Oleh: Dina Fitria Salsabila
Di pelupuk matamu, euforia itu perlahan meluruh,
menjadi butiran keringat di atas diktat yang kaku.
Dulu, kampus adalah panggung di mana mimpimu riuh,
kini, ia adalah labirin sunyi tempat kau mencari pintu.
Kau terjepit di antara dua menara yang menuntut bakti,
yang satu meminta suara, yang lain meminta hati.
Kini, sebuah gerbang baru mulai mengetuk nurani,
menambah riuh di pundak merindu rindu sepi.
Dengung pesan adalah simfoni yang paling bising,
memaksa jemari merajai ruang di sela pening.
Antara mencari kebenaran dan pengabdian yang pusing,
rasanya kewarasan sedang menari di atas bening.
Ada harga yang harus dibayar untuk sebuah nama,
yakni waktu istirahat yang luruh demi kerja bersama.
Meski dianggap berbeda oleh kawan-kawan lama,
aku tahu, ini adalah jembatan menuju dewasa yang utama.
Di balik wajah tenang yang seringkali ingin sembunyi,
ada tanggung jawab yang tak mungkin dikhianati.
Meski raga letih dan sesekali ingin lekas menepi,
amanah-amanah ini adalah janji yang harus ditepati.
Biarkan lelah ini menjadi prasasti di lembar sejarah,
bahwa di titik ini, aku tak pernah memilih untuk menyerah.
Sebab puncak toga tak diberikan pada mereka yang kalah,
tapi pada jiwa yang tangguh meski langkahnya berdarah.
Editor: Artika Putri Kinanti








