SASTRA

Rubrik sastrawi yang berisi rangkaian sajak dan cerita pendek (cerpen) pilihan redaksi LPM Sketsa

Rumsah dan Badri
CERPEN, SASTRA

Rumsah dan Badri

Oleh: Helmalia Putri Ilustrasi: Nilta Maya Shofa Di tangan Rumsah kerinduan itu tercekik, berkelindan dengan darah yang semerbak melukai lalat. Enam tahun sudah berlalu, Ia ikhlas bahwa kehidupan akan terus berlanjut meski Wanto tak bersamanya. Ia lega saat mencuci tangan di Stasiun Tapitra untuk membersihkan ceceran kenistaan ketika asmara kala itu membuatnya seperti sedang dikoyak kebodohan. Bagaimana tidak, Wanto menjadikannya pilihan hanya untuk mencari kebahagiaan bersama dengan wanita-wanita lain, sedangkan Rumsah menjadikan Wanto satu-satunya yang selalu bersemayam di ruang bahagia miliknya. Perjalanan yang cukup jauh untuk Rumsah yang cepat kehabisan energi. Ia memandang ke luar, rumput-rumput melambaikan kegembiraan turut merayakan akhir kegilaannya terhadap Wanto. Saat ...
Makhluk Tuhan Paling Sempurna
PANTUN, SASTRA

Makhluk Tuhan Paling Sempurna

Oleh: Desi Fitriani Ilustrasi: Sri Hari Yuni Rianti Pergi ke kota bertemu AnyaJalan bersama mencari makanAkulah manusia, katanyaPuncak tertinggi kehidupan Sore hari bermain bolaMalamnya dimarahi papaBanyak mau besar kepalaTak pernah sadar ia siapa Kucing lari berburu tikusSayur mayur dimakan kelinciMakhluk rakus selalu hausEgo pribadi adalah kunci Kayu lapuk terlalu rapuhHingga mengganggu terlalu bauTidak segan saling membunuhUntuk dapat segala yang dimau Jangan sedih, jangan meranaHingga hidup jadi sia-siaDasar makhluk paling sempurnaManusia yang tak seperti manusia Di kebun binatang ada jerapahLihat dari jauh supaya amanSering merusak tanpa bersalahHingga masa depan jadi ancaman Hasil bumi laku terjualDibayar tunai dengan harga mahalPercuma dianugerahkan akalJika...
Orang-Orang Terpilih
SAJAK, SASTRA

Orang-Orang Terpilih

Oleh: Adventia Natali D. S Ilustrasi: April Melani Orang-orang yang terpilih Kami melihat mereka seperti itu Hanya bermodalkan bualan Tapi kenapa kami percaya? Lihatlah mereka di kursi tertinggi Tak ada mata yang tertuju ke bawah Tak ada telinga yang mau mendengar Kami melaung sengsara disini Ratapan pilu di setiap waktu Rasa risau tak kunjung rampung Kemana janji mereka Dimana hati nurani mereka Sikap acuh kami terima Senjata selalu di depan Tatapan tajam selalu mengawasi Dimana kebebasan kami? Rasa sesal memenuhi dada Memilih perampok yang berdasi Kami ditindas orang sendiri Orang-orang terpilih
Hentakan Palu
CERPEN, SASTRA

Hentakan Palu

Oleh: Muhammad Driandra Elvanda Agassti Ilustrasi: April Melani *Cerita ini mengandung hal-hal yang mungkin akan membuat pembaca tidak nyaman Ella Silverline hanya seorang gadis desa dengan hati lembut ibarat kupu-kupu yang mendarat di atas daun yang rapuh, raut wajahnya membawa kebahagiaan bagai hasil panen yang mengisi neraca timbang secara utuh, dan pandangan mata yang dia miliki tampak sejuk bagai ternaungi pohon rindang yang teduh. Tidak ada masalah yang bisa diingat ketika manusia mendengar suara lembut yang keluar dari mulut mungilnya, dan tidak ada satu pun jiwa yang pernah tersakiti oleh tangan halusnya. Semua orang di desa menyapanya saat dia terlihat dari ujung mata mereka, Mereka akan menyempatkan diri untuk memberikan Ella beberapa barang yang mereka jual atau han...
Terbit Menjerit
SAJAK, SASTRA

Terbit Menjerit

Oleh: Triana Niken Ayu Ilustrasi: Sri Hari Yuni Rianti Pagi cerah kusambut Bulan berkah menyelimut Dengan hening tak kudengar Fatwa telah mekar Sepeda tua telah kukayuh jauh Meniti jalan berlubang uang Upah yang tak sebanding harga diri Tiada didengar keluh kesahku wahai pemimpin negeri Oh malangnya nasib sekawananku kini Bukan gaji buruh yang dicukupiTetapi egoisme oligarki yang dijunjung tinggiSungguh malang nasib kawananku iniFatwa terbit, aku menjerit Kemanakah mata batin parlemenInvestasi digenjot, lingkungan hidup terperosokJagat telah tersayatMenanggung nafsu insan bejatEsensi terus dicari, bumi pertiwi terus digaliYura terbit, alam menjerit Jika Tuhan ikut mengadiliNiscaya kalang kabut oligarki dan penguasa negeriMengapa neraka dititipkan di akhirat?Sementara pengh...
Rumah Kampung Halaman
SAJAK, SASTRA

