Puisi oleh Linggar Putri P.
Mereka yang katanya berderajat tinggi
tak lupa pula menggendong kebusukannya.
Ah, bagaimana bisa
tubuh manusia tak terkoyak?
Padahal bau kekejian menggunung di dalam.
Lihat bayangan hitam pekat itu?
Apakah gerangan yang membuntuti mereka?
Kudengar, itulah dosa.
Tergeletak di atas bahu rapuh,
tak ada niatan untuk lepas.
Apakah dosa terus mengejar manusia?
Atau manusia yang memikul dosa?
Siapa manusia itu?
Ialah yang berbudi, namun juga,
lidahnya menghunus hati sesamanya,
bertindak kesana kemari.
Tapi, Tuhan tidak tidur,
dan iblis pun boleh tertawa,
maka akan selalu ada yang melirik
kedunguan hakiki makhluk berakal itu.
Tibalah masa ia terperanjat,
menggigil akan beban penyesalan.
Sementara waktu tak menghentikan malam,
rasanya doa itu membekukan waktu.
Pelukan Tuhan menghangatkan raganya,
walau tangis ampunan tak tergerus.
Ingat, ada api di sana yang setia menanti.
Sang pendosa meracau, mengemis rahmat,
dan tampaknya Dia begitu pemurah.
Walau insan bernoda tak pernah tahu,
dan tak akan tahu takdirnya di masa purna.
Editor: Ryu Athallah Raihan








