Oleh: Aisya Nur Rohmah
Bagi beberapa orang,
Beda minda itu kutukan, bisa bikin benci meradang.
Padahal mereka sendiri yang buatnya memberang,
Dengan perang atau diskursus segmentasi panjang.
Padahal mereka belum tahu saja bahwa:
Kita juga terlahir dari
Susunan partikel berundak-undak,
Kumpulan sel dan kimiawi berbeda—saling merangkul,
Tanpa mencaci kurang diri, kuatkan yang lunglai.
Jika tidak begitu, bayi tak selamat untuk ibunda buai.
Lalu terbentuklah telinga, didengarnya:
Azan berkumandang indah, entaskan pilu.
Mata melihat katedral, kur agung mengalun syahdu.
Kaca patri Bunda Maria menatap teduh,
Hati merasa Budha berdoa untuk kasih sesama.
Lalu, kelenteng harum dupa penuh doa.
Harapku: dogma untuk bertafakur, bukan untuk bertakabur.
Maka dari itu perbedaan dirangkul sayang,
Entah itu beda papan, pangan, atau sandang.
Tuhan turunkan beda untuk kita melihat dengan hati.
Sudah jadi takdir kodrati,
Bagi kita dihadapi beda yang insani.
Tak ada pula yang lebih suci,
Tak ada pula yang harus kau benci,
Tak pantas pula sungut dipakai mencaci.
Karena kita adalah sesama pendosa haqiqi,
Yang masih butuh saudara-saudari.
Editor: Helmalia Putri









