Oleh: Nurul Irmah Agustina
Kaki ini terseok-seok muak
; seiring detik yang berdetak,
juga lambaian Ibu yang makin lenyap,
apalagi kidung kangen itu senyap.
Aku bagai pengembara, sementara Ibu
laksana peramal ulung yang lugu
“kau itu kuat layaknya Rahwana!”
Ibu gemar mendesak,
“kau itu tongkat keluarga! jangan lemah!
kau laki-laki, bukan tulang rusuk!”
dan aku nyaris ambruk berlutut.
tuk meneteskan air mata dosaku
pada telapak kaki Ibu.
Ibu sekala menyulam ideologi di kepalaku
agar aku jadi akar penyangga ranting adikku
dan kudu angkat kaki biar dunia tunduk
pada lelaki yang terpandang langgas,
tapi sesak napas atas seribu tuntutan.
Bukan kejam, sekadar secuil keharusan
Sang logika, kebal perih, pelahap rasa
—asam, manis, pahit—nyaris menjeluak
kala menguburnya dalam usus tak berujung.
Bersolek disebut banci, dekil disebut tak urus diri
lembut disebut lemah, garang bisa saja bablas
dengan epilog di jeruji besi.
Mata bisa sinis, meski nyatanya ingin menangis
dan hati ialah misteri, yang ingin bebas dari jeratan duri
atau bahkan berteriak “aku muak jadi lelaki!”
jika bisa, dan jika dunia tak peduli
bahkan tuk sekadar mencaci
Editor: Nur Laela








