Dariku, untuk Para Pejuang

Oleh: Shabrina Salma

Ilustrasi: Muhammad Robin Mubarok N.
Ilustrasi: Tsabita Ismahnanda Purnama

Indonesia, 2027

Kalian tahu tren Kabur Aja Dulu? Tren yang membuktikan banyaknya kekhawatiran dan kekecewaan terhadap negeri kita.

Tren yang menurutku sangat menyenangkan, tapi juga menyedihkan. Tren yang membanggakan, tapi juga penuh ironi. Saat melihat seseorang yang mendapatkan beasiswa mengenyam pendidikan di negeri luar, rasa bangga memenuhi dada sebagai warga dari negara yang sama, bangga karena mereka bisa meraih pendidikan tinggi yang layak dan bermutu tinggi. Namun, menjadi suatu ironi yang menyesakkan ketika sadar bahwa negeri kita belum bisa memberikan sebuah sistem pendidikan yang berkualitas dengan gratis untuk belajar dan berkembang.

Aku menjadi salah satu orang yang mengikuti tren Kabur Aja Dulu, memilih pergi ke negeri asing untuk menghilangkan kekhawatiran masa depan dan kekecewaan terhadap kondisi Tanah Air, menjadi wartawan cetak untuk salah satu media internasional.

“Haaahhh ….” Aku membuang napas, menyesap kopi yang sudah tak lagi panas. Dari kaca jendela, terlihat jalanan yang masih ramai, meski matahari bersinar terik di atas langit.

Tak berbeda jauh dengan padatnya orang di luar kafe, kesibukan di dalam kafe juga terasa dari tempatku duduk. Manik mataku memandang karyawan kafe yang berada di balik meja bar, entah sedang membuat matcha atau kopi. Sedangkan di area pengunjung, beberapa orang sama sibuknya sepertiku, duduk dengan laptop terbuka dan segelas minuman yang menemani, work from cafe.

Setiap membahas tren Kabur Aja Dulu, ada satu sisi diriku yang sedih. Namun, juga tidak menutup mata bahwa pilihanku untuk menyambung pekerjaan di luar Tanah Air menjadi satu hal yang menyelamatkan hidup.

Aku menengadah menatap langit-langit kafe. Teringat akan sosoknya yang sangat berarti untukku. Bagaimana jika orang itu tahu kalau aku memilih untuk meninggalkan Tanah Air demi menyambung hidup? Apa tanggapannya, apa dia akan kecewa? Atau dia akan tetap mendukungku seperti biasanya?

Nggak papa, semua bentuk perjuangan kita terima.” Itu kalimat yang diberikannya untukku. “Sekecil rasa cinta Tanah Air, itu masih sebuah perjuangan, dan perjuanganmu adalah dari tulisan yang kamu tulis, Ila. Itu caramu berkontribusi dalam perjuangan kita.”

Aku tersenyum getir. Perjuangan dan cinta. Kata-kata yang sering diucapkannya dulu. Dia juga yang membuatku bertanya, apakah aku cinta negaraku?

“Aku cinta negaraku, Bhumi,” kataku memberikan jawaban kepada angin. “Mencintai negeriku dengan amat sangat.”

Rasa cintaku ini pernah aku pertanyakan dulu, saat masih menjadi seorang mahasiswa. Dengan kalung pers di leher dan kamera di tangan, aku mempertanyakan rasa cintaku.

***

Indonesia, 2024

Gadis itu melangkahkan kaki masuk ke dalam sekre–ruang sekretariat lembaga pers. Melihat sekelilingnya yang tumben sekali lebih ramai dari biasanya.

Niat kedatangan Naila hanya untuk mengambil bukunya yang tertinggal, tapi melihat orang-orang yang sangat banyak dan sibuk—dengan menuruti rasa penasarannya, Naila bertanya pada orang di sampingnya. “Tumben banget rame kayak gini, mau ada apa?”

“Mau ngeliput aksi kamisan Kak, itu bawa anak-anak anggota baru makanya lebih banyak yang ikut,” jawab seorang laki-laki yang Naila tahu dia adalah anggota baru UKM mereka.

Naila hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban, kembali fokus dengan tujuannya kemari.

