Oleh: Salsabila Isti Amanita
Pernah ia tergelincir dalam jurang nestapa,
menyulam kegagalan laksana anyaman tak sempurna,
tiap retakan menjerit seperti seruling patah,
namun ia terus menggurat langkah, meski di atas serpihan luka.
Hari-hari yang muram bagai arakan awan arkais,
menggantung berat di langit nuraninya,
namun ia bertahan, bagai pohon tua menantang angin,
akar tekadnya menancap di tanah getir kehidupan.
Ia menelan badai sebagai firasat penguat,
menjadikan derita sebagai kitab pembelajaran,
meresapi tiap kerikil sebagai mantra ketabahan,
hingga perih menjelma zamrud pengalaman.
Lalu fajar pun retak di ufuk penantian,
kemenangan hadir bukan sebagai ilusi semu,
tetapi sebagai simfoni dari segala luka,
menggema, mengabarkan: perjuangan tak pernah sia-sia.
Syukur pun merekah seperti mawar abadi,
dihaturkan pada Sang Penggenggam takdir,
yang mengguratkan jalan dari kabut ke cahaya,
dan tak pernah alpa mendengar lirih doa di ufuk sunyi.
Kepada jiwa yang pernah meniupkan asa,
ia berterima kasih setulus samudra,
sebab dari suaramu yang teduh bagai senandung purba,
ia belajar: kemenangan selalu lahir dari keberanian hidup.
Editor: Amanda Putri Gunawan









