Oleh: Helmalia Putri
Nuansa klasik dan autentik poster yang menghiasi lanskap gedung Bioskop Rajawali Purwokerto menyambut setiap penonton yang datang. Jika tidak memperhatikan dengan saksama, tidak ada yang akan mengira bahwa poster-poster yang dipajang di dinding atas gedung bioskop adalah hasil lukisan tangan.
Begitulah kekhasan yang terdapat di Bioskop Rajawali, Purwokerto. Sebuah kesederhanaan, keunikan, dan upaya pemberdayaan serta pelestarian dunia pelukis dan lukisan. Namun, yang menjadi lebih menarik simpati adalah, di tengah masifnya penggunaan Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan, Pak Parsan, sebagai pelukis poster-poster di Bioskop Rajawali tetap bertahan sampai sekarang. Sudah lebih dari tiga puluh tahun setiap torehan kuas yang ia mainkan mengisi lanskap gedung bioskop. Hasil torehan kuas tersebut mencuri perhatian setiap penonton yang datang, kemudian meninggalkan kesan yang mendalam.
Mungkin akan terdengar dan menjadi hal yang biasa ketika AI belum semasif di masa sekarang. Seorang pelukis, melukis, kemudian menghasilkan lukisan untuk memenuhi kebutuhan suatu industri. Namun, apa yang dikerjakan Pak Parsan kini, setiap goresan dan semangatnya menjadi sangat bermakna, mampu menarik orang-orang untuk melirik lebih jauh, bertanya, atau hanya sekadar penasaran sebab menjadi hal yang sudah semakin jarang ditemukan. Selain itu, lukisan yang dipajang di depan atas gedung bioskop itu sendiri menjadi ikon Bioskop Rajawali yang diketahui sudah berdiri sejak 1980 silam.
Memang tidak dapat dimungkiri, dengan kecerdasan buatan, hampir seluruh aspek kehidupan manusia saat ini dapat mengubah cara manusia bekerja. Mulai dari kehidupan sehari-hari hingga pekerjaan yang semula dikerjakan secara manual. Hal tersebut menjadi alternatif efisiensi dan cara bekerja. Dalam hal ini, khususnya untuk menghasilkan gambar, berbagai platform AI membuat proses yang sebelumnya memakan waktu lama secara manual kini bisa diselesaikan lebih efisien.
Penggunaan AI untuk menghasilkan gambar sendiri tidak memakan waktu yang cukup lama. Bahkan di beberapa platform yang digunakan untuk menghasilkan gambar AI dapat berlangsung hanya dalam hitungan detik. Hal tersebut menjadi salah satu perbedaan yang mendasar antara produksi gambar melalui sentuhan tangan dan pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan. Namun demikian, Pak Parsan sendiri yang secara manual melukis poster di Bioskop Rajawali hanya membutuhkan waktu sekitar 2-3 jam untuk menghasilkan satu poster film, bahkan hanya membutuhkan 1 jam jika yang dilukis adalah poster film horor. “Ya tergantung gambarnya. Kalo horor, ya, paling-paling satu jam selesai,” tutur Pak Parsan.
Dalam produksi poster film di Bioskop Rajawali, Pak Parsan hanya dibekali alas tripleks sebagai media lukis, cetakan gambar poster dalam kertas HVS, dan cat tembok murah yang dicampur dengan pigmen untuk memperkuat warna, sehingga hanya dalam waktu satu bulan pun poster tersebut bisa memudar. Lebih sederhana jika dibandingkan dengan poster hasil kecerdasan buatan yang lebih mencolok dari segi warna dan detail gambar. Meskipun begitu, poster-poster yang dihasilkan Pak Parsan tidak kalah bagusnya dengan hasil AI. Mulai dari detail gambar yang cukup terlihat jelas jika dilihat dari depan gedung, dan warna yang cukup terang pula meskipun hanya menggunakan cat tembok murah.
Wiwit, warga sekitar Bioskop Rajawali mengungkapkan pendapatnya mengenai poster hasil torehan Pak Parsan, “Kualitasnya, ya, kalo bagus sih cepet yang AI, kalo yang melukis manual lebih kreatif lah, lebih ada nilai nya sendiri” Menurutnya, gambar yang dihasilkan AI lebih cepat, yang artinya efisien, tetapi poster hasil lukisan tangan menurutnya lebih mempunyai nilai kreativitas tersendiri. Tidak hanya Wiwit, Athya dan Rara, mahasiswi Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) juga mengungkapkan hal serupa, “Kalo dari aku sendiri kalo poster pake AI itu kan udah pasti dia pembuatannya lebih cepet dan lebih rapi, ya, tapi kalo misal manual menurut aku lebih punya daya tarik tersendiri karena di situ ada kreativitas dari manusia.”
Di balik nilai kreativitas dan daya tarik tersendiri, dalam proses melukis, Pak parsan juga mengalami kesulitan jika dibandingkan dengan memanfaatkan kecerdasan buatan dalam menghasilkan gambar. Alat sederhana yang digunakan, hingga kesulitan jika terdapat model halus dalam poster, sebab media yang digunakan merupakan media kasar. “Kesulitan itu kalo ada gambar yang halus, itu kan model kasar,” ujar Pak Parsan. Namun, dalam hal ini, kesulitan yang dialami Pak Parsan menjadi hal yang langka di masa sekarang, kesulitan yang memiliki daya tarik tersendiri.
Begitulah eksistensi Pak Parsan dengan lukisan posternya yang menghiasi lanskap di Bioskop Rajawali. Terpampang nyata di tengah masifnya Artificial Intelligence (AI) yang merambah di kehidupan manusia, torehan kuas yang setia menjadi saksi ketika dunia dan teknologi berjalan dengan cepat. Kesetiaan, kesederhanaan, serta keunikan yang menjadi penyeimbang ketika salah satu aspek kehidupan berjalan dengan sangat cepat.
Reporter: Helmalia Putri, Monica Merlyna Puspitasari, Milly Rizkiyana Pratiwi, Zahwa Sabila Rusydah
Editor: Ryu Athallah Raihan