“Kak Naila nggak mau ikut? Denger-denger dari kakak yang lain, Kak Naila nggak pernah turun buat ngeliput aksi.” Tanya laki-laki itu sembari menghadap Naila.

Gadis itu terdiam. Ngeliput aksi ya ….

“Coba ikut, Kak. Ikut sekali aja selama masa kehidupan pers mahasiswa kakak.” Adik tingkatnya itu menatap Naila tepat di manik mata. “Menyaksikan secara langsung perjuangan orang-orang yang meminta haknya, jadi saksi gimana masyarakat kita meminta keadilan atas keluarganya, orang-orang terkasihnya. Belum lagi tentang kasus-kasus yang nggak pernah terselesaikan. Hilangnya saudara mahasiswa kita di era 98, kasus etnis tionghoa, atau kasus pelanggaran HAM lain.”

Ia memberi jeda, tidak melepas pandangan mata dan senyumnya. “Kita emang belum bisa ngasih dampak yang besar, tapi kalo mahasiswa nggak bersuara. Siapa lagi yang bakal bersuara.”

Naila masih diam.

“Barangkali suara kakak bakal didengar sama penguasa, tulisan-tulisan Kak Naila bisa menjadi faktor yang memberikan dampak untuk negeri kita.”

Tulisanku? Naila menggelengkan kepala, ia tidak pernah menilai tulisannya tinggi. Apalagi sampai memberikan dampak yang besar untuk negara. Ia tidak pernah membayangkan itu.

“Udah ah Kak, ngobrolnya malah jadi ke mana-mana. Aku pamit dulu, mau ikut liputan hehe.”

Naila mengembuskan napas pelan, mengucapkan hati-hati dan melambaikan tangan.

Memang, selama menjadi mahasiswa, Naila tidak pernah mengikuti aksi mahasiswa apa pun. Baik itu sebagai mahasiswa ataupun sebagai anggota pers. Ia tidak pernah turun aksi dan menyaksikan langsung bagaimana orang-orang berjuang untuk mendapatkan hak-hak mereka. Perkataan tadi sedikit menyentil perasaan Naila, karena ia adalah seorang pers yang hanya duduk di balik layar laptopnya.

Alasan Naila tidak pernah mengikuti aksi mahasiswa adalah karena ia takut.

Takut jika merepotkan teman-teman lainnya saat turun aksi, takut menjadi beban saat harus berlari atau berlindung, dan takut jika ia ditangkap oleh oknum-oknum jahat berseragam yang seharusnya bertugas melindungi masyarakat kecil seperti dirinya.

“Haaahhh .…” Ia membuang napas. Perasaan tidak nyaman itu masih terus ada dan mengganggu Naila sampai ketika negeri tanah airnya berada dalam kekacauan.

Peringatan darurat. Garuda hitam.

***

Naila menatap layar televisi, terpampang gambar garuda hitam dengan tulisan Peringatan Darurat, dan tak lama berita mengenai aksi mahasiswa muncul, mengumandangkan tuntutan pada para penguasa mengenai keputusan mahkamah konstitusi.

Sang ayah mengembuskan napasnya berat setelah menyesap kopi hitamnya. “Kamu nggak ikut demo, nduk?

Naila menggelengkan kepala. “Naila banyak takutnya, Yah.” Memberi jeda. “Takut ngerepotin, takut nyusahin.”

Layar televisi terus menyiarkan berita aksi mahasiswa yang terjadi di beberapa kota, menyebutkan tuntutan yang diserukan mahasiswa di depan gedung penguasa.

“Ikut, nduk.” Ayah tidak melepas pandang dari televisi. “Jadi bagian dari perjuangan masyarakat. Jadi saksi hidup terjadinya sejarah di negaramu. Nggak setiap tahun loh demo tuh ada, nggak semua mahasiswa bisa ngerasain jadi bagian dari perjuangan.”

Naila menjatuhkan semua perhatiannya pada sang ayah.

