Si Cantik Langit
Satu hari kamu biru
Kutatap indahmu yang syahdu itu
Awan berlagak bak perhiasan
Kian rupawan kamu dijadikan
Pertemuan yang Tak Dinantikan
Percakapan telah usai, meninggalkan dia seorang diri dengan senyuman hangat yang mendesak memenuhi seluruh penjuru ruangan. Ditatapnya pantulan dalam cermin itu. Dengan puas dia puji kesempurnaan yang sudah terencana dengan sangat matang. Tidak ada satu pun persiapan yang luput dari perhatiannya. Semua dia lakukan untuk terlihat sempurna pada pertemuan ini.
Berita Lama yang Tak Usang
Di langit yang menaungi kotaku, rembulan agaknya enggan bertukar peran dengan matahari sebab ia masih menampakkan diri walau samar. Matahari juga malu-malu muncul, mungkin ia sungkan karena harus menggeser posisi bulan sebagai penerang. Kendati malu-malu, hangatnya sinar matahari sudah menyapa daun-daun sebelah rumah, seolah-olah membisikkan sinyal bahwa hari ini langit akan biru dan semua akan menyenangkan. Aku mengaminkan di dalam hati. Mengudarakan amin untuk hal-hal baik yang mungkin hanya Tuhan yang mau dengar, selebihnya aku tidak berharap banyak tentang apa yang akan kuhadapi di hari yang menanti ini.
Rumsah dan Badri
Di tangan Rumsah kerinduan itu tercekik, berkelindan dengan darah yang semerbak melukai lalat. Enam tahun sudah berlalu, Ia ikhlas bahwa kehidupan akan terus berlanjut meski Wanto tak bersamanya. Ia lega saat mencuci tangan di Stasiun Tapitra untuk membersihkan ceceran kenistaan ketika asmara kala itu membuatnya seperti sedang dikoyak kebodohan. Bagaimana tidak, Wanto menjadikannya pilihan hanya untuk mencari kebahagiaan bersama dengan wanita-wanita lain, sedangkan Rumsah menjadikan Wanto satu-satunya yang selalu bersemayam di ruang bahagia miliknya.
Orang-Orang Terpilih
Oleh: Adventia Natali D. S Orang-orang yang terpilih Kami melihat mereka seperti itu Hanya bermodalkan bualan…
Hentakan Palu
Kenapa orang sejahat ini masih merengek-rengek untuk melanjutkan hidupnya? Bukankah kehidupan dua belas orang lain berakhir di tangannya sendiri? Kenapa dia masih bisa mengeluarkan gonggongan tidak masuk akal hanya untuk mengulur beberapa menit hidupnya? Kenapa dia masih bisa berbicara seperti tidak melakulan kesalahan apa-apa? Manusia macam apa yang masih mengatasnamakan keluarganya setelah mengambil anggota keluarga orang lain entah apapun alasannya?












