SAJAK

Rangkaian kata penuh makna yang tergabung dalam alunan syair simbol peristiwa

AKTOR BOHONG
SAJAK

AKTOR BOHONG

Oleh: Rofingatun Hamidah Ilustrasi: Dera Nafalia Lagi-lagi, Kau tuduh kami tak berkualitas Lagi-lagi, kami Kau jadikan kambing hitam yang ingin diberantas Kami sekadar alibi, yang Kau susun sedemikian rupa untuk kesejahteraan sendiriApa salah kami? Omong kosong!Kami tak butuh argumen kopongAtaupun elakan bohong Tuan kami sudah memeras peluhUntuk jadikan kami bermutuNamun apa daya, Kau masih saja menggerutu Apa yang sudah Kau lakukan?Hingga Kau berhak menduakanApa yang harus kami lakukan? Agar kami Kau banggakan Kau buat kami murahBahkan tak segan-segan susah dirubahHingga tuan kami pasrahMenunggu nasib yang tanpa arah Sekarung dari kamiPermen saja tak mampu terbeli, barang satu bijiApa lagi sebutir nasi? Mau makan apa tuan kami ini? Tetapi, Kau tetap bungahSe...
PERAWAN
SAJAK, SASTRA

PERAWAN

Oleh: Mukti Palupi Ilustrasi: Nur Komariah Untukmu Serigala Penyerang Andai kau tak merayu Andai kau tak memaksa Andai rasa penasaran tak semena mena menggebu Mungkin khayalan tentangmu masih menjadi khayal Batin hendak menentang Gejolaknya benar-benar menjengkelkan Diamku tak menakrifkan setuju Tahu diri ini terlarang Tapi hasrat dewasa tak sudi berbohong Tidak Harusnya bisa menyelamatkanku Tapi atas nama kebodohan, aku pasrah Aset yang tak pernah ada cadangannya Untukmu Serigala Penyerang
Pria Berkerah Biru
SAJAK, SASTRA

Pria Berkerah Biru

Oleh: Mushanif Ramdany* Kala sore berjalan menyusuri alun kota binar kesunyian kian melambai Ia datang sampai ketika jalan dipenuhi duri tajam seraya bertanya: “Tahukah kamu pria berkerah biru itu?” seketika mengerut dahi sang pawang UU   Lama dalam jeruji Asal ketuk jadi   Sang pawang angkat bicara: “Aku tak kenal dia, tapi aku kenal orang yang bersepatu pantofel hitam itu.”   *Mahasiswa Hubungan Internasional Unsoed angkatan 2016.   Catatan Redaksi: Tulisan ini dimuat ulang dari Buletin InfoSketsa Edisi 36 | Agustus 2018 pada Rubrik Puisi.
Perempuan
SAJAK, SASTRA

Perempuan

Oleh: Marita Dwi Asriyani* Anak perempuan kini dapat bebas. Kerinjangnya tak dikungkung oleh kolot tetua. Anak perempuan kini bisa bernapas lega. Ia dapat menghidu aroma kebebasan. Hak laki-laki dan perempuan telah sama katanya. Derajatnya sama tinggi. Perempuan belajar. Perempuan bekerja. Perempuan dapat melakukan apapun yang ia suka. Yang ia inginkan. “ Nduk , jangan bekerja di lain kota. Berbahaya!” kata Bapak dan aku mengangguk pasrah.     *Penulis, mahasiswa D3 Bahasa Inggris Unsoed angkatan 2016.   Catatan Redaksi: Tulisan ini dimuat ulang dari Buletin InfoSketsa Edisi 36 | Agustus 2018 pada Rubrik Puisi.
Visi
SAJAK, SASTRA

Visi

Oleh: Helda Puspitasari* Salam mimpi yang terbaca lewat gerak desir nadi yang mencabangkan akar-akar kehidupan, merapalkan senyum harapan mengalun bersama napas angin Diftong-diftong keras menggapai puncak boma melodi sarat hasrat emosi Pori-pori harum Pertiwi memekikkan seruak bumi pekuburan Detak-detak sanggul buana raya Tercium engkau pada cemerlang wajah purnama nan juwita Serbuk sari dipermainkan ia ke pucuk-pucuk rindang tubuh kokoh menopang langit Siluet dominan di kanvas agung ini Sindhung yang sembunyikan Titipkan jasadnya pada semerbak harum bangkai, samar debu yang lahap ruhnya, atau pada gemerisik tarian klorofil mengalir   *Penulis, Mahasiswa D3 Bahasa Mandarin Unsoed Angkatan 2017.   Catatan Redaksi: Tulisan ini dimuat ulang dari Buletin InfoSketsa...
Koboi-koboi Setelah Perang
SAJAK, SASTRA