“Kami ini, generasi di atas kalian, kalau bisa ikut demo pasti bakal langsung turun ke jalanan. Karena gimanapun, buruh kerja seperti kami ini yang jadi lapisan pertama terkena dampak pemerintah. Apalagi buat masyarakat kelas menengah, disebut kaya tapi miskin, disebut kelas miskin juga masih terlalu kaya untuk mendapat bantuan. Tapi mau gimana lagi, kita masih ada kewajiban berangkat bekerja, yang dari hasil kerja itu dipakai buat menghidupi semua anggota keluarga. Kalau kita memilih untuk tidak bekerja, di bulan selanjutnya, keluarga akan makan dari apa. Nggak ada penghasilan untuk menutup kebutuhan pangan dan kebutuhan pokok lainnya.”

Ayah menatap lembut ke arah Naila. “Kami selalu ada di belakang kalian para pejuang yang bersuara untuk rakyat.”

Gadis itu terdiam, menerima usapan tangan ayahnya di atas kepala.

Meski masih banyak takut dan banyak khawatirnya, Naila ingin bergabung dengan para mahasiswa lain yang berjuang untuk bangsa dan masyarakat.

Keesokan harinya, Naila sudah berada di antara gerombolan mahasiswa yang siap maju memperjuangkan hak dan keadilan rakyat.

Tanda pengenal pers melingkari leher dan almamater kampus menjadi identitasnya, juga kedua tangannya yang baru saja menerima hak untuk pegang kamera. “Aku yang pegang kamera?”

“Iya.” Pimpinan Pers kampus mengiyakan. Anggota pers yang turun kali ini adalah para pimpinan pers kampus. Ini hari kedua mereka turun aksi setelah sehari yang lalu melakukan demo pertama. “Ini pertama kali kamu turun aksi kan? Nggak main-main sekali turun langsung turun pas demo. Biasanya anak-anak bakal ikut aksi kamisan dulu buat bisa tahu suasananya, meski aksi kamisan termasuk aksi yang lebih damai daripada sekarang.” Ia kembali berbicara.

Naila menganggukkan kepalanya, mendengarkan semua yang gadis itu katakan. “Tunjukin kartu identitasmu, kasih tahu di depan aparat itu kalo kamu anggota pers. Jangan takut, kita ada hukum perlindungan pers. Kita nggak salah buat ngeliput, tapi tetep harus hati-hati, jangan pergi jauh-jauh dari tim kita, oke.”

“Oke.” Naila menjawab mantap, meski masih ada rasa takut, tapi suaranya tidak gentar sama sekali. Ia melihat orang di depannya yang melirik ke samping. Gadis itu ikut menolehkan kepala.

“Pinjem Naila-nya bentar.” Laki-laki itu berjalan mendekat.

“Balikin lagi ke tim gue, jangan malah dibawa pergi-pergi,” kata Pimpinan Pers lalu beranjak pergi mengecek persiapan yang lain.

Naila hanya terkekeh melihat tingkah kekasihnya yang sibuk berbalas cibiran dengan sang pimpinan pers.

“Kamu bagian dokumentasi, ya?” Laki-laki itu menebak. “Bagus deh kalo kamu bagian dokumentasi, bisa jaga jarak sama yang aksi di depan. Urusan wawancara narasumber sama liputan live kampus biar dikasih ke tim kamu yang lain aja.”

Dengan latar suara yang ramai, suara para mahasiswa yang sibuk mempersiapkan perlindungan, juga tim pers dengan semua peralatan liputan live-nya. Laki-laki itu memegang kedua lengan Naila supaya mata mereka bertatapan. “Dengerin aku.” Ia berkata tegas memberi jeda, menatap lebih lekat mata bulat Naila yang menurutnya sangat cantik. “Hati-hati. Jangan jauh dari tim pers kamu, jangan jauh dari rombongan mahasiswa kita. Jangan pernah sampe sendiri, La. Kamu harus terus bareng-bareng, mau kemana pun sama siapapun boleh. Sama tim kamu, sama temen-temen aku, atau sama mahasiswa lain. Tapi hati-hati. Jangan deket-deket kalo kericuhan udah mulai. Aku sama temen-temen belum bisa nebak pergerakan para aparat itu, bisa jadi kericuhan belum mulai karena ini baru hari kedua, tapi bisa jadi juga kericuhan meledak karena ini udah hari kedua.”