Rumah Kampung Halaman

Oleh: Delima Saraswati Ari Trifiani Ilustrasi: Sri Hari Yuni Riyanti Menapak jejak di kota seberang Meninggalkan sejenak kampung halaman Berat, memang nyalar dirasakan Rindu, sudah pasti terejawantahkan Sendu memilu menepi syahdu Senyuman rindu di atas kalbu Diriku yang selalu menjadi benalu Ingin selintas menjadi sang ratu Ratu, tidak memerlukan tempat asa Hanya memandang rakyatnya dan bahagia bersama keluarga Ratu, tidak pula pergi kemana-mana Cukup duduk di atas takhta dan melihat suasana istana Berhasil terjebak, diriku dalam dunia fana Kufur nikmat dari pemberian-Nya Maaf Tuhan, diri ini hanya rindu Pada tempat berpulang nang pelik itu Bangunan tua, bersama penunggu yang renta Candu sekali senyumnya, hangat selalu dirasa Lelah datang sudah tak terhingga, namun rumah...
Hingga Purnama
SAJAK, SASTRA

Hingga Purnama

Oleh : Rizka Noviana Eka Mulyaningsih Ilustrasi: Sri Hari Yuni Riyanti Langit sepenuhnya hitam Bak tinta yang menetes dari kuas Mendarat di kertas kusam Beruntung tak di atas alinea Seberkas cahaya bersemi Sudah tiba, sang bulan sabit Biarpun bukan mentari Setidaknya harapan mulai terbit Merancang siasat matang-matangBahan bakar sudah terisi separuhBerlari secepat kilatBerlayar jauh melupakan penatMencari tempat berlabuh Tiba-tiba tersesat di buana utopisHaluan teralihkan kemudianJejak kaki mulai tak nampak lagiMuslihat menjadi teman Jiwa lemah yang beranjak bangkit Pendamba purnama nan anggun Serta para dayangnya yang jelitaSekarang kembali hilang arah *Penulis merupakan mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jenderal Soedirman
Mawar Maharani
SAJAK, SASTRA

Mawar Maharani

Oleh: Mar'atul Mu'ayadah Ilustrasi: Sri Hari Yuni Rianti Bunga cantik penuh duri Rupanya menggoda untuk dimiliki Harumnya semerbak mewangi Simbol kecantikan diri sejati Tangan putih bercampur dengan merah Erat menggenggam penuh darah Mata menutup ditumpukan melati Tubuh meringkuk semakin sembunyi Kilasan memori berdatangan Rasa sakit yang semakin tak tertahan Duri mawar yang semakin menusuk diri Mencoba mengalihkan perhatian sang putri Maharani pemimpin negeri Kini menangis sendiri sunyi Mawar yang menjadi gambaran keelokan diri Hancur terberai menjadi kelopak tak bertangkai Berat beban yang dia bawa sendiri Tak ada satupun yang memahami Hanya kelopak mawar menjadi saksi Jiwa yang mulai meninggalkan diri *Penulis adalah mahasiswa Fakult...
Belum Usai
SAJAK, SASTRA

Belum Usai

Oleh: Clara Diva Esperanza Ilustrasi: Nadya Salma Mulanya bergerak dalam keadaan senyap Bersembunyi dalam bayang-bayang gelap Beraksi dengan sedikit ketakutan Namun, yang pasti mereka lebih kuat untuk memeluk kebebasan Kepada setiap jiwa yang semakin berkobar Menuntut aksi yang semakin akbar Yang mulai melewati garis batasan Dengan memupuk gugusan pengorbanan Para pejuang reformasi Yang bersinar, tetapi dipaksa hilang Tanpa sempat menuai hasil adorasi Berupa negeri yang sedikit lebih lapang Pada negeri yang semakin lanjut Para pemimpin yang hanya berjanji-janji Namun, disini kami masih tetap menuntut asasi Berdiri tegak di gelap malam bersama lilin di tangan Tak pernah bosan mendesak bagimu keadilan *Penulis merupakan Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas ...
PETANI DI NEGERI AGRARI
SAJAK, SASTRA

PETANI DI NEGERI AGRARI

Oleh Alil Saputra* Ilustrasi: Amalia Rahmadani Ayam hitam ayam cemaniAyam mahal jangan dipukulMemang rajin para petaniPagi buta sudah mencangkul Ayam jago sudah berbunyiMaka Surya akan munculSayang betul si ibu taniJinjing rantang gendong bakul Anak ayam terinjak kakiUntung saja tidak matiPatuh-patuh anak petaniBisa prihatin dengan kondisi Anak ayam jatuh ke kaliBukannya diangkat malah digebukHarmonisnya keluarga petaniMakan bersama di bawah gubuk Ayam jago dibawa ke kotaDibawa bapak menggunakan sepedaTerlihat nikmat makanan merekaMeski hanya sambal terasi dan lauk peda Maling ayam jangan dihajarMending dibawa ke pengadilanDari mereka kita belajarYang sederhana lebih berkesan Induk ayam beli di AfrikaDibeli juga angsa dan dombaTerlihat semringah wajah merekaPadi me...