Koboi-koboi Setelah Perang

Oleh: Yoga Iswara Rudita Muhammad* Satu pelor menancap di kepala lawan Tess! Masih kuat jua dia berdiri Sayang, dia roboh di sekon keempat Asik betul bisnis penghilangan nyawa ini Mencopot nyawa orang Habis itu dibayar pula Keadilan mesti ditegakkan Panji-panji itu melindungimu Mata dibalas mata Nyawa dibalas mata Sekali kita berurusan, sekali pula diselesaikan Deru pendek mesiu Mengubah serbuk menjadi asap kelabu Dalam masalah yang tak selesaikan Kita tak kenal hitung-hitungan Tak ada abu-abu dalam takaran hidup dan mati Pilihan hanya satu Menumpas atau ditumpas   *Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jenderal Soedirman angkatan 2016, penulis cerpen dan puisi.  
Pantun Rumah Sawah
SAJAK, SASTRA

Pantun Rumah Sawah

Oleh: Aziz Dwi Apriyanto* Sengaja ke Bali memburu turis Minum bir, makannya tahu kupat Kita hidup di negeri agraris Kebun dan sawah di setiap tempat Jidat profesor sangatlah terang Di tempat gelap bisa menyala Tapi miris kondisi sekarang Impor pangan merajalela Ke kondangan membuat ulah Atasan rapi, tapi tak bercelana Tambah penduduk, tambah masalah Permukiman warga taruh di mana? Hujan deras bercampur petir Tanda cuaca sedang tak ramah Jangan bingung, usah khawatir Sawah ditanami rumah mewah Murid pacaran sebut mama papa Ketahuan, disidak kepala sekolah Rumah aman, lalu kerja apa? Bikinlah toko, belilah sawah sebelah Aduh manis bikin hati terpana Gadis cantik mengunyah permen Papan sudah, sandang macam mana? Bukalah lahan, bangun pabrik garmen! Ada yang unik dar...
Pintu Besi
SAJAK, SASTRA

Pintu Besi

Oleh: Nurhidayat* Pintu besi baru saja terinstal pada sudut presisi Penuh kalkulasi, semua dikerjakan tukang las terakreditasi Pak tua yang sudah seharusnya dikremasi justru mencaci hasil produksi Kala menyiapkan lidah untuk mengkritisi Dadanya sesak terisi frustasi   Pergulatan sengit dalam isi pangkal uban, meski tak ada serapah tumpah Si Bangka protes perihal warna terlalu cerah “Warnanya terlalu menyala. Tak seperti besi tua,” keluhnya dengan sisa nafas orang tua yang payah   Mata pengelas mencelik, persis penis anak SD belum disunat yang dimain-mainkan Urat-urat merah di bagian putih mata mencekik orang tua yang renta beruban   Si pengelas enggan merevisi, dia hanya mau membuat yang terlihat gres Pengelas yang idealis berpikir dua menit lalu memb...
Ikat Kepala Merah
SAJAK, SASTRA

Ikat Kepala Merah

Oleh: Nurhidayat* Sambil berorasi meruntuhkan kursi Sambil beronani mengejakulasikan makna Mengencangkan ikat kepala yang hendak jatuh Berkaca agar kain itu tepat menutupi jidat Meraba agar ikatan tepat di kuncir belakang kepala   Kebenaran dan keadilan menumpuk punggungnya Seberat teriakan petani membeli sepatu anaknya Setinggi cita-cita pendiri negaranya Setebal rindu seorang aktivis kepada kelulusannya   Idealisme yang meruntuhkan namun segera rubuh Keberanian yang menggetarkan namun segera luruh Kesucian yang menyucikan namun segera lusuh Keilmiahan yang mencerdaskan namun segera rusuh   Besi-besi muda yang tak sempat tersepuh Batu-batu mulia yang tak sempat terasah Harta karun melimpah yang tak sempat terjamah Juga kipas-kipas yang salah arah...
Pantun Hari Kemerdekaan
SAJAK, SASTRA

Pantun Hari Kemerdekaan

Oleh: Emerald Magma Audha* Ada udang di dalam bakwan Tersaji di setiap dukan Wahai Saudara, hai Kawan Ini Hari Kemerdekaan Culika melarat mendapat celaka Kakinya gempor dihantam popor Katanya ini negeri merdeka Pangan impor, tenaga kerja impor Bausuku bertelut pada tuanku Syahdan, ia bersujud serupa sayak Isu SARA masih saja laku Kebinekaan terancam koyak Ada ikan di ujung langit Ikan terbang, ikannya Indosiar Orang-orang saling sengit Asal menghujat, tak pakai nalar Wong-wong silih menggilas Lokika loka petaka di pestaka Banyak pejabat licik dan culas Banyak rakyat dikibuli mereka Lelap malam begitu syahdu Bulan dan bintang saling mengatas Laku KKN dijadikan candu Kekuasaan menjadi komoditas *Pegiat LPM Skëtsa Unsoed.