Naila menganggukkan kepala, tidak melepaskan pandangan dari sang kekasih.

“Satu lagi yang perlu diinget, La. Jangan takut. Ambil semua gambar yang kamu mau, perjuangan hari ini buat jadi tulisan yang memantik pergerakan. Kumpulin semua foto biar semua masyarakat tahu perjuangan kita.”

Gadis itu terdiam, ini terlalu berat. Ketakutannya kembali muncul. “Aku takut, Bhumi.”

Nggak usah takut, La. Kamu itu orang yang dapat perlindungan. Perlindungan hukum pers dan perlindungan perempuan. Kalau rusaknya hukum negara kita belum bisa ngelindungin kamu, aku bakal jadi orang pertama yang nuntut hak itu. Aku dan semua mahasiswa kita yang bakal bersuara buat kamu.”

Suara seruan mulai terdengar. Sorakan “Hidup mahasiswa!” Menggema di sepanjang jalanan. Aksi mulai bergerak maju.

Bhumi menatap gadisnya. “Kalau kamu ngerasa nggak aman, nggak perlu cari aku atau temen-temen tim kamu. Kamu kabur aja dulu, nanti kalau udah aman, baru kamu kabarin aku. Update kondisimu ya, La. Aku juga usahain selalu update kondisiku ke kamu. Kalau aku nggak kasih kabar ke kamu, aku pastiin, aku ada di tempat yang kamu bisa lihat. Oke, Ila?”

“Oke.” Naila menganggukkan kepala.

“Oke, apa?”

“Jangan deket-deket, jaga jarak, jangan takut.” Naila menatap mata tajam Bhumi. “Aku punya kamu sama semua mahasiswa, punya tim pers sama hukum perlindungan juga. Jadi nggak usah takut.”

Laki-laki itu mengangguk puas. “Aku turun dulu, hati-hati.”

“Bhumi juga hati-hati.”

Setelah mendapat jawaban anggukan kepala dari kekasihnya, Naila kembali bergabung dengan tim pers kampus. Pimpinan Pers sudah sibuk membagikan tugas untuk live report, berita tulis, sampai liputan wawancara. “Bagian dokum sama si Jamet, ya, La. Jangan jauh-jauh dari dia, jangan jauh-jauh dari kita juga. Kalau mau ngedeketin si Bhumi mah boleh, selain itu nggak boleh.”

Orang yang dipanggil jamet itu mendekati Naila dengan cengengesan. “Nggak usah aneh-aneh, Met. Pacarnya Naila galak,” kata Pimpinan Pers terkekeh.

Naila hanya terkekeh, pimpinannya ini suka sekali ribut dengan kekasihnya.

Dengan semua petuah dan bekal yang sudah dibawa. Tim pers kampus turun ke lapangan, bergerak di antara aksi mahasiswa.  Meliput semua yang terjadi, menyimpan bagaimana sorakan mahasiswa tidak didengar dalam bentuk tulisan, dan gambar yang dapat terkenang. Naila terus bergerak dengan kameranya, menekan tombol shutter, menyimpan semua bentuk aksi dalam memori.

Naila memandang seluruh para pejuang rakyat—meminjam sebutan yang biasa Bhumi pakai untuk semua kalangan rakyat yang bersuara atas keadilan—sebanyak ini yang bersorak untuk menuntut para penguasa, tapi tidak ada respon apa pun.

“Sekeras ini suara kita, sebanyak ini rakyat yang turun ke jalanan, tapi kenapa nggak ada yang turun buat menjawab tuntutan rakyat.” Naila bermonolog, menatap Bhumi yang sedang berorasi di depan sana.

“Mereka tuli, La. Buta juga.” Si Jamet yang mendengar monolog Naila memberikan jawaban. “Enggak deh, lebih parah dari itu. Mereka emang nggak punya mata sama telinga. Aksi kamisan kita aja nggak pernah tuh dapet keadilannya. Padahal udah lebih dari lima belas tahun kita menuntut keadilan.”

