula merasakan kelas Kita dihadang dengan yang kau Ospek Sebagian warna jaket mungkin merasa senang Tapi tidak bagi beberapa jaket yang tak ramah Dibentak, dijemur, hingga dimaki Sejatinya ospek itu pengenalan kampus Pengenalan lingkungan suasana dan kerja kampus Bukan ajang balas dendam dan olok-olok Bukan begitu cara mendidik para intelek muda Oh, mungkinkah bagian tak ramah itu benar? Benar-benar terjadi dan menjadi kebiasaan Benarkah pengolokan itu bagian dari pendidika...
Dariku Untuk Tuan
SAJAK, SASTRA

Dariku Untuk Tuan

Oleh : Maryam Juwita* Ilustrasi : Alil Saputra (diedit dari pikbest.com) TuanMataku menerawang pada masa laluDikurung dalam ketakutan dan ketidaktahuanDi luar sana, teriakan dan tangisan saling beraduDiikuti kaca berseru dari siang hingga malamAku, seorang gadis kecilMenangis di sudut ruangan, terpenjara sendirian Pagi pun tak memberi ampunMemaksa menonton konser paling burukTangisan ibu menjadi nyanyian sepanjang acaraPekikan si Gila menggantikan peran sang gitarisAduan tangan turut memarakkan konser pagiAku, seorang gadis kecilAkhirnya menontonnya langsung, sudah tidak terbelenggu Aku bertanya pada TuanKapan pagi akan memberi ampun?Hingga kapan konser berlangsung? TuanBertahun-tahun sudah berlaluKonser lama masih bermain ria, semakin bebasAku, seorang gadis besarJemu meng...
Goresan Luka Elaeis
SAJAK, SASTRA

Goresan Luka Elaeis

Oleh: Dykaana Okta Wahyono* Ilustrasi: Dera Nafalia Aku ini mati Tak berbicara, tak mendengar, tapi digeladahi Aku ini mati Tapi dipaksa menghidupi Keringat dan luka adalah jiwa pembentuk batangku Tak sengaja, darahnya tersapu pada seratku Mengenang seperti goresan abadi Aku tak bisa menjadi bukti Aku ini mati Kau lihat sebelum hilang Kau hantui sebelum tenang Kau ambil sebelum terampas Aku ini mati Melihatmu menggerogoti Aku teringat ulat api dalam diri Bahkan kau jauh lebih berapi Hama ini menyakiti Batang bangsai kutandai Menggantung daun ini bunuh diri Seratku ternodai Bercampur dendam tak berhati Aku ini mati *Mahasiswi Unsoed Jurusan Sastra Indonesia Angkatan 2018 Catatan Redaksi: Tulisan ini dimu...
Kepastian Semu
SAJAK, SASTRA

Kepastian Semu

Oleh: Alif Saviola Rakhman* Ilustrasi: Elisa Hidayanti R. Hakikat manusiaTidakkah boleh menuntut haknya?Berbicara namun selalu sia-siaMenanti harapan yang tak kunjung nyata Telinganya terbuka namun kadang tak mau mendengarMatanya terbuka namun kadang tak mau melihatBenar melangkah namun salah menujuApa memang rakyat hanya boleh diam? Tak henti juang berkobarBerorientasi demi kesejahteraanSiang malam terombang ambingMeski sulit mendapat kepastian Kebebasan hanyalah ilusiBukti nyata adalah omong kosongKe mana lagi kita menuju?Jika yang disebut-sebut bijaksana selalu berpaling Harapan rakyat sudah sangat jelasOrientasi pun sudah semakin nyataTinggal menunggu sang penguasa kitaMenghapus nafsu akan kekuasaan Bagi orang-orang berdasi di atas sanaNafsu mereka akan semakin me...
Di Sini, Di Sana, Tak Ada
SAJAK, SASTRA

Di Sini, Di Sana, Tak Ada

Oleh: Rofingatun Hamidah* Ilustrasi: Alil Saputra Di sini,kubilang di sini!Tak ada,kau bilang tak ada yang tersisa. Tentu saja aku murka,kau selalu saja ingin bercanda.Gunungku gundul, lautku bertumpuk sampah bejibun.Sungguh, bumiku jadi mandul. Kau duduk tenang,tersenyum jumawa,dan tak mau disalahkan.Kubilang ini bukan miliknya,kau gantian yang murka. Kau bilang kau paling berkuasa,aku, dia, dan mereka tak berguna.Negerimu sendiri kau telanjangi,Bangsamu seperti diludahi. Kebenaran murah,dibeli dengan sejumput rupiah.Kemanusiaan terbelam,sepele sekali,kantongmu bahkan menariknya berkali-kali. Di sana,kubilang di sanalah keadilan.Tak ada,kau bilang takkan ada yang namanya keadilan. Wonosobo, 24 Mei 2021 *Mahasiswa FISIP Unsoed angkatan 2018
34 Tangga Kemiskinan
SAJAK, SASTRA

34 Tangga Kemiskinan

Oleh: Anggi Fahreza Yulianti* Ilustrasi: Alil Saputra Cambuk sudah tak berjejak Tombak sudah turun tersimpan hanya dalam benak Senjata sudah tak lagi terhunus Tapi kita masih saja merangkak menjilati derita seperti manusia rakus                                 Aku adalah seorang puan                                 Penjual tulisan demi mendapatkan nafas kehidupan                 &nb...