SASTRA

Rubrik sastrawi yang berisi rangkaian sajak dan cerita pendek (cerpen) pilihan redaksi LPM Sketsa

CERPEN, SASTRA

Tiba Pati

Tiba Pati [1] Oleh: Nurhidayat[2] Irama musik marawis bersilih ganti dengan orkes koplo dari tetangga samping kiri rumah membuatku uring-uringan. Musik akherati dan musik duniawi yang saling bersubtitusi itu sungguh menidaklelapkan tidur malam-malam ini. Bukan karena musiknya sebenarnya, namun karena umurku yang sudah nyaris kepala tiga dan tak juga bisa menemukan jodoh yang kelak kujadikan pengelola gaji bulananku. Ya! Tetanggaku si Bahrun yang umurnya baru delapan belas tahun itu menikah, bisa ditebak lah, karena Zizah si calon istri pasti sudah ‘isi’. Ah! Peduli amat akan catatan gelap kehidupan mereka! Hanya saja, aku sebenarnya ingin komplain pada panitia pernikahan untuk tidak membunyikan lagu-lagu penyiksa kebujanganku itu. Bayangkan saja, sudah empat hari lima malam ini tak henti...
SAJAK, SASTRA

Pojok Usang Ruang Istimewa

Oleh: Susilo Fathurrokhman Belantah, buta, dan menyal mereka melangkah Cegak? Mungkin secuil Langkah menunggik seolah tidak mereka Persil lapang nan subur minta di tanduri pohon emas Pasir, liat, kapur, lumpur, gambut, ah semua sama Benamkan benih pada persil lapang! Ambil hara lalu siramkan! Percikkan air biar pucuk akar bersemi-semi Rimbunkan akar, kekarkan batang, jalarkan daun Loyokan gandar buah biar lasuh dipetik Buah anom tak sekala tak memincut Adakala si anom bak lingkaran kafi Ranum buah pun jadi cita Akhirnya Si ranum terkudung dari gandarnya Semua teriak makbul, padahal semu! Lucut karena lotak bahkan mumuk Lalu apa? Jumput si ranum yang merdesa! Imbu para anom hingga purna Pemanen mulai temperas, terseok, bahkan keok Satu persatu runtuh, amblas, dan menguap...
Pria yang selalu Menatap Jalan
CERPEN, SASTRA

Pria yang selalu Menatap Jalan

Oleh : Supriono ENTAH sejak kapan pria itu duduk di pos ronda. Aku memandanginya dari sudut jendela kamar rumahku, Ia sama sekali tak aneh. Wajahnya tak kumal tak pucat pula, Ia nampak  selalu memandangi jalan. Sesekali Ia hanya mengedipkan matanya yang tak memancarkan beban maupun harapan. Rumahku tak terlalu jauh dari pos ronda itu, hanya berapa belas langkah belaka. Sepanjang waktu luangku sesaat ku rebahkan diatas dipan kamarku. kupandang jendela kamarku yang selalu kubuka saat surya tak temaram. Tetapi lagi, Aku dapati pria itu terduduk di situ dan Ia masih selalu menatap ke arah jalan. Sesekali nampak Ia mengganti posisi duduknya, meluruskan kedua kakinya yang jenjang, sesekali mengayun-ayunkan kedua kakinya pula. Orang tuaku tak pernah memberi tahu siapa pria itu, tetapi aku e...
Kirana Candra I–Bias Panorama
SAJAK, SASTRA

Kirana Candra I–Bias Panorama

Oleh: Ari Mai Masturoh* Bisikannya semakin hari semakin kencang ku dengar gumam keresahan yang tak hentinya kau dengungkan. Perlahan kudekatkan telinga pada nurani. Dan terdengar hembusan lirih Kucoba menerka, Kau coba berkata, "Ketahuilah sayang, sinarnya tak seterang yang ditawarkan, berpura-pura menuntun dalam gelap, namun sejatinya kirana itu hanya pantulan." Lanjutmu "Kelihaiannya tak tertandingi. Dia bukan penipu. Sungguh bukan, namun dia membiarkan kunang tertipu, menganggap Ia lebih terang, namun, sejatinya kirana itu hanya pantulan." "Ketaatannya pada malam memang tak terbataskan Menembus selayang pandang, namun sejatinya kirana itu hanya pantulan." Lantas, aku bertanya "Tuan, makhluk seperti apakah dia?" Dengan santai kau menjawab, "Dia adalah Candra, Cand...
Elak
SAJAK, SASTRA

Elak

Oleh: Yenny Fitri Kumalasari I. Kutulis surat untuk laut Angin menghembusnya Kutulis pula pada pasir Ombak menggulungnya Lalu, kutulis padamu II. Denting jam dinding kurasaberhenti Angin malam laksana engganmenghampiri Dan dirimu, di balikPintu itu, memunggungi III. Baru saja kulihat pria menangisdi balik kopiahnya Dengan air kendi dan asap batangsembilan senti IV. Air tak pernah sekeruh ini,katanya Beriak kecil namun kontinu Ini aurora, meski berharapfatamorgana V. Hei, apakah kau melihat perempuan mati sore tadi? *Penulis adalah sedang mempelajari fisika di FMIPA Unsoed,Pemimpin Perusahaan LPM Sketsa. Tulisan ini sebelumnya telah dimuat di lpmsketsa.com, dimuat ulang di BU (beritaunsoed.com) agar tetap bisa diakses oleh pembaca. Portal berita lpmsketsa.com resmi b...
Selatan
SAJAK, SASTRA