Naila membuang napas. “Kenapa juga kita harus sampai diamanin sama aparat? Emang kita ada salah?” Gadis itu menatap si Jamet. Selama ia melakukan riset sebelum turun aksi tidak pernah ditemukan pernyataan diperbolehkan adanya kekerasan dalam menindak massa. Sepertinya, perintah itu hanya dianggap angin lalu.  “Kita kan negara demokrasi, nggak salah dong kalau menyuarakan pendapat sebagai masyarakat.”

Si Jamet terkekeh, dapat merasakan bahwa memang ini adalah pengalaman pertama Naila turun aksi. “Itu aja kamu bingung, La. Belum lagi orang-orang aparat yang harusnya  ngelindungin warga, tapi malah jadi orang yang nyakitin warganya. Pakai kekerasan buat ngerespon mahasiswa dan rakyat kita yang cuma bisa meminta keadilan. Nggak heran lagi, emang aneh orang-orang negeri kita tuh. Apalagi oknum-oknum berseragam itu.”

Gadis itu terdiam. Benar sekali yang dikatakan si Jamet. Kenapa mereka yang seharusnya melindungi rakyat dan memastikan rakyat aman, beralih menjadi orang yang menyakiti warganya sendiri. Apakah oknum-oknum seperti itu sudah sangat banyak mendominasi para petugas negeri kita? Kenapa hal ini terasa seperti sesuatu yang sudah biasa terjadi, sungguh suatu fakta yang menyedihkan.

Baru saja membicarakan itu, Naila melihat Bhumi mendapat pukulan di pelipisnya. “Bhumi!”

“Bang Bhumi aman, La.” Si Jamet menahan Naila yang sudah ingin berlari ke tempat Bhumi. “Itu banyak tuh yang maju buat bang Bhumi. Adanya kalo kita yang maju, kita ikut bonyok, La.”

Naila melihat teman-teman Bhumi yang bergerak maju setelah penyerangan itu. “Udah, La. Kita lanjut dokum aja, biar habis ini kita istirahat. Udah sore banget ini, kita belum istirahat dari pagi. Anak-anak tim juga pasti nyariin.”

Naila hanya menganggukkan kepala. Hari semakin sore, tapi tetap tidak ada yang mendengarkan suara rakyat. Pendengar suara rakyat hanyalah rakyat sendiri.

Tepat jam lima sore, Naila kembali ke tempat tim pers berkumpul. Pimpinannya itu sudah ada di sana, menyodorkan botol minum kepada Naila. Menyuruh gadis itu untuk duduk di tempat yang teduh, sedangkan ia sendiri kembali sibuk memantau liputan live.

Sayangnya, pilihan tempat Naila duduk adalah suatu kesalahan. Ia duduk terlalu jauh dari timnya, dengan alasan tempat itu adalah tempat yang cocok untuk memantau Bhumi. Hanya dengan alasan itu, kamera yang sebelumnya ia pegang sudah berpindah tangan.

Naila menatap sengit orang di hadapannya. “Kenapa Pak? Ada yang salah dengan kamera saya?”

Nggak ada, saya cuma mau ngehapus bukti,” jawab seseorang berseragam yang mendekati Naila.

Ah …. aparat ternyata.

Naila teringat di kameranya banyak menangkap foto saat kerusuhan tadi, dan pastinya ada foto kekerasan yang dilakukan oleh aparat-aparat itu. Sepertinya ia sudah ditandai dari tadi.

“Bukti apa, ya, Pak? Saya hanya mengambil gambar sesuai fakta yang ada di lapangan.” Entah keberanian dari mana Naila bisa mengucapkan itu. “Bukti apa, Pak? Bukti kekerasan Bapak mukul teman-teman saya? Coba diomongin sama saya, atau Bapak juga mau mukul saya?” Naila berkata santai, menunjuk pelipisnya.

“Kenapa diem aja, Pak? Jadi nggak hapus bukti fotonya? Atau Bapak mau saya kirim foto ini ke atasan Bapak? Biar kena sanksi karena melakukan kekerasan pada massa?”

Naila tidak tahu bagaimana kelanjutannya, tapi tiba-tiba saja tangannya sudah diringkus. Naila diseret, dibawa ke tempat aparat itu dan para teman-temannya.

Naila tidak takut sama sekali. Seperti kata Bhumi tadi, dia punya perlindungan di sini.

“Saya tangkep kamu karena foto orang sembarangan.” Aparat itu mengancam Naila.

Gadis itu menatap tajam. “Saya nggak salah, Pak. Demo ini bentuk demokrasi masyarakat. Liputan saya termasuk hal yang dilindungi hukum, nggak ada yang salah dari yang saya lakukan.”

Aparat itu semakin geram, dia terus memegang kamera Naila. Menjauh untuk memanggil teman-temannya, melakukan konferensi singkat. Diskusi untuk nasib Naila ke depannya.

Tidak ada ketakutan yang dirasakan Naila. Foto di kamera tadi juga sudah sempat ia back up di akun pers-nya. Ia dilindungi hukum secara legal. Naila yakin bisa keluar dari sini.

Tapi tidak lama aparat itu kembali muncul, memborgol tangan Naila. Lalu menarik dan menyuruh Naila untuk naik ke atas mobil patroli terbuka. Dengan degup jantung yang berdetak lebih cepat, ia mempertanyakan keyakinannya tadi.

Apa benar Naila bisa keluar dari sana?

***

Bhumi membuang napas. Langit sudah semakin sore, warnanya jingga sangat cantik sebagai penutup hari.

Masyarakat pejuang aksi massa hari ini sudah banyak yang beranjak kembali ke peraduan masing-masing. Perjuangan rakyat belum selesai dan masih akan berlanjut sampai menang, tapi keperluan istirahat tetap harus terpenuhi. Bhumi menjadi salah satu orang yang tetap berada di tempat aksi sampai matahari esok muncul kembali, sampai masyarakat menang di masa depan nanti.

Melihat rombongan massa yang sudah berkurang—terutama mahasiswa perempuan—Bhumi yakin Naila juga sudah kembali bersama teman-teman pers-nya. Namun, saat mendatangi tempat tim pers kampus berkumpul, Bhumi tidak menemukan kehadiran Naila. Ia hanya mendapatkan wajah sang Pimpinan Pers yang penuh dengan kebingungan dan kekhawatiran.

“Ila mana?” Bhumi bertanya tanpa basa-basi.

“Gue nggak tahu.”

Laki-laki itu mengerutkan kening. “Ila di mana?”

“Gue nggak tahu, Bhum. Terakhir dia istirahat sama anak-anak.”

“Istirahat di mana? Kok nggak ada?” Bhumi menuntut jawaban.

“Di sana.” Pimpinan Pers menunjuk satu tempat.

“Tapi gue nggak tahu habis itu dia ke mana.”

“Ila di mana?”

“Habis kasih minum, gue nggak tahu Naila ke mana.”

“Ila di mana?!”

“Dia duduk sambil bawa kameranya, kayanya sambil back up foto.”

“ILA DI MANA?! GUE TANYA ILA DI MANA?!”

“GUE NGGAK TAHU!” Pimpinan Pers membalas gusar.

“Gue nggak tahu Naila di mana. Dia hilang.”

Bhumi mendecih, mengusap wajahnya kasar. Melihat layar ponselnya, tidak ada pesan apa pun yang dikirimkan kekasihnya. Ia harus mencari Naila.

“Lo suruh anak-anak lo pulang, bahaya. Gue mau cari Naila.” Bhumi menatap kepergian Pimpinan Pers yang mulai mengarahkan anggotanya untuk segera pulang dan beristirahat. Lalu laki-laki itu membuka ponsel pintarnya, meminta tolong pada teman-temannya untuk mencari Naila dan menyebarkan informasi bahwa ada yang hilang dari aksi hari ini.

“Naila!” Pimpinan Pers tiba-tiba mendekati Bhumi. “Naila dibawa isilop, Bhum. Ini si Jamet ngikutin mobil patroli Naila sampai markas.”

Berbekal informasi itu, Bhumi sudah sampai di markas para aparat. Teman-temannya ada bersamanya, mereka siap untuk membuat rencana membawa kabur Naila kalau-kalau gadis itu tidak bisa dibawa dengan baik-baik. Namun, semua rencana itu dibatalkan ketika tiba-tiba ia mendapatkan Naila keluar dari markas aparat dengan keadaan utuh.