Selatan

Oleh: Bernadeta Valentina* Ada lagi hari bersalam fiksi tumbang merata nyatanya kau masihberjibaku dalam seribu saturagu aku marah. Meski masih gaungriang tiada sadar taksatupun terang hanya bertelut disudut Selatan yang katanyalebih hangat mengikuti bumiyang limbung tapi dinginmengerat dan aku taktertolong hanya yang dinegeri lain kau jelas lugas lebih bernafas oh, hidup lebihluas kalau kau mautahu, air masih cair. Matahari masihterbakar meski tak sepanasmarahku cari saja pisau yang lebih tajam, agar jelas kau sengsara sudahlah sudah berlalu keSelatan sampai beku biru. Ada lagi hari cair lagi bersemi hingga tanah taknampak, siapa peduli? sudah berlalu keSelatan. *Penulis adalah mahasiswa ilmu kelautan FPIK Unsoed, staf Litbang Sketsa Tulisan ini sebelumn...
Neraka untuk Pinus
SAJAK, SASTRA

Neraka untuk Pinus

Oleh: Rachma Amalia Gadis berkebaya itu meraung Kesakitan hatinya sudah di ujung Daun kering itu menghampiri Neraka akan pindah ke Bumi Pohon pinus kesayangan Tubuh sang gadis menegang Bukan lagi sejuk di hati Panas itu membawanya mati Gemetar badan sang gadis Ia rindu temannya, pinus Malaikat akan bawa dia ke neraka Penyesalan gadis sia-sia Pinus sang penghias dunia Hangus membawanya ke neraka Terdengar isak suara merdu Mengantarnya pada rindu Tulisan ini sebelumnya telah dimuat di lpmsketsa.com, dimuat ulang di BU (beritaunsoed.com) agar tetap bisa diakses oleh pembaca. Portal berita lpmsketsa.com resmi beralih ke beritaunsoed.com
Oase
SAJAK, SASTRA

Oase

Oleh: Nurhidayat Nama itu, indah didengar, mengoase gurun kemungkaran Para pengelana muda,yang berapi-api, mudah menelan Para pemikir mulai meneran, memagari oase beracun Pengelana muda mulai melompat, bahkan mulai mendobrak Mengapa harus dipagari itu oase beracun? Kenapa tak saja kau nasihati saja para peminum? Memang, mereka sudah mabuk kesucian racun... Sudah terlalu lama mereka mencerna klerak, hingga nafas mereka berbuih. Nafas mereka wangi namun nyaris mati. Di sisi lain, ada kera menanam itu, dari ujung sisa Bukan untuk mencuci namun mengotori Bukan sesuai kebenaran yang diketahui kyai Bukan kebenaran yang dianggap benar oleh majalah kampus Sadarkan kami tentang aroma Jangan biarkan pemasok klerak dicela Karena penjara pun syurga, apa lagi mereka menjanjikan nafa...
TKI dalam Konotasi Kasar
SAJAK, SASTRA

TKI dalam Konotasi Kasar

Oleh: Soliah* Luasnya negeri ini, tak buatku mampu berdiri Ekonomi miring bonus desakan utang dikuping Apalah daya ketrampilan ditangan, apalah daya nasib menyambung pangan Semua pandang pendidikan, jadilah pergi kenegeri orang Ringantangan nan kejam sudah jadi bumbu mimpi, ku tahan demi sanak sodari Tapi..... Jikalauuang tak diberi, harus apakah diri yang lemah ini Sobeksudah tenunan harapan pulang Bumi disini tak lebih nyaman dari tanah airku Tak sehangat belaian keluargaku Pemerintahku, harus bagaimanakah daku Ketegasanmu mampu dibayar dengan amplop biru Bukankahaku pahlawan devisa? Dimanatimbal baliknya? Nampaknyahanya sebuah status saja Terimakasih Tuhanku yang maha kuasa *penulis adalah anggota magang LPM Sketsa 2015 Tulisan ini sebelumnya telah dimuat di lpmsket...
Kelesah
SAJAK, SASTRA

Kelesah

Oleh: Mustiyani Dewi K. Sayapku mulai lemah Kaki ku mulai lumpuh, Membeku dalam dimensi Ah,, Dimensi ini kian membelenggu Menghanyutkanku ke lembah ini Masih bisakah aku mengangkasa hanya dengan satu sayap ? Sedang satunya lagi, memar hampir teramputasi Terlalu berharap... Mengangkasa ?? Mengepakkan sayap saja aku kesakitan Aku mungkin lupa, sempat buyar dari gumpal otak Sadar,, Luka disayapku akibat dihantam badai semalam Dan tersembam ke lembah ini Ya,, dilembah gelap ini Saat tak ada lagi sinar menyusup Hanya dingin malam menusuk ruas tulang rusuk Lalu,, Dimensi mana lagi harus ku singgah?? Ketika luka mulai mengerakah, Asa yang dulu menjamah Kini hanya tinggal guratan Menjelma dalam citra mimpi-mimpi burukku Kini,, Dilembah ini Ku menunggu surya kembali ...