Ia segera memastikan kondisi gadisnya. “Nggak papa, La?” Bhumi memastikan semua bagian tubuh Naila tidak ada yang luka. Memutarbalikkan tubuh sang gadis dari depan ke belakang, benar-benar mengeceknya. “Nggak ada yang luka, kan?”

Naila menggelengkan kepala. “Nggak ada.”

“Kok bisa keluar?”

Nggak tahu.” Naila menjawab jujur. “Tiba-tiba naik mobil patroli, terus masuk ke dalem sel. Terus akunya ditinggal, eh dibolehin keluar.”

Bhumi membuang napas lega. “Ternyata masih ada hukum negara kita yang berjalan baik meski banyak oknum nggak benernya.”

Naila menganggukkan kepala. Hukum perlindungan itu Naila dapatkan di kejadian hari ini.

Mendapatkan gadisnya kembali, setelah mendengarkan semua ceritanya. Api perjuangan Bhumi untuk rakyat berkobar semakin besar dan api itu tidak bisa dipadamkan.

Perjuangan masih belum selesai.

Tepat saat matahari sudah kembali berada di atas kepala, Bhumi memimpin orasi rakyat. Namun, sepertinya banyak oknum yang juga semangat untuk menghadang perjuangan rakyat. Pipi kiri Bhumi mendapatkan pukulan, kericuhan itu terjadi. Lebih parah dari sebelumnya. Lebih berantakan. Perasaan atas negeri Tanah Air sedang dalam era gelap sangat amat terasa. Teman-teman Bhumi tidak tahu ke mana, pergerakan massa menjadi berantakan. Satu yang Bhumi ingat, hanya teriakan Naila.

“BHUMI!” Naila berteriak, ia tidak menyangka bahwa aksi hari ini akan sangat chaos. Pimpinan Pers menghalangi Naila yang ingin berlari mendekati kekasihnya.

“BHUMI! BHUMI JANGAN!” Ia tidak bisa berhenti berteriak, Bhumi yang ingin melarikan diri mendapatkan pukulan di lehernya. Membuat laki-laki itu terbatuk keras, sulit memfokuskan pandangan. Naila dapat melihatnya dari cara jalan Bhumi yang sempoyongan.

Ini menyeramkan. Naila sangat takut. Keberaniannya kemarin hilang, lenyap tanpa sisa. Ia melihat bagaimana teman-teman mahasiswa menjadi korban kekerasan para oknum dan Bhumi menjadi salah satunya. Ia tidak tahu ke mana orang-orang itu membawa Bhumi. Pimpinan Pers sudah menarik tim pers untuk segera berlindung, tidak bisa membiarkan anggota tim untuk tetap berada di jalanan aksi, karena kemungkinan terburuk bisa saja terjadi. Naila menjadi orang yang ditarik dan dipastikan sudah berlindung dengan aman. Penglihatannya pada Bhumi dengan cepat menghilang, jejak kekasihnya sudah tidak terlihat. Bhumi hilang. Lenyap.

Pada saat itu, Naila teringat perkataan Bhumi. “Sekecil rasa cinta Tanah Air, itu masih sebuah perjuangan.”

Namun, rasa cinta itu menjadi sebuah pertanyaan besar untuk Naila. Jika Naila mendapat pertanyaan, “apa kamu cinta negaramu, La?”

Naila pasti akan menjawab bahwa ia tidak tahu.

Karena negara yang sangat dicintai Bhumi ini menyakiti dirinya. Negara yang mendapatkan cinta tanpa syarat dari Bhumi tak pernah memberikan cinta yang sama besarnya. Cinta searah Bhumi yang sangat tulus terbuang sia-sia. Karena Bhumi cinta dengan negaranya, tapi negara tidak cinta Bhumi.

Dan … Naila tidak suka itu.

***

Indonesia, 2027

“Haaaahhh ….” Mengenang itu membuatku teringat dengan Bhumi. Ia laki-laki yang selalu bersuara untuk negerinya, laki-laki yang tidak pernah lelah untuk terus berjuang, dan seorang laki-laki yang menjadi pemilik hatiku.

“Hidup perempuan yang melawan!” Salah satu kalimat yang selalu Bhumi serukan kala itu.

Aku memandang keluar, teriknya matahari sudah berganti menjadi hujan rintik-rintik kecil. Membuat suasana syahdu dapat dirasakan sore ini. Mataku menangkap pergerakan seorang laki-laki yang berjalan dengan payung birunya di bawah rintikan hujan. Suara denting bel terdengar ketika laki-laki itu masuk, menepuk-nepuk pundaknya yang terkena air hujan lalu meletakkan payung di tempat yang kafe sudah sediakan. Laki-laki itu membalas tatapanku, senyumnya hangat bersamaan dengan kehadirannya.

Ini bukan lagi mimpi, aku dapat melihatnya berdiri di depanku.

Kami bertemu lagi.

Setelah kejadian itu, kami bisa bertemu lagi. Kejadian yang membuatku menanyakan banyak hal, mengenai negaraku dan rasa cintaku. Kejadian yang membuatku merasakan kehilangan atas laki-lakiku.

“Apa aku masih menjadi seorang wanita yang berjuang dan terus melawan, meski dengan semua kondisiku saat ini?” Pertanyaan yang aku tujukan kepadanya, meski aku tidak yakin ia dapat mendengarnya.

“Masih, sayang. Kita masih berjuang dengan cara masing-masing.”

Aku menatap pemilik suara itu,  kehadirannya  di depanku sungguh nyata.  Bukan lagi bayang-bayang yang aku dambakan. Bukan lagi kenangan saat dirinya menghilang.

Bhumi berdiri di depanku.

Tersenyum manis.

Bhumi .…

Kekasihku.

Pemilik hatiku.

“Kita beneran ketemu lagi.” Aku memeluknya, memeluk erat laki-laki yang membuatku mengerti tentang cinta. Cinta kepada dirinya dan cinta kepada negeriku.

Jika kalian bertanya, apa aku cinta negaraku?

Jawabannya tetap sama seperti di awal. Meski banyak yang harus aku cari tahu, aku tetap cinta negaraku. Tempatku lahir dan tumbuh besar, tempatku bertemu dengan Bhumi. Aku cinta negaraku, dengan amat sangat.

Editor: Helmalia Putri

Redaksi

beritaunsoed.com adalah sebuah media independen yang dikelola oleh LPM Sketsa Unsoed dan merupakan satu-satunya Lembaga Pers Mahasiswa tingkat Universitas Jenderal Soedirman di Purwokerto.

Postingan Terkait

Kuucapkan Serta Mulia

Oleh: Alda Dwi Safitri Kepada dunia aku sampaikan Padanan kata yang kudambakan Kala hari perlahan berjalan,…

Sejengkal Lagi

Oleh: Farah Fauziah Tersengal-sengal Matanya membeku lurus Langkahnya tenggelam dalam lumpur Tali mana yang harus diraih?…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jangan Lewatkan

Mengenal Tokoh Bangsa dan Jejak Pengabdiannya di Museum Soesilo Soedarman

Mengenal Tokoh Bangsa dan Jejak Pengabdiannya di Museum Soesilo Soedarman

Mimbar Bebas Banyumas Problematik: Refleksi Kebijakan untuk Banyumas yang Lebih Baik

Mimbar Bebas Banyumas Problematik: Refleksi Kebijakan untuk Banyumas yang Lebih Baik

Museum Wayang Banyumas: Sunyi yang Menyisakan Jejak

Museum Wayang Banyumas: Sunyi yang Menyisakan Jejak

Banyumas Culture Festival dan Kirab Pusaka Meriahkan Hari Jadi ke-455 Kabupaten Banyumas

Banyumas Culture Festival dan Kirab Pusaka Meriahkan Hari Jadi ke-455 Kabupaten Banyumas

Tambah Spot Nongkrong di Unsoed, Pringsewu Hadirkan Kandang Kopi di Fakultas Peternakan

Tambah Spot Nongkrong di Unsoed, Pringsewu Hadirkan Kandang Kopi di Fakultas Peternakan

Pemira 2025 Usai: Krisis Regenerasi Kepemimpinan dan Demokrasi Mahasiswa Masih Melekat

Pemira 2025 Usai: Krisis Regenerasi Kepemimpinan dan Demokrasi Mahasiswa Masih Melekat